Pendidikan, Bukan Sekedar Soal Sekolah

DSC_0872

Saya bukan guru yang bekerja sebagai pengajar di sekolah. Tapi saya tidak pernah berhenti memikirkan pendidikan, dan berbuat untuk pendidikan di Indonesia. Tentu saja dengan segala keterbatasan saya.

Bagi saya pendidikan bukan sekedar mengajarkan pengetahuan. Yang lebih penting dari itu adalah membentuk pola pikir, kemudian membangun sikap atas dasar pola pikir itu. Pada puncaknya pendidikan adalah menciptakan agen-agen perubahan yang akan mempengaruhi banyak orang, menggiring masyarakat ke arah yang positif.

Saya melihat pendidikan di sekolah kita lebih sering berfokus pada pengajaran. Murid-murid dijejali dengan banyak pengetahuan, agar mereka tahu. Atau lebih sederhana lagi, agal mereka hafal. Hafalan itu dipakai untuk menjawab soal-soal ujian. Pendidikan sekolah banyak mengabaikan aspek kenikmatan belajar bagi anak. Tak masalah bila anak-anak terbebani oleh pelajaran, yang penting mereka dapat nilai bagus. Pembentukan sikap dan karakter juga banyak diabaikan.

Maka saya turun tangan dengan mendidik anak-anak saya berdasar konsep yang saya anut. Saya tidak lepas tangan, dengan menyerahkan sepenuhnya urusan pendidikan kepada sekolah belaka. Saya juga memberi masukan kepada guru-guru di sekolah anak-anak saya. Lalu saya sebarkan gagasan saya soal pendidikan anak melalui tulisan-tulisan, atau ceramah-ceramah di forum parenting.

Saya melihat kampus-kampus juga demikian. Kampus seringkali bertindak hanya sebagai produsen ijazah dan gelar. Mahasiswa dibiarkan lulus tanpa kompetensi, tanpa visi, tanpa motivasi. Juga tanpa karakter. Maka mereka dibiarkan lulus, kemudian jadi penganggur bergelar.

Saya tidak bisa berdiam diri melihat hal itu. Dengan berbagai keterbatasan saya coba untuk berkontribusi. Hampir setiap bulan saya datang ke kampus-kampus, menyampaikan informasi tentang dunia kerja kepada para mahasiswa. Saya sampaikan kenyataan tentang banyaknya orang yang gagal memasuki dunia kerja. Juga saya ajarkan bagaimana bersikap untuk menghindari kegagalan itu.

Di perusahaan tempat saya bekerja, ada ribuan orang yang bekerja sebagai karyawan. Banyak dari mereka yang bekerja seperti robot, sekedar mengulangi hal yang sama setiap hari. Tidak ada pertambahan keterampilan maupun keahlian seiring bertambahnya waktu. Tentu saja tidak akan ada peningkatan karir. Kenapa bisa begitu? Sebagian besar dari mereka tidak tahu atau tidak sadar bahwa hidup harus meningkat.

Maka saya ajukan diri untuk memberi pelatihan kepada para karyawan itu. Apa boleh buat, perusahaan kami besar dan sudah puluhan tahun beroperasi di Indonesia, tapi belum memiliki sistem pendidikan yang memadai. Salah siapa? Orang bisa dengan gampang menyalahkan pihak manajemen Jepang. Saya melihatnya lebih sederhana. Selama ini tidak ada yang berinisiatif untuk membangun sistem pendidikan.

Bagi saya perusahaan adalah lembaga pendidikan. Ia harus menjadi tempat di mana orang tumbuh dan belajar. Karena belajar adalah proses berkelanjutan, sampai kita masuk ke liang lahat. Maka saya memilih untuk bertindak di luar tugas utama saya. Saya ajukan diri untuk memberi training ke 7 perusahaan di grup kami.

Bagi saya setiap jengkal bumi Indonesia ini adalah lembaga pendidikan. Di jalan kita mesti belajar bagaimana tertib dan disiplin. Mesjid seharusnya juga menjadi lembaga pendidik, membuat setiap pengunjungnya menjadi penebar rahmat di tengah masyarakat. Setiap tempat di negeri ini seharusnya mendorong setiap anggota masyarakat untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi. Setiap orang seharusnya menjadi guru, memberikan kontribusi sekecil apapun, agar orang-orang di sekitarnya menjadi lebih baik lagi.

Bumi Indonesia ini adalah sebuah sekolah besar bagi setiap anak bangsa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *