Pakaian dan Pikiran Seksual

skirt
Hari ini saya melihat dua foto di Facebook. Keduanya tidak saling berhubungan satu sama lain. Tapi dalam pikiran saya kedua foto ini menyampaikan pesan yang sangat kuat soal ketelanjangan dan pelecehan seksual.
 
Foto pertama sebuah meme. Ada gambar cangkul di situ. Kemudian ada pesan tertulis: “Masih mau mengumbar aurat? Masih mau berkhalwat? Ingat, cangkul masih banyak.” Kita yang membacanya langsung bisa menebak kandungan pesan di meme tersebut. Ini terkait dengan kasus perkosaan dan pembunuhan sadis, di mana pelaku menganiaya korbannya dengan cangkul. Pembuat meme hendak menyampaikan pesan bahwa perempuan diperkosa dan dilecehkan karena ia mengumbar aurat, termasuk dalam kasus pembunuhan sadis tadi.
 
Foto kedua adalah foto suasana Bali tahun 1941, di sebuah sekolah. Ada murid-murid perempuan yang memakai kain batik di bagian bawah seperti para perempuan memakai sarung batik saat ini. Bedanya, di bagian atas mereka tidak memakai apapun, alias bertelanjang dada. Foto semacam ini bisa kita temukan di banyak media, menggambarkan bahwa di Bali pada masa itu para wanita memang biasa bertelanjang dada.
 
Bila kepercayaan pembuat meme di atas adalah sebuah kebenaran, tentulah di Bali pada masa itu banyak pelecehan seksual, bukan? Bisa kita bayangkan kalau perempuan pakai rok mini saja menyebabkan perkosaan, tentulah perkosaan lebih intens di tempat di mana perempuan bertelanjang dada. Begitukah faktanya? Saya tidak tahu persis bagaimana suasanya sosial di Bali ketika itu. Tapi rasanya mustahil ada masyarakat di mana orang dengan enteng memperkosa begitu saja.
 
Di Papua pun kini masih banyak perempuan yang tidak pakai baju, atau pakai baju seadanya. Kita pun tidak mendengar perempuan sering diperkosa di sana. Di Singapura kita bisa menyaksikan perempuan berpakaian minim di tempat-tempat umum, bahkan sampai larut malam. Angka kejahatan perkosaan rendah di sana. Demikian pula di Jepang.
 
Parahnya, orang-orang seperti pembuat meme ini jarang menyalahkan pelaku. Pemerkosa itu adalah manusia sinting. Ia tidak hidup dengan standar nalar dan tata krama manusia biasa. Ia memperkosa karena menganggap calon korbannya bisa diperkosa. Tidak peduli ia pakai rok mini atau pakai cadar. Bukankah di Jakarta ini pernah ada korban perkosaan yang pakai jilbab? Jadi tidak ada hubungan antara pakaian orang dengan perkosaan atau pelecehan seksual. Sebab utama perkosaan adalah adanya manusa bejat.
 
Nah, dari mana pikiran ini berasal? Salah satu sumbernya menurut dugaan saya adalah situasi Arab di abad ke 7. Saat itu untuk pergi berak saja pun orang harus keluar rumah. Di luar rumah itu padang pasir. Banyak begal berkeliaran di situ. Mereka mengincari budak-budak perempuan, untuk diganggu dan diperkosa. Maka pada waktu itu ada ajaran agar perempuan merdeka memakai kerudung. Kerudung ini memberi tanda bahwa mereka bukan budak, sehingga mereka tidak akan diganggu. Fakta itu kemudian direkam di dalam Quran, menjadi salah satu ayat yang dijadikan sandaran untuk mewajibkan pemakaian jilbab.
 
Pola pikir inilah sepertinya yang dianut pembuat meme tadi. Pola pikir dia adalah pola pikir begal Arab abad VII, yang selalu mengincar perempuan yang membuka auratnya. Boleh jadi ia pun akan bertingkah seperti begal itu bila ada kesempatan.
 
Bagi saya perkosaan bukan karena pakaian perempuan. Perkosaan itu terjadi karena masih ada laki-laki bermental begal. Sayangnya, banyak laki-laki dengan mental seperti ini hidup dalam posisi terhormat, berbungkus aksesori bersimbol agama.
 
Tapi bukankah agama Islam mengajarkan untuk menutup aurat? Ya, tapi agama Islam juga mengajarkan untuk menjaga pandangan. Terlebih, agama Islam sangat ketat memerintahkan untuk menjaga kemaluan! Tidak ada ada dalam ajaran Islam hal yang membenarkan orang untuk melakukan pelecehan seksual hanya karena perempuan yang ia lihat tidak menutup aurat. Sekali lagi, hanya begal yang berperilaku begitu.

One thought on “Pakaian dan Pikiran Seksual

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *