Pasar Dalil

15 November 2016 0 Comments

Saya melihat kitab suci itu seperti pasar. Ia menyediakan semua. Di pasar tersedia bahan dan bumbu untuk membuat berbagai jenis masakan. Anda mau soto, gulai, gado-gado, rawon, sate, ketoprak, bubur. Apa saja. Anda bisa dapatkan bahannya di pasar. Demikian pula halnya dengan kitab suci. Anda mau praktek agama yang damai, welas asih, tidak reaktif, Anda bisa mencari dalil-dalilnya. Anda mau keras, galak, tidak kompromi, Anda bisa temukan dalil-dalilnya.

Di Quran ada ayat-ayat yang menyuruh untuk menekan orang-orang non muslim (kafir), bersikap keras pada mereka, bahkan membunuh mereka. Tapi ada juga ayat-ayat yang memerintahkan untuk bergaul dengan mereka secara ma’ruf, dan berlaku adil.

Apakah dengan begitu berarti ayat-ayat itu saling bertentangan? Itu tergantung cara kita melihatnya. Pada dasarnya semua ayat maupun hadist memiliki konteks. Tapi terdapat perbedaan pandangan soal konteks ini. Ada yang berpendapat bahwa makna ayat terikat sangat erat pada konteksnya. Kalau konteknya sudah berubah, maka ayat tersebut tidak lagi bisa dimaknai sesuai bunyinya. Namun sebaliknya, ada yang berpendapat bahwa konteks tidak membatasi makna. Ayat harus dimaknai sebagaimana makna bunyinya saja.

Tapi, bukankah ayat-ayat itu memang seharusnya dipakai sesuai konteks situasi yang dihadapi? Misalnya, kalau pihak kafir menzalimi, kita harus keras, sebaliknya, kalau mereka baik, kita juga harus baik. Teorinya begitu. Masalahnya, definisi zalimdan tidak zalim itu relatif. Demikian pula kafir tidak kafir. Ia bahkan lebih banyak ditentukan oleh asumsi dan persepsi.

Contohnya, soal bagaimana seorang muslim harus bersikap terhadap Amerika. Ada yang menganggap Amerika itu biang kafir, dan juga zalim. Amerika selalu mengganggu negara-negara Islam, membuat kacau di berbagai tempat. Kenapa? Karena Amerika itu Kristen dan Yahudi. Maka Amerika itu musuh Islam.

Tapi di sisi lain ada yang melihat Amerika itu sebuah negara, tidak terkait dengan agama Kristen dan Yahudi. Negara itu bertindak atas dasar kepentingan nasional mereka, juga tanpa meihat agama orang-orang di negara yang menjadi lawan mereka dalam berurusan.

Amerika mengobarkan perang di Afganistan, tapi pada saat yang sama bersekutu dengan Arab Saudi. Keduanya negeri muslim. Bagaimana kita bisa mengatakan bahwa Amerika itu musuh Islam? Pada saat yang sama Amerika punya hubungan yang tegang terhadap Venezuela dan Kuba, yang mayoritas penduduknya adalah Kristen. Bagaimana kita bisa melabeli Amerika sebagai kafir Kristen?

Pada akhirnya, tidak ada orang yang beragama secara komprehensif. Sikap beragama tidak ditentukan oleh pemahaman komprehensif terhadap dalil-dalil. Faktanya, sangat sedikit dari umat Islam yang paham soal dalil. Kebanyakan hanya membaca Quran sekedar bunyinya saja, tanpa memahami isinya.

Orang beragama dengan sebuah kesimpulan d muka. Islam itu agama yang damai. Maka orang akan mencari dalil-dalil damai, dan menjadikannya pedoman. Bahkan, banyak yang tidak tersentuh dalil. Mereka cukup berpegang pada prinsip damai tadi, dan hidup sesuai prinsip itu.

Sebaliknya, ada orang-orang yang memilih untuk memandang Islam sebagai agama yang keras terhadap kafir. Maka mereka hidup dengan bersandar pada dalil-dalil keras, atau bahkan hidup tanpa perlu lagi menelisik dalil-dalil.

Bahkan sama-sama merujuk pada suatu ayat, hasil akhirnya bisa berbeda. Persis seperti orang memasak. Sama-sama pakai daging ayam, hasilnya bisa berupa soto atau gulai.

Jadi, semua kembali kepada Anda. Pasar tidak menentukan, apakah Anda mau masak soto atau rawon. Andalah yang menentukan. Andalah yang meramu bahan dan bumbunya. Andalah yang memilih untuk damai atau keras. Anda boleh saja mengklaim bahwa Anda komprehensif. Kenyataannya tidak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *