Pelajar Madrasah Memperkosa

Perkosaan remaja kembali terjadi lagi. Kali ini di Bone, Sulawesi Selatan. Seorang siswi diperkosa 5 orang temannya. Berbeda dengan kasus perkosaan Yuyun, yang pelakunya adalah anak-anak nakal peminum minuman keras, kali ini pelakunya adalah pelajar madrasah aliyah, sekolah setingkat SMA, yang memberikan pelajaran agama dalam porsi lebih banyak daripada sekolah umum.

Ada anggapan umum yang berkembang di Indonesia, bahwa agama itu panduan akhlak. Orang beragama berarti akhlaknya baik. Tidak beragama adalah sebuah keburukan. Untuk memperbaiki orang suruhlah ia beragama dan menjalankan agama. Maka, agar anak-anak kita baik, bekalilah mereka dengan pelajaran agama. Tidak hanya dibekali, tapi bekali sebanyak-banyaknya, dan sedini mungkin.

Maka anak-anak kita dijejali dengan berbagai bentuk pelajaran agama, sejak TK. Mereka disuruh menghafal ayat-ayat dan doa-doa. Menghafal kemudian menjadi trend. Anak TK harus menghafal sekian surat, kalau sudah SD harus hafal sekian juz. Hafal seluruh Quran jadi kebanggan. Bonusnya, bisa tampil di TV.

Ketika marak kasus kenakalan remaja, orang berpikiran sama, pendidikan agama untuk mereka kurang. Bahkan kurikulum 2013 menggiring semua pelajaran menjadi “pelajaran agama”, setiap materi pelajaran dikaitkan denga pikiran tentang Tuhan.

Kalau pelajaran agama adalah solusi, bagaimana kita memaknai kejadi pemerkosaan oleh pelajar madrasah tadi? Ya, tentu saya sadar bahwa saya tidak boleh melakukan generalisasi, hanya karena ada kejadian ini tidak berarti pelajaran agama telah gagal. Hanya saja, kalau untuk menyimpulkan bahwa pelajaran agama gagal diperlukan data yang valid, tidakkah kesimpulan bahwa pelajaran agama memperbaiki akhlak juga memerlukan data untuk mendukungnya? Adakah data itu?

Kita sudah sering terpana oleh para koruptor yang dalam kesehariannya adalah orang-orang taat agama. Tidak sedikit dari mereka bahkan pemuka agama, termasuk juga menteri agama. Mereka rajin beribadah, dan rutin berkunjung ke tanah suci. Ironisnya, ada di antara mereka yang merencanakan tindak pidananya di tanah suci. Lalu, apa hubungan antara agama dengan akhlak kalau begitu? Tidak ada.

Oh, mereka itu beragama dengan cara yang salah, kata orang-orang membela. Kalau mereka beragama dengan benar, kata mereka, tentu mereka tidak akan melakukan perbuatan buruk, karena agama melarang orang berbuat buruk. Ya, betul bahwa agama melarang orang berbuat buruk. Tapi ingat, tidak hanya agama yang melarang. Adat istiadat juga melarang. Akal sehat juga. Tanpa dilarang agama pun kita tahu bahwa korupsi, mencuri, atau memperkosa, itu perbuatan buruk.

Artinya, yang perlu kita lakukan adalah penyadaran soal baik buruk. Tidak cukup sampai di situ, kita juga perlu menciptakan sarana atau mekanisme untuk melatih kebaikan-kebaikan, agar menjadi kebiasaan. Pada saat yang sama kita perlu mencegah dan mengikis kebiasaan-kebiasaan buruk.

Pelajan agama di sekolah-sekolah kita umumnya berhenti pada agama sebagai pengetahuan, tidak membangun kesadaran. Bahkan tak jarang lebih rendah dari itu, pelajaran agama adalah hafalan. Kebiasaan-kebiasaan yang diciptakan sebatas pada ritual-ritual. Anak-anak diajarkan untuk terbiasa salat berjamaah, tapi tidak diajari untuk antri. Yang terbentuk adalah anak-anak yang taat ibadah, tapi belum tentu berbudi pekerti. Produk dalam format dewasanya adalah koruptor-koruptor yang rajin ibadah tadi.

Kita memerlukan pendidikan karakter. Tapi setiap kali kita bicara soal itu, yang menempati posisi nomor satu adalah iman dan takwa, lalu selesai. Pendidikan karakter direduksi menjadi pelajaran agama, dan kebiasaan untuk ibadah. Selesai, berhenti sampai di situ. Padahal ada begitu banyak aspek pendidikan karakter yang harus dieksplorasi, tapi tidak kita lakukan. Kenapa? Karena kita berilusi bahwa agama adalah solusi untuk segala persoalan akhlak. Padahal sama sekali tidak.

Bagi saya, agama dalam pendidikan kita bukanlah solusi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *