Punya Mobil di Jepang

punyaFoto ini adalah screen shot dari street-view Google Map, saya ambil secara acak di daerah Setagaya-ku, salah satu daerah perumahan di pusat kota Tokyo. Kalau Anda lakukan “perjalanan” dengan street view, Anda akan temukan bahwa di rumah-rumah orang punya garasi dan punya mobil. Lalu ada pula tanah-tanah kosong yang disewakan sebagai tempat parkir bagi orang yang rumahnya tidak punya garasi. Tegasnya, di kota besar pun orang punya mobil. Jadi tidak benar bahwa punya mobil di Jepang adalah ciri khas orang kampung. Sebenarnya lebih tepat bila dikatakan bahwa di kampung pun orang punya mobil.

Saya dulu tinggal di 2 kota, yaitu Kumamoto dan Sendai. Keduanya ibukota prefecture (setara provinsi). Kumamoto adalah kota yang relatif kecil, tapi Sendai adalah kota terbesar di wilayah Tohoku (wilayah utara Pulau Honshu). Di kedua tempat itu saya punya mobil. Di kedua kota itu orang-orang biasa punya mobil.

Angka penjualan mobil di Jepang setahun adalah sekitar 5 juta unit (2015). Jumlah produksi mobil setahun di Indonesia sekitar 1 juta unit saja. Jadi angka penjualan di Jepang kira-kira 5 kali lebih besar, padahal penduduknya hanya separo dibandingkan dengan Indonesia. Dari angka ini pun kita bisa membayangkan bahwa orang-orang kota di Jepang pasti punya mobil. Kalau tidak, tak mungkin tercapai angka penjualan 5 juta unit tadi.

Harga mobil di Jepang relatif murah dibandingkan dengan di Indonesia, karena merupakan produksi dalam negeri. Toyota Alphard misalnya, dapat dibeli dengan harga sekitar Rp 350 juta. Tentu saja ada varian yang mahal yang harganya mencapai 1,6 milyar. Nissan Serena dijual dalam kisaran 280-350 juta. Lalu ada mobil-mobil bertipe city car, yang bisa dibeli dengan harga sekitar 100 juta rupiah.

Harga mobil bekas jauh lebih murah. Mobil yang sudah dipakai setahun harganya bisa merosot sampai 30 persen dari harga baru. Mobil yang sudah menempuh 100 ribu kilometer sudah dianggap barang rongsokan. Saya pernah membeli city car bekas dengan harga 5 juta rupiah. Lalu pernah pula mendapat mobil yang umurnya belum ada 10 tahun, secara gratis. Saya hanya perlu membayar biaya kir sekitar 2 juta rupiah.

Jalan raya di kota-kota besar seperti Tokyo, Osaka, Kobe, dan Yokohama, selalu macet. Karena itu naik mobil memang bukan pilihan yang baik. Untungnya kota-kota ini dilengkapi dengan sarana transportasi massal, yaitu kereta api, kereta bawah tanah, dan monorel. Itu masih ditambah lagi dengan bis kota yang biasanya dipakai untuk menjangkau daerah yang lebih pelosok. Di kota-kota besar, orang lebih banyak menggunakan angkutan umum.

Tapi kenapa mereka masih punya mobil? Karena mobil tetap diperlukan. Ibu-ibu rumah tangga banyak menggunakan mobil untuk keperluan berbelanja, dan aktivitas keseharian, dalam wilayah pemukiman. Di akhir pekan mobil dipakai, saat jalan relatif tidak macet.

Ada beberapa biaya tambahan yang diperlukan bagi pemilik mobil. Pertama, asuransi. Setiap mobil wajib diasuransikan. Asuransi ini bukan untuk membiayai kerusakan mobil kita, melainkan untuk mobil lawan kita saat terjadi kecelakaan. Pertanggungan asuransi wajib ini biasanya tidak besar, sehingga umumnya orang menambah lagi asuransi lain. Bila ingin ada pertanggungan untuk mobil kita sendiri, maka diperlukan tambahan premi lagi.

Untuk bisa membeli mobil orang harus membuktikan bahwa ia punya garasi. Bila tidak, ia wajib menyewa tempat parkir. Di wilayah perumahan ada tanah-tanah kosong yang disewakan sebagai tempat parkir. Biaya sewa bervariasi tergantung ukuran kota dan posisi tempat itu di dalam kota. Semakin ramai semakin mahal. Di tengah kota seperti Tokyo sewa tempat parkir bisa mencapai 4-5 juta sebulan. Di kota kecil harganya hanya sekitar 700 ribu per bulan.

Di kota-kota yang lebih kecil seperti Nagoya, Sendai, Fukuoka, memakai mobil untuk sarana angkutan utama bagi keluarga menjadi lebih umum ketimbang kota-kota besar. Jalan raya tidak terlalu macet, sementara pilihan angkutan umum juga tidak banyak. Di kota-kota ini cukup lumrah orang punya 2 mobil, satu untuk bapak pergi kerja, dan satu lagi dipakai ibu untuk keperluan rumah tangga.

Waktu tinggal di Kumamoto, karena kampus tempat saya bekerja dekat rumah, saya pergi kerja naik sepeda. Mobil biasanya dipakai di akhir pekan saja. Tapi waktu bekerja di Sendai saya pergi bekerja dengan mobil.

Bila kita pergi belanja ke pusat kota, biaya parkir sekitar 10 ribu rupiah per jam. Di kota besar biayanya bisa 4 kali lipat dari itu. Maka kalau belanja ke pusat kota saya biasanya lebih suka naik bis. Tapi ada banyak tempat belanja di pinggir kota yang menyediakan tempat parkir dengan biaya murah, bahkan gratis. EON Mal yang sekarang mulai masuk ke Indonesia adalah mal pinggir kota yang menyediakan tempat parkir gratis.

 

6 thoughts on “Punya Mobil di Jepang”

  1. Akhirnya ketemu tulisan yang mencerahkan tentang mobil di Jepang karena beberapa hari ini beranda FB saya sering silih berganti tentang punya mobil di Jepang, orang kampung. Karena saya berpikir, masa iya sampai begitunya dan akhirnya terjawab ceritanya. Terima kasih Mas 😀

  2. Menurut saya,itu hanyalah mindset dari org jepang..kepemilikan mobil tiada menjadi larangan,namun penggunaan itu sendiri yg menjadi utama dalam segi mobilitas..jika org jepang mengatakan itu,maka dlm mindset mreka kalau g bner2 prlu,knp harus pakai mobil.sehingga pertimbangan2 seperti itu yg dhrapkan mampu mengurangi pnggunaan kend pribadi dan beralih pada alternatif moda yg lain..seperti di eropa,mobil dan rumah bukan menjadi satu kebanggaan atau prestise,krn bagi mreka pertimbangan2 beli rumah dan mobil itu repot dan mereka ga mau mnghabiskan semua hanya utk mobil,karena alternatif yg lebih sehat ada..pemikiran2 sperti itu yg dperlukan utk mendukung transportasi berkelanjutan..tentu harus didukung public transport system yg bagus..

  3. Yg menulis org jepang punya mobil adalah org kampung mungkin tidak begitu paham dengan kondisi di jepang dan hanya menggunakan logika dangkal seperti : di jepang ada transportasi berupa kereta baik itu kereta cepat maupun kereta biasa,jalanan sempit,lahan di jepang sedikit karena pulaunya kecil dibandingkan negara lain,dll. Padahal seperti dalam tulisan ini tidak semua transportasi menjangkau daerah pedesaan sehingga perlu mobil. Satu lg anak muda di jepang gemar dengan otomotif scene modifikasi mobil jepang banyak di gemari oleh pecinta mobil jepang karena itu lahirnya aliran modifikasi seperti JDM (Japan Domestic Market),atau Liberty Walk,Rocket Bunny,dll. Dan film seperti initial D adalah berdasarkan scene balapan liar atau lebih tepatnya drifting di jepang yg memang ada.

  4. menurut orang jepang yg penghasilannya Yen

    apa biaya lain2 utk memiliki mobil seperti asuransi, sewa parkir dll itu terasa mahal atau murah atau biasa aja ya pak penulis ?

    kalau kita yg penghasilannya rupiah ya besar juga

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *