Qalb, Kok Jadi Hati?

Kalau kita perhatikan Quran terjemahan bahasa Indonesia, ada suatu hal yang menarik. Kata “qalb” jamaknya “quluub” yang dalam bahasa Arab bermakna jantung (heart dalam bahasa Inggris), diterjemahkan menjadi “hati” dalam bahasa Indonesia. Nah, apa basis berpikirnya hingga diterjemahkan begitu?

Saya menemukan paper yang ditulis Poppy Siahaan, yang merupakan bagian dari buku berjudul “Culture, body, and language: Conceptualizations of internal body organs across cultures and languages”. Dalam paper itu penulisnya menjelaskan bahwa kata “hati” dalam berbagai ungkapan bahasa Indonesia yang mewakili makna jiwa, keinginan, dan akal, berasal dari konsep animisme yang mempercayai bahwa tempat kedudukan jiwa atau ruh dalam tubuh manusia adalah hati atau liver. Persepsi ini sudah tumbuh sebelum agama-agama dari luar, baik samawi (semitic) maupun bukan, masuk ke Indonesia.

Sementara itu, di belahan lain dunia orang Mesir kuno percaya bahwa tempat kedudukan jiwa manusia ada di jantung. Konsep ini mempengaruhi budaya Semit yang melahirkan 3 agama besar dunia, yaitu Yahudi, Kristen, dan Islam. Tidak heran bila ekspresi yang sama soal perasaan, pikiran, dan jiwa diwakili dengan kata qalb atau jantung. Di dalam Quran jelas disebutkan bahwa manusia berpikir dengan qalb (jantung), dalam konteks pujian kepada yang menggunakannya (22:46), maupun celaan kepada yang tidak menggunakannya (7:179).

Dalam konteks budaya Indonesia, seperti diungkapkan di atas, hati dipercaya sebagai pusat jiwa, pikiran, dan kehendak manusia. Apakah Quran secara “serius” menganggap jantung (qalb) sebagai organ yang mengendalikan pikiran dan tindakan manusia? Ayat 7:179 berbunyi: Mereka punya mata tapi tak (digunakan untuk) melihat, punya telinga tapi tak (digunakan untuk) mendengar, dan punya hati tapi (tak digunakan untuk) berakal. Kita ketahui bersama bahwa mata dan telinga adalah organ dalam konteks kegiatan melihat dan mendengar. Penempatan jantung dalam konteks seperti ini menyiratkan bahwa jantung dalam hal ini adalah dalam pengertian organ. Hanya saja perlu dicatat bahwa melihat dan mendengar dalam kalimat ini juga simbolik sifatnya.

Yang lebih tegas adalah keterangan nabi soal masa kecilnya. Waktu masih dalam asuhan Halimah, menurut sebuah hadist, nabi pernah didatangi oleh malaikat Jibril. Jibril memangkap beliau, menidurkan, lalu membedah dadanya, mengeluarkan jantungnya untuk dibersihkan dari berbagai penyakit. Ini membebaskan beliau dari penyakit-penyakit perilaku atau penyakit mental. Sekali lagi teks ini mengindikasikan jantung sebagai organ dianggap sebagai pusat kendali pikiran dan tindakan manusia.

Namun perlu dicatat bahwa dalam berbagai pembahasan para ulama tidak membahas sifat organ fisik qalb. Al-Ghazali misalnya, hanya sepintas menyebut qalb sebagai organ yang berada di dalam dada, kemudian dalam berbagai pembahasan selanjutnya pembahasan soal qalb lebih berfokus dari aspek non-materi. Ada pula ulama yang membagi dua aspek pikiran manusia, yang bersifat rasional diproses dalam otak, sedangkan yang non-rasional diproses di dalam qalb.

Jadi, bagaimana kesimpulannya? Dalam hal penerjemahan qalb menjadi hati kita bisa simpulkan bahwa ini adalah sisa pengertian masa lalu soal peran organ. Orang tak lagi benar-benar menganggap hati adalah organ tempat kedudukan jiwa manusia, tempat akal diproses. Melainkan ia adalah simbol saja dari pikiran manusia. Karena itu pemaknaan qalb tidak dihubungkan dengan makna kamusnya, tapi dibelokkan secara simbolis menjadi hati.

Tapi pemaknaan ini punya konsekuensi. Kalau qalb ternyata boleh tidak dimaknai secara leksikal, artinya ia bukan organ, padahal saat mengatakan “Ketakwaan itu letaknya di sini” nabi menunjuk ke dadanya, apakah makna kata lain seperti neraka, surga, malaikat, dan sebagainya boleh kita maknai pula secara simbolik? Bahwa semua terminlogi itu tidak otomatis wujud secara nyata?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *