Pencitraan

10 March 2016 0 Comments

Imaging-3.0

Waktu sekolah di SMA dulu saya dikenal sebagai murid yang pintar. Padahal saya sebenarnya tidak pintar-pintar benar. Sesekali saya ranking satu dalam nilai tertinggi di kelas, tapi kadang cuma ranking 3, bahkan 5. Tapi hampir seluruh siswa dan guru di sekolah mengenal saya sebagai anak pintar. Kenapa?

Saya sering mewakili sekolah untuk kompetisi cerdas cermat. Mula-mula saya ditunjuk oleh guru. Tapi kemudian tidak berhenti sampai di situ. Saya rajin mencari informasi tentang kompetisi di berbagai tempat, dan mengajukan diri kepada guru untuk ikut serta. Guru mengizinkan, dan bahkan memberi saya wewenang untuk menentukan siapa yang mendampingi saya sebagai anggota tim. Kadang saya pilih cewek yang cantik sebagai pendamping.

Saya melakukan pencitraan. Banyak anak-anak lain yang cerdas. Banyak yang konsisten, selalu ranking 1 di kelas, dengan nilai yang lebih baik. Tapi tak banyak yang mengenal dia. Kalaupun dikenal, dia dikenal sebagai anak pintar dalam hal pelajaran sekolah, selebihnya dia tidak tahu apa-apa. Anak seperti ini tidak jarang menjadi korban keusilan anak-anak lain.

Tapi saya tidak melakukan pencitraan kosong. Saya sangat sering membawa piala pulang. Juara satu, atau minimal juara 3. Sekolah saya yang tadinya jarang disebut-sebut dalam kompetisi cerdas cermat di tingkat kota, pada masa itu jadi lebih sering disebut. Sekolah-sekolah favorit yang biasanya langganan juara, tahun-tahun itu mesti bertekuk lutut pada kami. Saat membawa pulang piala, saya menyerahkannya langsung kepada kepala sekolah pada upacara Senin pagi. Seluruh siswa melihat, dan dari situlah terbangun citra bahwa saya anak pintar dan berprestasi.

Politikus melakukan pencitraan? Kenapa diributkan? Tidak ada politikus yang tidak melakukan pencitraan. Bahkan politikus yang menyebut dirinya tidak melakukan pencitraan, adalah politikus yang sedang membangun citra. Jadi, tidak ada masalah sebenarnya dengan pencitraan. Yang jadi masalah itu adalah pencitraan kosong. Cuma citra saja, tanpa isi. Itu sama saja dengan berbohong.

Kita semua harus membangun pencitraan. Anda mungkin sering kesal di tempat kerja, melihat rekan kerja Anda melesat karirnya. Padahal kerjanya biasa saja. Bahkan, lebih menyakitkan lagi bila kerja-kerja Anda, peran Anda, justru dilekatkan sebagai kerja dia. Anda akan mengeluh, menuduh dia sebagai penjilat. Tapi apapun juga, dia sudah terlanjur berada di depan sana, bahkan menjadi atasan Anda. Di situ dia akan semakin kuat mengklaim kerja-kerja Anda sebagai hasil kerja dia. Mau seperti itu? Tentu tidak. Maka lakukanlah pencitraan.

Kita harus melakukan pencitraan yang sahih. Banyak hal, banyak keunggulan kita yang tidak bisa dilihat oleh orang lain. Maka kita harus memberitahukan. Saya bisa ini, saya ahli dalam hal itu. Beri tahu sesuai kadar, jangan lebih, jangan kurang. Jangan lebih-lebihkan, itu poinnya. Karena bila dilebih-lebihkan, dan akhirnya orang tahu bahwa citra itu citra palsu, orang tak akan percaya lagi.

Seorang yang jujur akan menjelaskan peran dia apa adanya. Artinya, ia juga akan menjelaskan peran orang lain yang bekerja bersamanya. Saat ini, misalnya, saya memimpin sebuah tim terdiri dari para manager purchasing di grup perusahaan kami untuk melakukan berbagai kegiatan perbaikan. Mereka adalah orang-orang profesional di bidang purchasing. Dalam soal keahlian, mereka lebih ahli. Kenapa saya yang memimpin? Karena posisi saya di holding company, dan saya punya akses ke management, dan bisa berkomunikasi dengan mereka. Setiap hasil kerja tim kami, yang pertama mendapatkan citra positif adalah saya. Tapi saya tidak pernah mengakui kerja itu sebagai kerja saya sendiri. Saya selalu menjelaskan siapa yang melakukan apa, siapa yang ahli dalam hal apa, dalam tim saya. Keahlian saya adalah, membuat mereka bekerja dengan baik, membuat hasil baik.

Bagaimana bila sebaliknya, kita berada di bawah, kerja kita berpotensi diklaim atasan? Ada beberapa trik untuk menghindarinya. Pertama, jangan berikan seluruh kerja kita secara utuh. Simpan bagian-bagian kunci, yang hanya Anda sendiri bisa menjelaskan. Mau tak mau atasan Anda akan mengajak Anda saat ia melaporkan hasil kerjanya. Saat itu tunjukkan kepiawaian Anda, sehingga orang tahu bahwa Andalah otak dari kerja itu. Kedua, buat catatan-catatan yang menjadi bukti bahwa Andalah yang menghasilkan kerja itu. Ketiga, secara rutin bahaslah kerja Anda dengan orang-orang di sekitar Anda, untuk memberi tahu mereka bahwa Andalah yang mengerjakan.

Membangun pencitraan berbeda dengan menjilat. Sangat berbeda. Pencitraan positif adalah usaha menjelaskan siapa kita, dan apa yang bisa kita lakukan. Sedangkan menjilat, itu adalah kegiatan membuat orang lain, khususnya atasan, merasa senang. Jadi, kalau ada orang yang melejit di depan Anda, jangan buru-buru menuduh dia menjilat. Boleh jadi dia memang cerdas dalam membangun citra. Sementara Anda merasa mulia dengan menjadi orang yang rendah hati, padahal Anda cuma tidak menyadari pentingnya pencitraan.

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *