Para Mahasiswa, Belajarlah!

Saya bertemu dengan mahasiswa jurusan ushuluddin, UIN. Saya tanya,”Nanti kalau sudah lulus kamu mau kerja apa?” Seperti saya duga, ia gelagapan, tidak bisa menjawab. Mohon maaf, mahasiswa jenis ini banyak. Kuliah di jurusan “tidak jelas”, dan tidak jelas juga apa tujuannya kuliah.

Jangan marah dulu kalau saya menyebut jurusan “tidak jelas”. Tidak ada maksud menghina. Saya hanya membicarakan realitas. Jurusan “tidak jelas” adalah jurusan yang tidak begitu jelas ke mana lulusannya akan bekerja. Tidak jelas dalam pengertian, tidak diketahui dengan baik oleh khalayak, tidak dipahami dengan baik oleh mahasiswa maupun dosen, atau, memang sempit kemungkinan lapangan pekerjaan yang tersedia. Salah satu jurusan tidak jelas ini adalah jurusan filsafat. Para mahasiswanya malah sering menjadikan isu “mau kerja apa” ini sebagai bahan untuk mengolok-olok diri mereka sendiri.

Saya sendiri berasal dari jurusan yang termasuk kategori “tidak jelas”. Dulu waktu saya masuk kuliah tak banyak orang tahu lulusan jurusan fisika itu bisa jadi apa. Bahkan tak banyak yang tahu bahwa jurusan itu ada di universitas! Situasinya sangat kontras dengan jurusan-jurusan favorit dan “jelas” seperti teknik elektro, teknik sipil, kedokteran, dan sebagainya. Sampai kini pun jurusan fisika masih bisa digolongkan “tak jelas”.

Apa yang dipelajari orang di jurusan ushuluddin? Ini adalah jurusan yang mempelajari hal-hal fundamental dalam soal iman Islam, termasuk di dalamnye seluk beluk akidah. Lalu, pekerjaan apa yang bisa dilakukan oleh lulusannya? Tentu saja pekerjaan yang berkaitan dengan agama. Saya tidak tahu banyak soal ini, tapi perkiraan saya adalah ia bisa menjadi guru agama (termasuk dosen), atau periset untuk masalah keagamaan. Untuk periset tentu saja diperlukan jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Kementerian agama juga mungkin memerlukan pengetahuan mereka. Selain itu lulusan di bidang ini juga bisa menjadi wartawan.

Adakah peluang kerja bagi mereka di dunia industri? Menurut saya peluangnya kecil. Hampir tak ada industri yang memerlukan pengetahuan itu. Maka lulusan dari jurusan ini harus punya kemampuan lain, kalau ingin masuk ke dunia industri. Sebenarnya tidak hanya jurusan ushuluddin, atau program studi agama yang demikian. Ada begitu banyak jurusan yang tidak tersambung dengan baik ke dunia kerja formal, seperti sosiologi, antropologi, sastra, juga bidang-bidang ilmu dasar seperti matematika dan fisika.

Perlukah berkecil hati? Tidak. Soal tersambung atau tidak, itu hanya soal hukum yang makro saja sifatnya. Secara mikro, tidak ada orang yang dipastikan bisa bekerja hanya berdasarkan atas jurusan kuliahnya. Usaha setiap oranglah yang akan memastikan ia akan mendapat pekerjaan.

Kepada para mahasiswa saya selalu menganjurkan untuk membangun portofolio. Apa itu portofolio? Ia adalah satu set pengetahuan dan keterampilan di suatu bidang, yang punya nilai atau daya jual di dunia kerja, khususnya industri. Seorang sarjana matematika murni mungkin akan sulit masuk kerja di dunia industri. Peluangnya akan membesar bila ia bisa melakukan pemrograman. Bila ditambah lagi dengan pemahaman tentang proses-proses bisnis, maka ia akan bisa mendesain sistem atau tool komputer yang menjadi alat bantu dalam proses bisnis. Hal itu akan memberi solusi bagi banyak persoalan industri, sehingga punya nilai di dunia kerja. Seorang mahasiswa ushuluddin tadi, bila ia punya kemampuan menulis dan jurnalistik, ia bisa menjadi seorang wartawan.

Intinya, para mahasiswa perlu menetapkan tujuan, ke dunia mana ia akan bekerja. Kemudian, ia harus mengumpulkan informasi soal portofolio apa yang harus dia bangun untuk bisa masuk ke bidang itu. Setelah itu ia harus membangun portofolio. Portofolio bisa terdiri dari pengetahuan dari membaca berbagai buku, ikut kursus, magang, atau kerja freelance. Semakin nyata pengalaman yang dimiliki, semakin besar peluang untuk masuk ke dunia kerja.

Lalu, apa gunanya belajar sosiologi, antropologi, ushuluddin, fisika, matematika, dan sebagainya, kalau pada akhirnya tidak terpakai? Siapa bilang tidak terpakai? Banyak yang tidak menyadari bahwa kompetensi utama yang harus dimiliki sebagai hasil belajar di perguruan tinggi adalah kemampuan belajar. Lulusan perguruan tinggi dilatih untuk menguasai seperangkat ilmu, dan prosesnya dilakukan secara (lebih) mandiri. Bidang ilmunya bisa apa saja. Jadi, sosiologi, antropologi, matematika, fisika, dan sebagainya itu hanyalah contoh dari seperangkat ilmu tadi. Seperangkat ilmu itu tidak cukup untuk berkarir, atau bahkan untuk sekedar masuk ke dunia kerja. Mereka masih harus menambah lagi dengan berbagai perangkat ilmu lain, atau memperdalam lagi ilmu yang sudah ada, baik saat sebelum masuk kerja maupun sesudahnya. Sebenarnya setelah bekerja nanti mereka justru harus lebih intensif menambah ilmu. Bila tidak, mereka tidak akan berkembang dalam karir.

Jadi, seorang mahasiswa sebaiknya punya portofolio. Lebih bagus bila ia punya lebih dari satu portofolio. Misalnya seorang mahasiswa akutansi punya portofolio pembukuan untuk sebuah industri manufaktur. Ia bisa menambahnya dengan portofolio tentang perpajakan. Kalau ditambah lagi dengan pengetahuan tentang proses bisnis manufaktur secara detil, ditambah kemampuan aplikasi komputer seperti SAP, maka dijamin mahasiswa seperti ini tidak akan menganggur.

Semua itu masih perlu ditambah lagi dengan kemampuan berbahasa asing. Bahasa Inggris itu mutlak perlu. Kalau bisa ditambah lagi dengan bahasa lain seperti Mandarin, Jepang, atau Perancis, nilai tawar mahasiswa itu akan semakin tinggi. Yang tak kalah penting adalah jaringan. Punya kenalan di berbagai tempat di dunia kerja adalah sesuatu yang sangat berharga, khususnya bila kenalan itu adalah orang yang menenpati posisi kunci.

Banyak mahasiswa yang merasa cukup hanya belajar sesuai kurikulum, ikut ujian dan lulus dengan nilai tertentu. Untuk masuk ke dunia kerja itu semua tak cukup. Mereka harus membangun portofolio. Karena itu mereka harus belajar, dan belajar lebih giat lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *