Politik Menjual Islam

Anda yang muslim, yang menganggap pemimpin itu harus muslim, cobalah bertanya, mengapa kita punya begitu banyak partai Islam? Mengapa kita tidak punya satu saja partai Islam? Untuk apa sih partai Islam itu? Untuk memperjuangkan Islam, bukan? Islam itu satu, bukan? Tapi mengapa untuk memperjuangkan sesuatu yang tunggal diperlukan banyak wadah?

Jawabannya sederhana, karena mereka itu partai politik. Anggotanya adalah politikus. Untuk apa orang berpolitik? Untuk meraih kekuasaan, lalu membaginya. Itu dulu. Kekuasaan itu biasanya akan berkaitan dengan uang. Maka, berbagi kekuasaan nyaris identik dengan berbagi uang. Merebut kekuasaan nyaris identik dengan merebut uang.

Itu adalah jawaban yang fatalis dan terlalu menyederhanakan. Masih sangat mungkin ada politikus baik, yang menggunakan kekuasaannya untuk kebaikan. Kita harus percaya itu, kalau tidak kita sulit untuk percaya pada politik. Persoalannya, kita harus menilai, apakah para politikus dari partai-partai Islam itu telah memerankan diri mereka sebagai pejuang Islam, atau sekedar sebagai politikus perebut kekuasaan?

Partai-partai Islam pernah bersatu dalam satu wadah, yaitu Masjumi. Masjumi didirikan oleh tokoh-tokoh organisasi Islam seperti NU, Muhammadiyah, Persatuan Umat Islam Indonesia, dan Partai Sjarikat Islam Indonesia. Namun keberadaan partai ini sebagai partai tunggal hanya berlangsung selama 2 tahun Tahun 1947 PSII keluar dari Masjumi. Motifnya, untuk mendapatkan jatah kursi di Kabinet Amir Sjarifudin. Masjumi yang tadinya menolak kabinet ini akhirnya bergabung juga.

Perpecahan tidak hanya sampai di situ. Orang-orang NU yang sebenarnya merupakan bagian utama Masjumi, hanya mendapat posisi di Majelis Sjura. Posisi eksekutif ditempati oleh kalangan “modernis” yaitu Natsir, Roem, dan Sjafrudin. Hal ini menimbulkan kecemburuan. Lalu akhirnya NU juga menyatakan keluar dari Masjumi. Pada pemilu 1955 keduanya bersaing, menghasilkan Masjumi di posisi kedua, dan NU di posisi ketiga. Posisi pertama ditempati oleh PNI.

Setelah itu partai-partai Islam tidak pernah bersatu. Soeharto mencoba menyatukannya dalam wadah PPP. Tapi yang bersatu cuma wadahnya saja, isinya tetap konflik oleh orang-orang yang saling sikut untuk merebut kekuasaan. Ketika Soeharto jatuh, partai itu kocar kacir, menghasilkan banyak partai baru. Itu masih ditambah lagi dengan partai-partai lain, yang tidak pernah punya sejarah khusus dengan PPP.

Jadi, apa yang mereka perjuangkan? Perebutan kekuasaan. Kalaupun ada yang bekerja dan berjuang untuk kepentingan umat Islam, itu hanya segelintir saja.

Kekuasaan adalah hal yang nikmat. Ada begitu banyak tokoh yang tadinya adalah orang biasa, orang pinggiran. Tiba-tiba mereka bisa jadi orang terhormat, melalui politik. Mereka jadi menteri, anggota dewan, dan pejabat negara lainnya. Uang, kedudukan, eksistensi, semua bisa mereka nikmati. Lalu, bagaimana mungkin orang-orang ini akan menjadikan perjuangan untuk umat sebagai prioritas? Tidak mungkin. Memperjuangkan umat memerlukan sikap konsisten, termasuk di dalamnya mengorbankan jabatan dan kedudukan. Nah, itu yang tidak mungkin terjadi. Yang banyak terjadi adalah penghimpunan kekuatan politik untuk terus bertahan. Kekuatan itu komponen utamanya adalah uang. Jadi, mereka biasanya sangat sibuk mengumpulkan uang.

Tapi kenapa mereka masih didukung oleh banyak orang? Karena mereka menjual ayat. Mereka memanfaatkan ketakutan orang pada siksa neraka. Maka mereka membangun dalil, bahwa haram hukumnya memilih pemimpin yang bukan muslim. Benarkah? Kalau begitu, bagaimana hukumnya bernegara yang bukan negara Islam? Haram atau halal? Kalau memilih pemimpin yang non-muslim itu haram, seharusnya bernegara yang bukan negara Islam juga haram, bukan? Nah, bagaimana hukumnya berpolitik di dalam sistem yang bukan sistem Islam?

Jangan berharap ada konsistensi dari mereka. Mereka tidak benar-benar memperjuangkan kepemimpinan Islam. Ketika mereka benar-benar mendapat kekuasaan untuk jadi pemimpin, mereka juga tidak berkelakuan seperti layaknya pemimpin Islam. Mereka korup dan mencuri.

Di hadapan mereka berdiri orang-orang bodoh yang takut pada siksa neraka bila tidak memilih pemimpin Islam. Mereka menikmati betul kebodohan itu, karena kebodohan itu telah mendatangkan banyak uang. Mereka adalah orang-orang yang menjual Islam.

11 thoughts on “Politik Menjual Islam

  1. Efri

    Ulasan yg baik, tapi tanpa tahu dasar hukum.
    Kewajiban seorang muslim menjalankan perintah agamanya. Ikhtiar sesuatu yg musti, wajib. Di situ letak tanggung jawab menjadi seorang muslim.
    Memang sekarang banyak partai/ wadah, maka berusahalah menurut pengetahuanmu, pilih yg dpt kamu percayai. Hal ini berlaku sama dalam hal memilih pemimpin.
    Jika sdh berusaha lepas kewajiban mu, jika tidak maka ada pertanggung jawabannya nanti. Kalau salah, tidak tepat?
    Sesungguhnya Allah Maha Tahu. Tahu isi hati orang, tahu perbuatan orang. Semua tercatat. Karena amalan juga karena niat hati.
    Dan semua akan mendapat balasannya, setimpal.
    Jika anda muslim, tolong pelajari dalil urgensi memilih pemimpin yg muslim.
    Jika anda non muslim, maka jangan campuri urusan Islam. Bagi mu agama mu, bagi ku agama ku.
    Berkata, berbicara, bertindaklah dengan ilmu, bukan hanya dengan akal, logika sendiri dan nafsu.

    Reply
  2. Ema Losarina

    Mereka dibutakan hatinya..banyak yg sdh melihat kenyataannya….banyak tokoh politik yg hartanya tiba2 berlimpah setelah menjabat dalam pemerintahan atau dalam organisasi politik…padahal sebelumnya biasa saja…
    Para pemilihnya tau itu …tp tdk masalah bagi mereka…
    Hasil kerja orang pilihan mereka tidak ada bekasnya pun mereka tdk masalah…dan korupsipun tdk masalah bagi mereka…
    Begitu ada seorang yg tegas…bagus kerjanya…hasilnya …perubahannya jelas nampak didepan mata tidak korupsi…mereka tidak mau melihat…menutup matahati mereka…hanya karena agamanya berlainan…naif sekali…bahkan munafik menurut saya…
    Pembodohan terhadap umat muslim yg
    terjadi sekarang ini…tidak lain adalah mengajak kita untuk berbuat munafik….tau kebenarannya…tapi menyangkalnya…Astagfirullah….

    Reply
    1. mozay

      Inilah akhir zaman…orang yg mengikuti Al-Quran malah dibilang munafik…ayat larangan memilih pemimpin non muslim jelas tidak ada perdebatan dikalangan ulama…larangan ini datangnya dari Al quran bukan partai politik…

      Reply
  3. Abu Janda

    Tapi kenapa para politisi partai Islam masih didukung oleh banyak orang? Karena mereka menjual ayat. Mereka memanfaatkan ketakutan orang pada siksa neraka. Maka mereka membangun dalil, bahwa haram hukumnya memilih pemimpin yang bukan muslim. Benarkah? Kalau begitu, bagaimana hukumnya bernegara yang bukan negara Islam? Haram atau halal? Kalau memilih pemimpin yang non-muslim itu haram, seharusnya hidup dalam suatu tempat yang bukan negara Islam juga haram, bukan? Nah, bagaimana hukumnya berpolitik di dalam sistem yang bukan sistem Islam?

    Jawab:
    Bernegara di sebuah daerah yang bukan negara Islam tidak ada larangannya satu ayatpun. Coba cari ayatnya mana yang melarang untuk tinggal di daerah yang bukan negara Islam. Ada? Tapi kalo melarang pemimpin kafir jumlahnya belasan. Lihat bagaimana kehidupan beragama di Papua, Bitung, Poso dan Bali dimana muslim minoritas! Lihat bagaimana mereka berada di daerah mayoritas muslim. Atau memang anda berharap memiliki pemimpin yang tidak mempedulikan Islam?
    caulka5vaaersjb

    Reply
  4. Ibnu Machlad

    Di awal reformasi budayawan Kuntowijoyo pernah menulis di Kompas : 16 alasan unuk tidak mendirikan partai Islam. Pendapat itu tidak digubris dan sejarah membuktikan Kuntowijoyo benar.

    Reply
  5. KIKIK SATRIYAWAN

    I.M.A.G.I.N.E
    by MrJohn “TheBeatles” Lennon

    Imagine there’s no heaven
    It’s easy if you try
    No hell below us
    Above us only sky
    Imagine all the people living for today

    Imagine there’s no countries
    It isn’t hard to do
    Nothing to kill or die for
    And no religion too
    Imagine all the people living life in peace

    You, you may say
    I’m a dreamer, but I’m not the only one
    I hope some day you’ll join us
    And the world will be as one

    Imagine no possessions
    I wonder if you can
    No need for greed or hunger
    A brotherhood of man
    Imagine all the people sharing all the world

    You, you may say
    I’m a dreamer, but I’m not the only one
    I hope some day you’ll join us
    And the world will live as one

    MrQQ http://www.facebook.com/The.Indonesia.Foundation

    Reply
  6. tenia

    artikel menarik, cukup membuka wawasan saya yang awam politik. mungkin saya termasuk orang yang tidak percaya politik seperti yang bapak sebutkan diatas. 😀

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *