Sanusi tak Sendiri

4 April 2016 0 Comments

Percayakah Anda bahwa korupsi yang terbongkar ini adalah sesuatu yang baru bagi Sanusi? Saya tidak. Maaf, mungkin saya telah melampaui prinsip praduga tak bersalah, biar saja. Tapi orang ini memang tidak punya hal lain selain korupsi untuk memperkaya diri. Abangnya dulu juga pernah korupsi dan masuk penjara. Entah bagaimana ceritanya Taufik bisa jadi Ketua DPRD. Sepertinya Sanusi cuma melanjutkan “tradisi keluarga”, yaitu korupsi.
 
Percayakah Anda bahwa Sanusi bekerja sendiri? Saya tidak. Ini urusannya adalah mengubah ketetapan yang dibuat Ahok soal kompensasi reklamasi dari 15% menjadi 5% saja. Sanusia sendiri saja tidak bisa melakukannya. Ini harus dilakukan berjamaah. Dalam hal ini Sanusi mungkin cuma perwakilan atau pemimpinnya. Pasti ada lebih banyak orang yang terlibat.
 
Beginilah Ahok. Ia dikelilingi oleh manusia-manusia korup, baik di DPRD maupun di dalam pemda sendiri. Orang-orang ini sudah begitu lama menggerogoti uang rakyat dalam berbagai program pemerintah DKI. Di masa lalu orang-orang ini aman dan tentram. Gubernur tidak mengusik mereka. Mengapa? Gubernur juga memainkan tarian yang sama. Jadi yang terjadi adalah sesama tikus bersinergi untuk berpesta. Yang mereka lakukan cukup berbagi. Berbagi jatah atau wilayah. Pokoknya, sesama tikus jangan sampai saling memangsa.
 
Tikus-tikus pun tak satu jenisnya, tentu saja. Yang disebut di atas adalah tikus-tukus pemerintah. Tikus-tikus swasta juga bermain. Contohnya adalah Agung Podomoro itu. Kasusnya sama saja di mana-mana. Kita lihat ada begitu banyak lahan beralih fungsi dan berpindah tangan. Ini hasil kerja tikus pemerintah dan swasta.
 
Kawasan Senayan itu adalah kawasan korup semua. Mulai dari hotel, mal, apartemen, dan semua yang berdiri di sana adalah hasil pencurian berjamaah. Kawasan itu tadinya diperuntukkan untuk hutan kota, daerah resapan air. Berkat nepotisme dan korupsi di zaman Soeharto, kawasan itu beralih fungsi.
 
Tikus pemerintah seperti Sanusi itu rela menjual negara dan hak-hak rakyat untuk memperkaya diri. Ia mungkin dapat uang 1-2 milyar. Ia tidak peduli bahwa yang membayarnya akan mendapat ratusan bahkan ribuan milyar. Bagi tikus seperti Sanusi, itu tak penting. Yang penting ia bisa menikmati hidup, seperti makan lobster kesukaan abangnya.
 
Yang dilakukan Ahok bukan sekedar bekerja sebagai gubernur untuk membangun Jakarta saja. Ahok mempersempit ruang gerak tikus-tikus. Lorong-lorong gelap tempat mereka bersarang kini berada di bawah sorot lampu terang benderang. Ruang gerak mereka semakin sempit. Tapi tikus tetaplah tikus. Mereka tak bisa berubah menjadi kelinci. Jadi, meski sudah disorot lampu, mereka tetap hendak mencuri. Seperti itulah Sanusi.
 
Jadi perjuangan Ahok bukan sekedar soal bagaimana menjadi gubernur kembali. Ini adalah soal meletakkan suatu rumah contoh yang bebas korupsi, persis di tengah jantung, pusat denyut nadi Indonesia. Kalau Jakarta bisa menjadi rumah besar yang tidak ramah pada tikus, maka rumah-rumah lain akan tumbuh di seluruh muka bumi Indonesia.
 
Yang menyedihkan, masih banyak kekuatan-kekuatan Islam yang berseberangan dengan gerakan ini. Islam yang seharusnya menjadi pelopor gerakan anti-korupsi, malah seakan bersikukuh untuk melestarikannya. Ada apa dengan kalian wahai umat Islam?
 
Kalian tak rela non-muslim menjadi pemimpin? Tapi kenapa selama ini kalian biarkan saja muslim-muslim korup menjadi pemimpin? Mengapa tak muncul dari kalangan kalian tokoh pemimpin DKI yang anti korupsi? Mengapa yang muncul dari kalangan muslim di DKI adalah orang seperti Taufik dan Sanusi?
 
Bagi saya pilihan saya jelas. Saya hanya ingin pemimpin yang berjuang melawan korupsi. Apapun agama dia, tak penting.
 
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *