Polisi: Zaman Baru, Perilaku Lama

polisi

Tahun 1996 Udin, wartawan Harian Bernas di Yigyakarta dibunuh oleh orang tak dikenal di rumahnya. Sebuah pukulan kayu di kepala Udin membuatnya roboh bersimbah darah. Udin tewas. Siapa pelakunya? Rumor yang berkembang saat itu mengarah kepada Bupati Bantul yang sering dikritik oleh Udin secara tajam melalui berbagai berita yang ditulisnya. Bupati itu diduga korupsi, dan Udin terus menelisiknya.

Tapi kasus Udin melewati tikungan tak terduga. Polisi menyeret tokoh lain sebagai tersangka. Ia adalah Iwik,  yang istrinya adalah teman lama Udin. Menurut “pengakuan” Iwik, ia cemburu kepada Udin, yang ia duga “ada main” dengan istrinya. Meski banyak suara meragukan skenario ini, kasus ini tetap bergulir. Iwik diseret ke pengadilan. Untunglah pengadilan sesat itu menjadi lurus di akhir cerita. Iwik dibebaskan.

Lalu, siapa pembunuh Udin? Sampai saat ini tidak diketahui. Tapi sebenarnya kita bisa bertanya, kalau polisi sampai berani merekayasa tersangka, apa motifnya? Jawaban yang paling memungkinkan adalah untuk melindungi pelaku sebenarnya. Tapi siapa? Rahasia itu tetap tertutup rapat.

Belasan tahun kemudian kejadian yang sama masih terulang. Ketika KPK hendak menyelidiki Susno Duaji, sontak dua komisioner KPK waktu itu Bibit Samad dan Candra Hamzah ditahan polisi. Apa kesalahannya? Tak jelas. Pokoknya mereka harus ditahan. Kasus ini kemudian “diselesaikan” dengan beberapa tindakan politik tingkat tinggi. Rakyat tak tahu apa yang terjadi. Bibit dan Candra dibebaskan. Adapun Susno, kelak ia diadili dan masuk bui oleh kasus kejahatan lain. Kali ini rekan-rekannya sendiri yang menjebloskannya ke penjara.

Beberapa tahun kemudian kejadian yang sama terulang lagi. Budi Gunawan dibidik kasus korupsi. Polisi kembali menuduh dua komisioner KPK melakukan kejahatan, dan menjadikanna tersangka. Presiden kali ini tidak mengambil langkah politik tingkat tinggi, ia memilih untuk membiarkan proses hukum berlangsung.

Tapi proses hukum apa? Setahun berlalu, polisi tak kunjung menuntaskan penyidikan, dan mengirim kasusnya ke pengadilan. Padahal dalam waktu setahun ada puluhan kasus lain yang bisa diselesaikan polisi.

Kenapa kasus ini jadi begitu sulit? Jawabnya sederhana. Ini adalah kasus Udin-Iwik abad 21. Polisi masih memainkan gaya lama, menggunakan wewenang mereka untuk menyeret orang tak bersalah, guna melindungi orang lain yang (mungkin) bersalah. Dalam hal ini petinggi mereka sendiri. Artinya, zaman boleh berganti, tapi perilaku polisi kita masih tidak berubah. Reformasi, perubahan, perbaikan mendasar, belum menyentuh lembaga kepolisian kita.

Ajaibnya, hal ini berlangsung di zaman keterbukaan informasi. Sungguh sesuatu yang ajaib bahwa ini semua terjadi saat kita sudah bisa menyaksikan polisi kita dengan gagah mengacungkan pistol memburu teroris, atau saat operasi polisi disiarkan secara langsung oleh TV. Saat masyarakat bisa melihat kejadian-kejadian, mencernanya, polisi kita mengira mereka masih bisa menyembunyikan sesuatu dengan mengarang cerita fiksi yang konyol.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *