Sayonara Nippon?

japanBerita-berita mutakhir menyatakan, perusahaan-perusahaan Jepang bergguguran, sementara perusahaan-perusahaan Korea menjadi bintang. Di sisi lain perusahan-perusahaan Cina juga tak mau kalah. Tak perlu tahu banyak soal ekonomi untuk merasakannya. Dalam hal gawai terlihat jelas, tak ada lagi merek Jepang di pasar dunia. Korea nomor satu, Cina nomor dua.

Yang terjadi saat ini sebenarnya sudah saya rasakan 20 tahun yang lalu, ketika mulai kuliah ke Jepang. Siapa yang kerja mati-matian di berbagai universitas dan lembaga riset Jepang? Strukturnya nyaris seragam. Ada profesor Jepang. Di belakangya ada associate professor, atau assistant profesor, orang Korea dan atau Cina. Lalu ada mahasiswa Jepang, Korea/Cina, dan mahasiswa dari negara lain. Orang Cina dan Korea terkenal sebagai pekerja ulet.

Orang-orang Cina dan Korea yang pergi belajar ke Jepang bukanlah para priyayi elit. Banyak yang pergi ke Jepang dengan modal dengkul. Mereka kuliah sambil kerja. Namanya paruh waktu, tapi hampir sepenuh waktu. Kuliah dan kerja nyaris menghabiskan waktu 24 jam mereka dalam sehari. Segala jenis pekerjaan mereka rela melakukan, termasuk yang bersinggungan dengan dunia abu-abu, bahkan dunia hitam.

Bagaimana dengan orang-orang Jepang? Meski tak kaya raya mereka adalah orang-orang mapan. Mungkin mereka sudah terbiasa melihat para orang tua mereka bekerja. Mereka nanti juga akan dapat kerja. Banyak perusahaan bisa menampung. Jadi, banyak yang bermalas-malasan.

Di universitas besar seperti Tohoku situasinya masih cukup baik. Banyak mahasiswa cerdas, dan cukup serius belajar, walaupun sudah jauh bila dibandingkan dengan mahasiswa Korea dan Cina. Di universitas kecil di daerah, situasinya sudah sangat parah. Mahasiswa kuliah asal-asalan, etos kerjanya sangat rendah.

Saya cukup lama membimbing mahasiswa, sejak saya masih kuliah doktoral, ditambah post doctoral selama 4 tahun. Mereka datang ke kampus lebih banyak untuk main internet atau game ketimbang belajar. Beberapa di antaranya malah sibuk berjudi, main pachinko.

Sensei saya dulu sering mengeluhkan para mahasiswanya. Sayangnya para profesor di Jepang tak lagi punya ruang memadai untuk ketegasan. Mahasiswa di bawah bimbingan sensei harus lulus saat akhir masa studinya. Kalau tidak lulus, sensei akan mendapat malu. Ada satu mahasiswa yang dulu saya bimbing, hanya sekali melakukan eksperimen. Kemudian ia menghilang, sampai menjelang kelulusan. Sensei waktu itu panik, lalu mencoba mencarinya. Akhirnya anak itu datang ke kampus, lalu dipaksakan untuk lulus dengan karya tulis memakai data milik temannya.

Di tahun 2000 saya mleihat sebuah acara TV NHK, tentang rekrutmen yang dilakukan oleh Sony di universitas Cina. Bayangkan, Sony, raksasa elektronik Jepang waktu itu, melakukan rekrutmen untuk riset mereka dari universitas Cina. Bagi saya itu adalah lonceng kematian industri elektronik Jepang.

Saya diskusikan acara itu dengan Sensei. Kami waktu itu berpendapat sama. Kata Sensei,”Jepang sekarang ini seperti pesawat yang terbang tinggi. Mesinnya sudah mati. Tinggal menunggu jatuhnya saja.” Saya waktu itu menganggap omongan Sensei itu agak berlebihan. Tapi dalam situasi sekarang saya rasakan bahwa omongan itu ada benarnya.

Tapi apakah ini berarti ekonomi Jepang akan hancur? Tidak mudah untuk mengatakan begitu. Ada banyak sektor lain di mana Jepang masih unggul. Di sektor advanced material, misalnya, perusahaan Jepang masih mendominasi. Demikian pula untuk industri lain seperti industri berat.

Lalu, apa yang bisa kita pelajari? Bagi saya kunci kemajuan suatu bangsa itu ada pada generasi muda. Saya tadi membahas anak muda Jepang yang sudah mulai menurun etos kerjanya. Tapi kali dibandingkan dengan anak muda kita, rasanya lebih buruk lagi. Jadi, Jepang bisa menurun, atau ambruk. Bagaimana dengan kita? Kita bisa ambruk lebih parah lagi. Karena itu, mahasiswa dan anak-anak muda adalah pusat kepedulian saya sekarang.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *