Sate Sapi

image

Makan sate bagiku  bukan sekedar kuliner. Ini adalah soal kenangan.

Dulu waktu kecil aku tinggal di kampung. Tentu tak ada orang jual sate di kampung. Dan hampir semua penduduk kampung tak tahu apa itu sate. Kampung kami terpencil,  terletak di sebuah pulau di pesisir selatan Kalimantan Barat. Untuk pergi ke kota kami harus menempuh perjalanan sehari penuh dengan kapal melewati laut dan sungai. Karenanya hanya segelintir orang kampung kami yang pernah ke kota.

Aku beruntung karena pergi ke kota bukan hal yang sangat sulit buatku. Emakku seorang pedagang kain. Ia menjajakan kain berkeliling kampung, juga ke kampung-kampung di sekitar kampung kami. Nah, Emak membeli barang dagangannya itu ke Pontianak, ibu kota provinsi kami. Hampir tiap bulan Emak ke Pontianak, membeli barang-barang lalu membawanya pulang ke kampung untuk dijual. Kalau aku kebetulan sedang libur sekolah, Emak mengajakku.

Segala sesuatu yang menyangkut urusan ke Pontianak itu sungguh menyenangkan. Dari kampung biasanya kami naik kapal motor, kami menyebutnya motor tambang. Kapal kecil, khusus untuk menuju ke kota kecamatan, Baru Ampar. Pagi-pagi biasanya kami berangkat, sejam kemudian tiba di tujuan. Di Batu Ampar sudah menunggu motor tambang yang lebih besar, menuju Pontianak. Suara mesinnya bergemuruh memekakkan telinga. Sepanjang jalan kita harus mendengar suara itu. Tapi tak apa, karena kemudian kita akan terbiasa.

Perjalanan dari Batu Ampar melewati pemandangan yang tak pernah jemu aku pandang. Laut kecil dengan deretan hutan bakau dan nipah, diselingi dengan pabrik penggergajian kayu, juga rumah-rumah nelayan. Di tempat-tempat tertentu akan ada jermal, tempat orang menangkap ikan. Lalu nanti pemandangan akan sedikit berubah saat kapal masuk ke kawasan anak sungai kapuas. Tak ada laut, hanya sungai yang lebarnya hanya beberapa puluh meter. Sepanjang jalan aku sebenarnya lebih suka duduk di kap motor. Tapi Emak selalu melarangku. Bahaya, katanya. Ya, memang ada beberapa kejadian orang terjatuh dari kap motor dan mati tenggelam.

Petang biasanya kami sampai di Pontianak. Dan esok paginya Emak akan mengajakku ke pasar untuk belanja. Naik oplet pagi-pagi kami menuju toko langganan Emak. Dan saat Emak memilih belanja, aku duduk sendiri. Aku suka memperhatikan orang-orang di sekitarku. Ada penjual jam tangan yang menjajakan dagangannya berkeliling pasar. Ada juga pembeli perhiasan emas yang selalu mencegat orang lalu lalang dengan pertanyaan, “Mau jual emas?” Juga ada penjual makanan.

Tengah hari, Emak akan mengajakku pergi makan. Dan aku paling sering minta sate. Bau sate yang dibakar selalu menggoda. Demikian juga ketupat yang digantung di gerobak penjualnya. Makan sate, berdua dengan Emak, sesekali Ayah juga ikut, adalah kenangan yang tak pernah bisa aku lupakan.

Kelak setelah dewasa baru aku tahu bahwa sate kami, sate Pontianak itu berbeda dengan sate jenis lain. Dagingnya bukan kambing atau ayam, tapi sapi. Bumbu utamanya adalah kacang tanah, gula merah, dan kecap manis. Dihidangkan dengan irisan ketupat, sedikit dituangi kuah kaldu sapi. Tak pernah aku temukan sate macam itu di tempat lain. Belakangan aku menemukan sate maranggi, khas Purwakarta. Meski cara menghidangkannya berbeda, rasanya mirip dengan sate Pontianak.

Kerinduan pada Emak dan kenangan makan sate bersama dia membuat aku mencoba mengarang sendiri resep sate yang dulu pernah aku makan. Hasilnya enak. Tak persis benar seperti sate yang pernah aku makan dulu. Terlebih karena tak pakai ketupat dan kuah kaldu. Tapi enak dan berbeda dengan sate jenis lain.

Bahan
Daging sapi has dalam, 700 gram
1 jeruk nipis
50 gram kacang tanah
50 gram gula jawa
2-3 cabe merah keriting
Kecap manis
3-4 buah bawang merah
2-3 buah bawang putih
1/2 sendok teh merica
Bawang goreng

Memasak
1. Potong daging sapi kecil-kecil, kira-kira sebesar 1 senti.
2. Cincang bawang putih dan bawang merah sampai agak halus, campurkan dengan potongan daging sapi, tambahi dengan merica,  kecap manis, dan air jeruk nipis.
3. Buat bumbu sate dengan menggiling kacang tanah yang sudah digoreng, gula merah, cabe merah, dan satu sendok makan bawang goreng. Bila sudah halus tambahkan 1-2 sendok makan kecap manis dan 1/2 sendok teh perasan air jeruk setengah.
4. Tambahkan 1-2 sendok makan bumbu giling ke daging, dan diamkan selama 1-2 jam.
5. Tusuk daging dengan tusuk sate, dan bakar di atas arang/kompor, sambil dibalik-balik sampai matang.
6. Lumuri sate yang sudah matang dengan bumbu hingga rata, tata di atas piring lalu tambahkan lagi bumbu di atas sate dan taburi dengan bawang goreng.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *