Puasa, Pengejawantahan Tauhid

Kalimah Tauhid itu dimulai dengan negasi. Laaa. Tidak. Orang yang bersyahadat dihadapkan pada banyak pilihan, termasuk dalam hal bertuhan. Ada ribuan Tuhan yang disembah manusia. Tapi terhadap semua itu yang dia katakan adalah “laa”. Tidak, mereka bukan Tuhan saya.
 
Syahadat adalah sebuah pilihan sadar. Sadar bahwa kita punya pilihan lai, tapi kita menetapkan pilihan kita sendiri, tanpa keraguan, tanpa ketakutan. Laa ilaaha illa Allah. Tiada Tuhan selain Allah.
 
Pilihan untuk bersyahadat itu membawa konsekuensi. Makna sosialnya adalah pilihan soal jalan hidup. Ada begitu banyak jalan hidup yang bisa ditempuh, namun saya memilih jalan hidup seorang muslim yang bertauhid. Ada banyak jalan untuk mencari rezeki, tapi saya memilih jalan rezeki yang halal dan diridhai Allah. Begitulah seterusnya.
 
Hidup adalah soal membuat pilihan. Kita memilih jalan yang kita sukai, dan kita bertanggung jawab atas pilihan itu. Kita tidak bisa menghindar dari tanggung jawan atas pilihan kita dengan dalih bahwa kita terpaksa. Tnetu saja ada begitu banyak godaan dari berbagai opsi lain yang ada di sekitar kita. Tapi sekali lagi, sikap kita terhadap berbagai opsi itu adalah, “laa”, tidak.
 
Puasa sebenarnya soal penegasan “laa”. Kita bisa memilih untuk tidak puasa. Tidak ada tekanan sosial yang bisa memaksa kita untuk puasa. Setetes air yang masuk ke tenggorokan kita sudah cukup untuk membuat puasa kita batal. Menelan setetes air itu bisa kita lakukan tanpa diketahui orang lain. Bahkan tanpa itupun, puasa kita bisa batal. Kalau kita tidak berniat untuk puasa, maka kita tidak berpuasa, meski kita tidak makan dan minum seharian. Jadi sebenarnya hanya kita sendiri saja yang tahu bahwa kita sedang berpuasa atau tidak.
 
Berpuasa artinya kita berhadapan dengan berbagai pilihan makanan, tapi kita katakan “laa”, tidak. Bukan membuat diri kita hanya punya satu pilihan, yaitu tidak makan. Berpuasa artinya kita menegasi semua godaan yang ada, bukan mengeliminasi godaan itu. Berpuasa bukan berarti menyingkirkan semua makanan dari jangkauan kita, misalnya dengan menutup dan menyembunyikan, atau menutup warung-warung, tapi cukup dengan memilih untuk tidak makan. Singkatnya, berpuasa itu kita membiarkan berbagai godaan hadir di depan kita, dan kita memilih untuk mengabaikannya.
 
Bertauhid pun begitu. Kita menerima adanya keragaman iman. Kita tidak diperintah untuk mengeliminasi iman-iman orang lain. Kita hanya perlu menegaskan, inilah iman pilihan saya. Laa ilaaha illa Allah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *