Ralitas Bumi Datar

Ada sebuah buku berjudul “Matahari Mengelilingi Bumi”. Buku ini menjabarkan pandangan sekelompok orang tentang sistem tata surya, berbasis pada kitab suci yang mereka anut. Menurut pandangan mereka, bukan bumi yang berputar pada porosnya serta berevolusi mengelilingi matahari, melainkan mataharilah yang beredar mengelilingi bumi.

Demikian pula, ada sejumlah orang yang kukuh pada pandangan, bahwa bumi ini datar, bukan bulat seperti bola.

Benarkah kitab suci menuliskan hal itu? Ya. Sejauh yang sudah saya baca, seperti itulah isinya. Bumi ini terhampar, matahari bergerak, menyebabkan terjadinya siang dan malam. Seperti itulah yang tertulis

Ada sekelompok orang yang keberatan terjadap cara pandang seperti ini. Kata mereka, tidak tegas tertulis bahwa bumi ini datat, atau matahari bergerak. Mereka bahkan mencari-cari dan menemukan ayat yang mengatakan bahwa bumi itu bulat.

Orang-orang ini sebenarnya tidak sedang menafsir teks kitab suci mereka. Mereka sedang mencocokkan narasi kitab suci dengan pengetahuan mereka. Bagi saya sederhana saja. Kalau memang benar ada pernyataan dalam kitab suci bahwa bumi ini bulat, tentu manusia tidak perlu menunggu sampai abad pertengahan untuk sadar bahwa bumi ini bulat. Juga tidak perlu menunggu lama untuk paham bahwa matahari tidak mengelilingi bumi.

Kata mereka, itu karena narasi di kitab suci itu memang tersamar. Lho, bukankah ini kitab petunjuk? Kalau manusia tidak bisa menangkap pesan bahwa bumi ini bulat dari kitab suci, sampai ia menemukan informasinya dari sumber lain, maka kitab suci ini gagal memberi petunjuk pada manusia. Pesannya tidak jelas menyatakan bahwa bumi ini bulat. Pesan yang lebih jelas adalah bahwa bumi ini datar.

Lalu, kalau kitab suci mengatakan bahwa bumi ini datar, matahari mengelilingi bumi, apakah berarti bahwa kitab suci itu salah? Soal ini kita harus hati-hati. Benar-salah itu maknya sangat beragam. Kebenaran sangat sulit untuk didefinisikan. Jadi sebaiknya kita tidak memakai istilah benar-salah.

Saya lebih suka memakai istilah sesuai realitas dan tidak sesuai realitas. Apa itu realitas? Itu adalah keadaan di depan kita, yang bisa kita tangkap dengan panca indera, secara langsung, maupun dengan alat bantu. Kemudian dari yang kita tangkap itu kita bangun sebuah model.

Bagi orang zaman dulu, bumi datar itu adalah realitas. Mereka hanya sanggup melihat bumi dari permukaan bumi. Dari situ bumi memang terlihat datar. Demikian pula, sehari-hari mereka melihat bahwa bumi ini diam, dan matahari bergerak. Itulah realitas bagi manusia yang hidup beberapa abad yang lalu.

Sesuaikah narasi kitab suci dengan realitas? Ya, sesuai dengan realitas saat kitab suci itu dinarasikan. Di masa itu memang seperti itulah realitasnya. Jadi, memang cocok.

Tapi kan tidak cocok dengan realitas sekarang. Ya, tidak cocok. Kalau begitu, kitab suci itu salah, dong. Ingat, realitas itu tidak sama dengan kebenaran. Relitas itu berkembang. Sekarang kita memahami tata surya seperti ini, galaksi seperti ini. Seratus tahun lagi, manusia akan menemukan fakta-fakta baru, pemahaman mereka akan berubah lagi. Realitas selalu berubah.

Kalau kitab suci tidak sesuai dengan realitas sekarang, terima saja. Mustahil ada teks yang selalu cocok dengan realitas. Sekali lagi, mustahil, karena realitas selalu berubah, sedangkan narasi teks bersifat tetap. Bagaimana mungkin sesuatu yang tetap bisa selalu cocok dengan sesuatu yang terus berubah? Satu-satunya jalan adalah dengan melakukan pencocokan.

Kenapa orang sampai perlu melakukan pencocokan? Mereka sedang mencoba mengingkari bahwa kitab suci itu sedang berbicara pada orang-orang yang hidup pada masa ketika kitab suci itu dinarasikan. Sikap ini sungguh konyol.

Dalam menafsir, juga merumuskan hukum, jelas sekali orang melakukan transformasi teks. Ketika disebutkan sesuatu, itu merujuk pada sesuatu di zaman itu, di tempat itu. Ketika disebut gandum, misalnya, maksudnya adalah makanan pokok di situ, pada zaman itu. Untuk kita di sini pada zaman ini, narasi itu bisa kita ubah maknanya menjadi beras. Karena narasi itu sedang bicara pada orang di zaman itu, di tempat itu.

Tapi ketika bicara soal-soal begini, masih saja ada orang yang memaksakan, mesti cocok. Maka mereka melakukan pencocokan secara konyol.

Kotab suci memang bicara pada manusia yang sedang hidup pada zaman ketika ia dinarasikan. Bahkan kadang ia bicara dalam konteks yang sangat lokal, tentang suatu peristiwa. Di zaman itu seorang laki-laki boleh punya istri banyak. Bahkan boleh pula memelihara budak dan menidurinya. Karena itu narasi kitab suci hampir tidak pernah menyebut “istrimu” dalam bentuk tunggal, melainkan dalam bentuk jamak.

Masalahnya, kita tidak konsisten untuk mengakui bahwa narasi kitab suci itu sedang berbicara pada manusia masa lalu. Kita paksakan bahwa maknanya selalu abadi, bahkan universal. Bagi saya, tidak ada yang abadi. Karena, seperti realitas tadi, tata cara hidup kita juga terus berubah.

Kita harus legowo mengakui bahwa realitas yang digambarkan dalam kitab suci itu sudah usang, berbeda dengan realitas sekarang. Demikian pula, hukum-hukum yang diajarkannya, banyak yang sudah tidak sesuai lagi dengan kebutuhan kita. Bagi saya, itu pun layak kita tinggalkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *