Semangat 212++

Ada begitu banyak umat Islam yang kaget sendiri dengan aksi 411 dan 212. “Ternyata kita bisa kumpul bareng, rame-rame. Ternyata kita bisa bersatu.” Semangat itu kini sedang coba dipelihara. Ibarat api yang sudah menyala besar, jangan sampai mengecil lagi. Maka berbagai upaya dilakukan. Salat subuh berjamaah, tabligh akbar di Pulau Pramuka, dan seterusnya.

Ya, 212 itu luar biasa. Kok ada ya, orang mau jalan kaki dari Ciamis ker Jakarta? Ini demi Islam, Saudara! Hebat.

Riak kecil dari acara 212 adalah soal Sari Roti. Roti itu kini diboikot, karena dianggap tidak mendukung atau tidak bersimpati pada perjuangan umat. Ini pun menimbulkan kesadaran tersendiri. “Kok umat Islam ini bikin roti aja nggak sanggup? Roti yang dimakan tiap hari aja mesti buatan kafir Jepang. Bagaimana ini?”

Jadi, mari kita bikin roti. Roti buatan muslim, jelas halal. Pekerja pembuat roti, muslim semua. Yang menjual juga muslim semua. Masak sih nggak bisa laku, di tengah negara dengan 200an juta muslim? OK, let’s do it! Nama rotinya Maida. Yang membuat Muhammadiyah.

Akankah roti ini sukses menjadi roti nasional? Nah, di sini kita perlu belajar. Di titik ini semangat 212 sepertinya tidak cukup. Perlu semangat 212++. Atau malah 212+++++++++. Bagaimana berpartisipasi dalam acara 212? Datang saja. Dari Ciamis jalan kaki pun, syaratnya satu, datang saja. Jalan kaki saja, tidak memerlukan pikiran yang panjang betul. Tidak perlu ilmu yang banyak. Waktunya pun, katakanlah 7 atau 10 hari saja.

Berjualan roti itu berbeda, Saudara. Ini termasuk bisnis ritel. Bisnis eceran. Apa kunci suksesnya? Kunci utamanya, barangnya ada. Lho, kan sudah ada ini? Bukan itu maksudnya. Ada itu artinya saat siapapun, di manapun, kapan pun, hendak membeli, barangnya ada.

Saya kebetulan pernah bekerja di grup perusahaan obat nyamuk. Presiden direktur perusahaan kami yakin barang yang kami buat itu bagus, kualitas tinggi, dan aman. Saya juga merasakannya. Setidaknya, baunya tidak membuat sesak napas. Tapi ada satu masalah besar. Barangnya tidak tersedia. Setiap saya mau beli di mini Indomaret atau Alfamart dekat rumah, tidak ada. Kalaupun ada, variannya terbatas. Hanya aerosol yang ada, tipe liquid tidak. Padahal saya butuh keduanya.

Saya telepon presiden direktur. “Bagaimana ini? Saya mau beli, tapi barangnya tidak ada.” Kata dia,”Maaf, kita tidak cukup modal untuk membuat barang sejumlah yang cukup untuk hadir di semua toko.”

Ini tembok besar yang harus dilewati oleh pebisnis yang mau bermain di bisnis barang konsumsi (consumer’s good). Ia harus sanggup membuat barang dalam jumlah besar, untuk menjamin ketersediaan. Sudah dibuat dalam jumlah besar, eh, ternyata tidak laku. Bangkrut dalam sekejap.

Lihatlah Sari Roti, atau Indomie. Ke manapu kita pergi, kita bisa temukan. Di kampung terpencil, di tepi hutan sekali pun, ada. Bisa bayangkan jaringan dan sistem distribusinya?

Itu semua tidak bisa dicapai dengan kerja 7 ata 10 hari seperti orang jalan kaki dari Ciamis ke Jakarta. Ini kerja besar, dengan modal besar, memerlukan banyak pikiran, dan perlu waktu lama. Jangan kira asal modal besar saja, dengan menjentikkan jari, semua bisa terlaksana.

Sari Roti ini mulai dijual tahun 1996. Sudah 20 tahun, ya. Saya ingat, tahun 1999, ketika sedang berlibur di rumah mertua di Setiabudi, Jakrta, saya pertama kali mendengar suara tet-tot bel sepeda penjual roti ini. Sejak itu setiap saya menginap di rumah mertua, saya mendengar suara ini. Suara yang menjadi begitu akrab di telinga, menjadi bagian dari kehidupan kita.

Sederhana? Sepertinya begitu. Tapi bagi yang paham bisnis ritel, ini kerja besar di bidang marketing dan logistik. Kerja besar itu dilanjutkan saat mini market mulai menjadi trend sejak 12 tahun yang lalu. Sari Roti masuk di setiap toko Alfamart dan Indomaret, membuatnya bisa dijangkau oleh siapa saja.

Nah, sanggupkah roti Maidah menjadi seperti itu? Dalam hal ini semangat bela Islam 212 saja sangat tidak cukup. Perlu modal besar, otak cerdas, kesabaran tinggi, oleh banyak orang. Seluruh hadirin 212 (istilah kerennya “Alumni 212”) berkumpul, berpikir bersama, bekerja keras dengan sabar selama 10 tahun, mungkin bisa mewujudkannya. Tapi mungkin itu pun belum cukup.

Itu baru urusan roti. Belum lagi urusan pendidikan, kesehatan, manufaktur, tekstil dan garmen, air bersih, tata kota, pariwisata, dan masih ada puluhan urusan lain. Ingatlah betapa, misalnya, umat Islam mengeluh soal Kristenisasi di jalur pendidikan, tapi tak berdaya membuat sekolah-sekolah berkualitas sebanyak yang dibuat oleh orang Kristen. Demikian pula halnya dengan rumah sakit.

Ini catatan kecil untuk mengingatkan bahwa aksi membela Islam itu adalah kerja yang jauh lebih besar dari aksi 212. Kalau Anda terperangah dengan aksi itu, maka mungkin Anda akan kena serangan jantung melihat skala kerja Sari Roti tadi.

Aksi 212 itu energinya adalah emosi. Umurnya tak panjang. Yang panjang umur itu komitmen. Nah, siapa yang punya komitmen untuk aksi 212+++++++++++?

Tarik napas, sruput kopi Anda, diiringi sepotong Sari Roti. Mari kita bekerja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *