Pak Martoyo

Pertama kali ikut praktikum Fisika Dasar, di semester pertama kuliah di UGM saya sempat kecewa. Dosen pengajarnya adalah seorang dosen tua. Ketuaan tak bisa disangkal dari wajahnya yang sudah sangat keriput, dan gerakan tubuhnya yang sangat perlahan. Pendidikannya cuma S1. Doktorandus. Padahal bayangan saya, kuliah di UGM itu artinya saya akan dibimbing oleh dosen-dosen bergelar doktor, lulusan luar negeri.

Reaksi awal para mahasiswa terhadap penampilan Pak Martoyo umumnya seragam, senyum-senyum setengah meledek. Penampilannya memang unik, atau aneh. Bajunya terlihat sangat sederhana, bahkan cenderung terlihat lusuh dan butut.

Ketika kami masuk ke kelas, Pak Martoyo sudah berdiri di sana. Sepertinya ia sudah di situ sejak setengah jam sebelumnya. Papan tulis panjang di ruang kelas sudah penuh dengan tulisan materi kuliah. Ketika tiba waktu kuliah, ia mengajar berdasarkan atas materi itu. Kami harus mendengar kuliah sambil mencatat. Rasanya seperti dicurangi oleh Pak Martoyo.

Hal pertama yang diajarkan Pak Martoyo adalah teknik pengukuran. Ia membawa sebuah model jangka sorong yang besar, dan memperkenalkan kepada kami cara menggunakan jangka sorong. Dengan bahasa Indonesia berlogat Jawa yang medok, ia menjelaskan. Penjelasannya pun terdengar lucu, seperti dialog pada drama ketoprak.

Praktikum Fisika Dasar bernilai dua kredit. Itu artinya selama 6 jam setiap minggu kami harus berada di laboratorium. Mulai dari mendengar penjelasan pembimbing, mempersiapkan alat percobaan, mengambil data, hingga merumuskan analisa. Itu nanti masih harus ditambah lagi dengan tugas menulis laporan. Kegiatan ini menjadi kegiatan yang sangat melelahkan. Paling melelahkan dalam sepekan.

Hal terpenting yang selalu diulang-ulang oleh Pak Martoyo adalah tertib dalam pengukuran. “Kalau Anda salah sudut ketika membaca jangka sorong atau termometer, hasil pengukuran bisa salah.” kata beliau. Beliau juga selalu mengingatkan untuk mengulangi pengukuran beberapa kali, disertai penjelasan tentang teori ralat.

Terus terang, kegiatan praktikum ini jadi momok yang menyebalkan setiap minggu. Pengukuran berulang-ulang, kegiatan yang menyita nyaris sepanjang hari, dan Pak Martoyo yang lama-lama jadi terasa menyebalkan. Tapi ini mata kuliah wajib, dan harus diambil selama dua semester. Jadi, meski tersiksa, tak ada cara untuk menghindarinya.

Ketika kuliah di semester berikutnya ada banyak praktikum. Terasa bahwa di setiap praktikum itu kami mengulang-ulang hal yang kami terima selama praktikum Fisika Dasar. Hanya objek yang diukur saja yang berbeda. Lama-lama jadi terbiasa. Tata cara pengukuran menjadi sesuatu yang melekat pada tubuh. Seperti keterampilan naik sepeda, yang kita tak mungkin bisa lupa.

Saya baru merasa berterima kasih pada Pak Martoyo ketika saya melakukan riset pada studi S2-S2, juga saat saya bekerja sebagai peneliti di Jepang. Kewaspadaan akan adanya ralat atau error dalam pengukuran hadir di dalam diri saya seperti malaikat pengawas. Ia selalu mengingatkan saya pada sumber-sumber error yang mungkin akan terjadi pada setting eksperimen yang saya lakukan. Juga pada langkah pengukuran saya. Sebagai peneliti saya harus mengantisipasinya.

Hal itu adalah sesuatu yang paling mendasar dalam kegiatan riset. Kesahihan data adalah titik yang paling awal. Orang tak bisa bicara tentang analisa apapun bila datanya tak sahih. Ketika mengirim naskah untuk jurnal, penilai biasanya akan mencecar keras bila ia melihat celah tempat munculnya ketidak sahihan data pada metode eksperimen kita. Di situ sekali lagi saya merasa seakan Pak Martoyo hadir di sisi saya. Tak disangka, dari berbagai dosen saya yang bertabur gelar akademik, justru Pak Martoyo yang begitu saya rasakan kehadirannya.

Terima kasih, Pak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *