Saya tidak Punya Waktu

busy

Saya pernah bekerja dengan jadwal yang santai. Kantor saya dekat dengan rumah, dan jalan antara rumah dengan kantor pun tidak macet. Sementara itu beban kerja di kantor relatif tidak menyita waktu. Walhasil, saya punya banyak waktu untuk berinteraksi dengan anak-anak, mengajak mereka bermain, mendampingi mereka belajar, mengajari mereka banyak hal. Situasi ini memang kemewahan yang luar biasa.

Kemudian saya pindah kerja ke Jakarta. Semua orang tahu bahwa kemacetan adalah masalah besar di Jakarta. Saya sempat khawatir bahwa interaksi saya dengan anak-anak akan berkurang jauh. Sebelum mulai bekerja saya bertanya ke beberapa teman soal jam berapa mereka berangkat dan pulang. Banyak yang mengatakan harus berangkat pukul 5 pagi dan baru tiba kembali di rumah pukul 9 malam. Kapan ada waktu untuk anak-anak, pikir saya khawatir.

Ketika saya mulai menjalani pekerjaan baru, keadaan ternyata tak seburuk yang saya bayangkan. Saya memang harus berangkat pukul 5 pagi untuk menghindari kemacetan. Bagian ini tidak terlalu masalah, karena anak-anak saya pun harus berangkat ke sekolah jam 6. Pagi hari selama ini memang bukan waktu utama interaksi kami. Lalu bagaimana dengan malam hari? Setelah saya jalani, saya bisa mengatur untuk tib di rumah sekitar jam 7 malam. Jadi ada waktu 2-3 jam sehari untuk bersama anak-anak. Sedikit berkurang dibanding dengan waktu sebelum saya pindah kerja, tapi waktu yang pendek itu menjadi sangat berharga.

Saya mengatur untuk tiba di rumah secepat mungkin, itulah kuncinya. Ada teman yang baru meninggalkan kantor pukul 9 malam. Alasannya, enggan melewati kemacetan. Ia tiba di rumah saat anak-anak sudah tidur. Padahal rumahnya di dalam kota Jakarta, seharusnya ia bisa tiba di rumah lebih awal dari saya. Beda dia dengan saya adalah, dia tidak mengatur untuk tiba lebih awal.

Ada orang-orang yang tak punya hal sebaik saya. Berangkat jam 5 pagi pulang jam 9 malam adalah sesuatu yang tak bisa mereka ubah. Tapi mereka tentu punya waktu kosong di akhir pekan yang bisa dikhususkan untuk bersama anak-anak. Persoalannya sekali lagi adalah, apakah mereka memilih untuk bersama anak-anak atau tidak. Banyak orang yang memilih untuk mengisi akhir pekan dengan aktivitas hobi, berkumpul bersama teman, atau asyik sendiri, entah dengan kegiatan apa. Saya memilih hobi yang aktivitasnya bisa saya lakukan bersama anak-anak. Kalau saya memasak, anak-anak saya ajak. Kalau saya pergi memotret mereka juga ikut. Ketika saya ingin mencoba olah raga layar/selancar angina, mereka juga akan saya ajak.

Bahkan bagi orang-orang yang bekerja jauh dari rumah, hanya bisa pulang sesekali, ada banyak cara bisa ditempuh untuk bisa beriteraksi dengan anak-anak, membantu mereka belajar. Peralatan komunikasi yang berlimpah pada jaman kita saat ini nyaris memberi kitasegala kemungkinan.

Lalu bagaimana dengan orang-orang yang luar biasa sibuk sehingga sama sekali tidak mungkin menyisihkan waktu untuk anak-anak? Maka mereka perlu bertanya, untuk apa mereka punya anak. Bahkan perlu bertanya, untuk apa mereka hidup.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *