Perempuan Bekerja

bekerjaPerempuan-perempuan kita itu bekerja, sejak dulu. Sejak sebelum Islam masuk, juga setelah Islam masuk. Bersama laki-laki mereka bekerja di sawah, ladang, hutan, sungai, laut, dan pasar. Di masa yang lebih modern mereka bekerja sebagai guru, perawat, buruh, bahkan polisi dan tentara. Semua berlangsung secara wajar dan diterima dalam masyarakat kita.

Tapi kini ada suara-suara yang meributkan soal perempuan bekerja. Perempuan, katanya, harus tinggal di rumah, sesuai perintah Quran. Perempuan-perempuan yang bekerja di rumah melalaikan tugas dan tanggung jawabnya mengasuh dan mendidik anak-anak. Karena perempuan kini bekerja, banyak anak-anak yang terlantar tanpa pengasuhan.

Apakah selama ratusan tahun ini anak-anak kita terlantar karena ibu-ibu mereka bekerja? Tidak. Anak-anak kita baik-baik saja. Dan sebetulnya suara-suara itu tidak peduli betul soal perempuan-perempuan yang bekerja di sawah, pasar, atau di laut. Mereka hanya rewel soal perempuan-perempuan yang bekerja di kantor. Lucunya, mereka ribut soal perempuan keluar rumah, tapi perempuan-perempuan dari “golongan” yang bersuara seperti ini tidak melulu tinggal di rumah. Mereka juga “berkeliaran” ke mana-mana, ke pasar, sekolah, bahkan berdagang. Banyak dari mereka berkendaraan, naik sepeda motor, dan tidak jarang melakukan pelanggaran lalu lintas yang berbahaya. Jadi kalau dianggap “tinggal di rumah” itu bermakna secara harfiah sebagaimana yang terjadi di Arab Saudi, sebenarnya tidak demikian.

Jadi apa soalnya? Apakah menurut mereka perempuan tidak boleh bekerja? Jawabannya tidak akan tegas. Kalau ditanya hukumnya, jawabnya “boleh saja, asal bla bla bla….” Kalau boleh, kenapa diributkan? Apakah perempuan tidak boleh keluar rumah? Kalau iya, kenapa perempuan-perempuan dari “golongan” ini justru banyak berkeliaran? Entahlah.

Apakah benar anak-anak jadi terlantar karena perempuan bekerja? Kita tidak tahu. Ada saja perempuan yang terlalu asyik bekerja di luar rumah, lalu lupa dengan tanggung jawab sebagai pengasuh anak. Tapi kita tidak tahu berapa banyak, dan berapa perbandingannya dengan yang baik-baik saja. Tidak perlu mencoba mencari tahu lebih detil kepada mereka soal ini, karena mereka memang tidak punya data. Mereka hanya membuat propaganda seolah sedang terjadi seperti itu.

Mengapa perempuan yang bekerja di kantor dianggap buruk? Ada seseorang dari “golongan” ini yang berkomentar bahwa dia tidak ingin istrinya bekerja di luar, karena istrinya akan jadi santapan mata dan sentuhan laki-laki di kantornya. Ada pula yang mengaitkannya dengan perilaku selingkuh, hura-hura, dan sebagainya. Sampai ke titik ini saya kira soal ini tidak perlu lagi membahasnya lebih jauh. Singkat kata, tidak ada kewarasan dalam wacana ini.

Saya dibesarkan oleh Emak yang bekerja. Emak bekerja bersama Ayah, juga anak-anaknya yang sudah besar di kebun kami. Kalau tidak bekerja di ladang Emak berdagang. Di lain waktu ia juga menjadi perias pengantin. Apakah anak-anaknya terlantar? Tidak. Kami kakak beradik mendapat pengasuhan yang baik. Banyak orang lain yang seperti saya, dibesarkan oleh ibu-ibu yang bekerja. Tidak hanya bekerja, banyak dari ibu-ibu kita itu petarung. Mereka yang menjadi motor ekonomi keluarga. Maka saya terbiasa bangga bila melihat ibu-ibu bekerja, di mana saja.

Tentu saja pengasuhan anak tetap nomor satu. Saya tidak suka melihat anak-anak terlantar karena orang tuanya sibuk bekerja. Tapi soalnya adalah, tanggung jawab pengasuhan anak itu tidak terbeban di pundak ibu semata. Bapak juga punya tanggung jawab. Tidak boleh seorang bapak lepas tangan dari soal pendidikan dengan alasan ia sibuk bekerja mencari nafkah. Sekali lagi, tidak boleh. Jadi, jangan hanya mengecam perempuan bila ada anak terlantar, kurang asuhan. Bapaknya juga bertanggung jawab, bahkan lebih bertanggung jawab.

Tapi, bukankah memang ada ayat yang menyuruh perempuan untuk tinggal di rumah. Ah, anggap saja itu ayat untuk konteks lingkungan Arab, padang pasir. Kalau melihat kondisi seperti di Saudi itu (apalagi bila kita bayangkan situasi pada abad VII), memang mengerikan kalau membiarkan perempuan keluar rumah. Secara de facto perempuan-perempuan kita sudah biasa keluar rumah.

Ketimbang meributkan soal boleh tidaknya, saya lebih suka kalau kita ikut membantu mereka, memastikan mereka bisa melakukan kegiatan pengasuhan anak dengan kualitas lebih baik. Seperti yang dilakukan teman saya, menyediakan ruang menyusui di kantor perusahaannya. Atau setidaknya menyediakan ruangan yang memadai bagi ibu-ibu untuk memerah ASI.

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *