Parenting Out of the Box

Banyak orang terjebak dalam sekat-sekat virtual dalam hidup. Termasuk dalam pengasuhan anak. Kita semua pernah jadi anak, jadi remaja. Tapi kita begitu takut saat anak-anak kita tumbuh menjadi remaja. Kenapa? Karena kita sudah lupa bagaimana rasanya jadi remaja. Kita sudah bertransformasi jadi orang tua, dengan karakter yang ada pada orang tua kita dulu. Boleh jadi sosok dengan karakter itu dulu kita benci. Kini kita menjadikan diri kita sosok yang dulu kita benci.

Saya ditanya, bagaimana kita membendung pengaruh negatif gawai (gadget) terhadap anak-anak kita. Saya tanya balik, secara out of the box, mengapa yang terpikir olehmu adalah pengaruh negatif gawai? Kenapa tidak kau perkaya dirimu dengan manfaat gadget, dan dorong anak seluas-luasnya untuk memanfaatkannya?

Saya mengajari anak-anak saya gawai untuk mencari informasi, dengan Google, Youtube, Google Earth, dan banyak lagi aplikasi lain. Saya banyak menjelaskan pelajaran sekolah dengan bantuan aplikasi tersebut. Tentu saja kami juga bersenang-senang dengan gawai, dengar musik, main game, dan nonton film.

Kenapa banyak orang tua yang khawatir soal pengaruh buruk gawai terhadap anak? Karena mereka adalah korban pengaruh buruk itu. Mereka orang-orang yang terbelenggu oleh gawai, tak mampu mengendalikan diri. Mereka para orang tua yang curang. Biarlah aku jadi korban, yang penting anakku jangan.

Ini adalah orang tua yang sama curangnya dengan yang menjawab “tidak tahu” ketika anaknya bertanya soal pelajaran. Anak-anak diwajibkan tahu, sementara orang tuanya tetap nyaman menjadi orang yang tidak tahu.

Bagaimana mencegah agar anak-anak tidak jadi korban gadget? Berhentilah bertingkah sebagai korban gawai. Perbanyaklah waktu untuk beraktivitas bersama anak-anak.

Kalau semua itu Anda lakukan, akankah anak-anak Anda kena pengaruh negatif dari gawai? Kalau gawai dipegang untuk cari informasi, belajar, membaca, apa yang perlu kita khawatirkan?

Gawai ini hanya suatu produk teknologi. Sebelum ini kita sudah banyak mengalami perpindahan dari satu produk teknologi ke produuk yang lain. Dari radio ke TV. Dari sepeda ke sepeda motor. Ada kalanya perpindahan itu menjadi masalah, ada kalanya tidak. Ia jadi masalah ketika kita tidak tahu cara menggunakannya dengan bijak.

Semua produk teknologi itu datang dengan tata cara penggunaan. Masalahnya, kita sering mengimpor produknya saja, minus tata cara atau etiket penggunaaannya. Contohnya, kita beli sepeda motor, tapi tidak peduli soal tata krama saat memakainya. Anak-anak kita juga kita paparkan kepada sepeda motor tanpa kita ajarkan etiketnya. Hasilnya, mereka sudah naik motor sebelum cukup umur, memakainya untuk kebut-kebutan. Lalu kita pusing menaggung akibatnya.

Jadi, bagi saya gawai itu tidak istimewa. Ia sama saja dengan produk teknologi yang lain. Kuncinya, patuhi tata cara pemakaiannya.

Kenapa anak sibuk dengan gawai hingga kecanduan? Karena orang tuanya begitu. Mengapa anak-anak bermegah-megahan dengan gawai? Karena orang tuanya begitu. Salah satu kebodohan orang tua adalah, mereka memberi anaknya gawai sebelum cukup umur, kemudian mereka khawatir akan efek negatifnya. Sadarkah mereka bahwa yang harus dikhawatirkan efek negatifnya bukan gawai, tapi justru diri mereka sendiri? Ya, orang tua itu bisa memberi efek yang sangat negatif terhadap anaknya.

Bagaimana dengan media sosial? Itu juga sama. Kenapa banyak orang tua yang sudah membuatkan akun medisa sosial untuk anaknya, sebelum mereka cukup umur? Mengapa orang tua takut soal efek negatif media sosial, sementara mereka sendiri sibuk menyebar hoax?

Berpikir out of the box dalam hal ini adalah dengan menyadari bahwa efek negatif yang paling besar potensi buruknya terhadap anak adalah diri kita sendiri. Jangan sibuk dengan efek negatif di seberang lautan, sebelum tuntas membuat daftar efek negatif yang bisa kita hasilkan.

Berapa jam sebaiknya anak main gadget? Itu sama dengan pertanyaan, berapa jam sebaiknya anak baca buku? Kalau anak boleh baca buku 2-3 jam sehari, kenapa takut kalau mereka pakai gadget selama itu? Sama saja bukan, kalau dia memakai gadget untuk membaca? Kalau ia memakainya untuk hal yang sia-sia, itu sama saja perlakuannya dengan saat ia melakukan hal sia-sia dengan (atau tanpa) perangkat lain. Makan, tidur, dan sebagainya juga harus dibatasi. Jadi jangan anggap pembatasan gawai itu penting. Ada yang lebih penting dari soal berapa lama, yaitu untuk apa ia dipakai.

Bagaimana dengan muatan pronografi? Anak saya seharusnya tidak heran lagi dengan gambar orang telanjang. Kami punya buku atlas anatomi. Di situ dia bisa melihat semua organ dengan detil. Saya sudah biasa jelaskan soal apa itu senggama, dengan gambar ilustrasi.

Bagaimana kalau suatu hari saya temukan dia mengakses muatan pornografi? Akan saya ajak dia melihatnya bersama. “Nak, ini payudara perempuan. Dalam bahasa informal boasa disebut tetek. Kadang disebut susu. Organ ini fungsi utamanya untuk menyediakan gizi bagi bayi, termasuk kamu waktu kecil dulu. Tapi ia juga adalah bagian tubuh perempuan yang harus dihormati.”

Kalau ia menonton video porno, akan saya jelaskan bahwa inilah persenggamaan. Dengan cara ini manusia mendapat kenikmatan. Tapi ini juga punya konsekuensi, yaitu kehamilan. Maka ada tanggung jawab di situ. Ada pula risiko penyebaran penyakit. Karena itu, senggama diatur dengan seperangkat aturan.

Begitu cara saya. Out of the box, bukan?

Kafir Harbi, Kafir Dzimmi, dan NKRI

Banyak sekali umat Islam yang tidak paham bahwa kedua istilah di atas adalah istilah abad VII, yang sama sekali tidak relevan untuk disebut lagi dalam NKRI di abad XXI ini. Kafir adalah golongan non muslim. Di antara mereka pada masa itu ada yang memusuhi dan memerangi umat Islam. Mereka kemudian diperangi, dan dibunuh. Mereka itu disebut kafir harbi.

Contoh kafir Harbi pada masa itu adalah orang-orang Mekah, yang sebagian dari mereka adalah kerabat nabi Muhammad sendiri. Mereka sejak awal memusuhi, dan menzalimi nabi beserta sahabat-sahabatnya. Kemudian ada pula orang-orang Yahudi di sekitar Madinah, yang tadinya adalah sekutu nabi, mengikat janji damai dalam Piagam Madinah. Kemudian mereka berkonflik, lalu berperang.

Ketika kelak sudah menjadi kuat, pasukan Islam di Madinah menaklukkan Mekah. Tidak hanya itu, mereka mendatangi wilayah-wilayah di sekitar jazirah Arab, meminta penguasa di situ tunduk di bawah kekuasaannya, dengan membayar dzijyah atau upeti. Yang mau tunduk disebut kafir dzimmi. Yang menolak tunduk akan diperangi, diperlakukan sebagaimana kafir harbi.

Itu adalah pola kekuasaan abad VII. Orang-orang berinteraksi dalam wadah negara yang basis identitasnya adalah agama. Arab basisnya Islam. Persia berbasis pada Zoroaster. Bizantium berbasis Kristen. Mereka saling berperang, saling menaklukkan. Perang antar manusia, antar raja, sering pula dianggap sebagai perang antar agama.

Apa hubungannya dengan NKRI? Tidak ada. Negara ini tidak didirikan atas dasar agama. Tidak ada kata Islam dalam UUD kita. Ingat itu. Negara ini tidak didirikan oleh orang-orang Islam, untuk orang-orang Islam. Negara ini diperjuangkan tegaknya oleh banyak orang, dari berbagai daerah asal, suku, dan agama.

Maka negara ini tidak mengenal istilah kafir. Negara ini hanya mengenal istilah warga negara, dan kedudukan mereka sama, tak peduli apa agama dan suku mereka.

Orang yang masih memakai istilah kafir hirbi dan kafir dzimmi adalah orang-orang yang salah tempat dan salah zaman. Mereka seharusnya hidup di zaman di mana negara-negara saling berperang untuk saling menaklukkan. Kita sudah lama meninggalkan kebiasaan itu. Kita tidak akan menaklukkan tetangga kita Singapura atau Malaysia. Mereka juga tidak akan ganggu kita.

Di negeri ini kita sudah punya konstitusi dan hukum. Keduanya tidak akan diubah menjadi hukum Islam. Interaksi kita adalah interaksi untuk membangun bangsa ini, bukan untuk saling menaklukkan. Tidak akan ada Indonesia atau wilayah dalam negara ini di mana orang dikenali atas dasar identitas agamanya, dan tidak akan berlaku istilah kafir harbi dan kafir dzimmi.

Kita semua warga negara, kita tidak sedang bersaing.

Yang masih merasa kita ini bersaing dan bermusuhan, sebaiknya segera mencuci otaknya yang tercemar oleh kotoran dari padang pasir.

Kebebasan Beragama dalam Ruang Konstitusi

Ada hal yang harus diluruskan soal kebebasan beragama dalam konteks konstitusi kita. Kalau tidak, ini akan ditunggangi oleh begundal-begundal yang hendak menjadikan NKRI ini negara syariah. Mereka pakai dalih, kebebasan itu diatur oleh konstitusi, untuk melakukan tindakan-tindakan inkonstitusional.
 
Apa persoalan substansial di sini? Definisi agama. Konstitusi tidak memakai definisi agama dalam pengertian definsi kaffah sebagaimana yang mereka anut.
 
Orang-orang itu memakai definisi kaffah. Semua amal dalam Islam itu adalah ibadah. Maka, apapun pelaksanaan agama, bagi mereka adalah ibadah yang dilindungi oleh UUD. Itu klaim mereka.
 
Konsekuensinya apa? Mereka akan bilang, memakai hukum pidana Islam itu ibadah bagi kami. Maka, itu juga dilindungi oleh UUD. Apakah memakai hukum pidana Islam di NKRI ini dibenarkan oleh UUD? Tidak!
 
Maka, kembalikan pada definisi, kebebasan apa yang dijamin oleh UUD kita. Ibadah apa yang diperkenankan? Ini hanya dibatasi dalam pengertian ibadah ritual. Anda mau salat, itu hak Anda. Urusan zakat, haji, dan sebagainya, itu hak Anda, dijamin oleh UUD. Bahkan, pemerintah ikut memberi fasilitas.
 
Tapi kalau Anda mau berjihad melawan orang kafir, itu tidak disediakan wadahnya dalam konstitusi kita. Kenapa? Konstitusi kita tidak mengenal istilah kafir.
 
Negara ini adalah wadah bagi bermacam umat beragama. Maka, ibadah yang tidak bersinggungan dengan umat lain, silakan. Tapi kalau bersinggungan, pelaksanaannya harus tunduk pada hukum negara.
 
Contoh. Bagi orang Islam minuman keras itu haram. Maka, cukuplah mereka tidak minum. Namun, bagi orang-orang kaffah tadi, itu tidak cukup. Bagi mereka, mencegah orang lain minum minuman keras adalah ibadah. Wait, wait. Ibadah macam begini, tidak ada tempatnya dalam wadah NKRI.
 
Umat agama lain tidak mengharamkan minuman keras. Lagipula, pertimbangan yang dipakai pemerintah dalam hal ini bukan (semata) pertimbangan agama. Pemerintah punya pertimbangan sendiri. Karena itu, untuk minuman keras tadi, aturannya tidak spesifik mengacu pada ajaran agama tertentu. Pemerintah tidak melarang minuman keras, hanya mengatur peredarannya saja.
 
Maka tidak boleh ada orang yang melarang, menghalangi, orang yang hendak mengkonsumsi atau menjual minuman keras, dengan alasan itu ibadah dia. Tidak boleh!
 
Karena itulah Rizieq dulu dipenjara, ketika anak buahnya merusak cafe-cafe yang menjual minuman keras. Rizieq menganggap perusakan itu ibadah. Tapi bagi konstitusi dan hukum kita, itu tindak kriminal.
 
Paham?

Pengeluh Bermental Korban

Ketika saya membahas soal etos kerja buruh, ada yang komentar. Kata dia, buruh-buruh kurang produktif, rendah motivasi, tidak giat, dan lain-lain, itu karena mereka diperlakukan tidak adil. Orang yang bekerja baik, rajin, dan tekun, tetap saja tidak mendapat penghargaan yang layak. Yang naik pangkat biasanya yang dekat sama atasan.

Penulis komentar mengaku kesimpulan itu dia dapat dari interaksi dengan buruh. Saya tanya? Anda sebagai apa? Jawabnya berputar-putar tak jelas.. Tapi akhirnya terjawab, dia buruh juga.

Saya juga buruh, kok. Tapi saya melihat dunia dengan cara berbeda. Perusahaan bekerja dengan sistem. Perusahaan membutuhkan orang-orang baik untuk memimpin. Maka disiapkanlah sistem pembinaan, penilaian, dan promosi. Perusahaan dengan manajemen baik, membuat sistem transparan. Orang-orang diperlakukan dengan adil.

Artinya, orang yang bekerja baik akan mendapat imbalan dan penghargaan yang baik. Itu rumus umum.

Tidak adakah kasus di mana orang dizalimi? Ada. Tapi itu kasus minor saja. Ada juga perusahaan dengan sistem manajemen yang buruk. Artinya apa? Kalau Anda kebetulan dizalimi, atau berada di sebuah sistem manajemen yang buruk, Anda sebenarnya bisa pindah. Anda terhubung dengan pasar bebas tenaga kerja. Kalau Anda sebutir intan yang kebetulan berada di comberan, Anda tinggal keluar dari situ, hijrah, dan Anda akan segera menemukan tempat yang pantas buat Anda.

Masalahnya, apakah Anda sebutir intan? Kalau Anda terus berada di kubangan comberan, carilah cermin untuk melihat diri Anda sendiri. Jangan-jangan Anda cuma sebuah kerikil kotor.

Menyalahkan pihak lain adalah cara berpikir dengan sudut pandang korban. “Saya ini dizalimi. Sudah bekerja dengan baik, tapi tidak dihargai, karena saya berada di sistem yang buruk. Apa boleh buat. Terima saja nasib saya. Memang takdir saya begini. Semoga Tuhan segera mengeluarkan saya dari sini. Semoga yang menzalimi saya kelak mendapat azab.”

Banyak orang betah bertahun-tahun berada dalam situasi itu. Keadaan itu menjadi zona nyaman baginya. Ironis bukan? Zona nyaman tapi sangat tak nyaman. Zona nyaman memang tak selalu nyaman. Orang bertahan di situ bukan karena nyaman, tapi karena takut menghadapi keadaan di luar zona itu. Ia takut untuk mengeluarkan tenaga lebih, yang diperlukan untuk membongkar tembok yang membatasi dirinya dengan dunia luar.

Seperti ia ungkap tadi, yang mendapat promosi adalah orang yang dekat dengan atasan. Apakah orang yang dekat dengan atasan itu buruk? Dalam kaca mata korban, yang dekat dengan atasan itu adalah orang yang pandai menjilat, lalu membangun hubungan kroni atau nepotis. Itu hal buruk.

Tapi kita bisa melihat keadaan dekat dengan atasan itu dari sudut pandang lain. Seseorang yang dekat dengan atasan, disukai atasan, artinya ia pandai berkomunikasi. Ia menjaga kepantasan perilaku. Ia pandai menempatkan diri. Singkatnya, ia pandai menjalin hubungan antar manusia.

Itu semua adalah keterampilan, yang tidak dimiliki oleh si pengeluh bermental korban tadi. Ketimbang memeriksa dan memperbaiki diri, ia memilih untuk mengeluh. Karena itu, ia tak beranjak dari tempatnya berada.

Dalam kasus lain, pernah seorang teman menulis tentang seorang gadis cantik. Dengan parasnya, ia segera diterima bekerja. Dalam sekejap, ia disenangi banyak orang. Siapa yang tak senang dengan gadis cantik, bukan? Dalam tempo yang tak lama, karirnya melesat naik. Ia adalah gadis yang beruntung, atau hoki. Begitu teman saya tadi menggambarkannya.

Hoki adalah konsep zona nyaman. Seseorang berhasil karena hoki. Iakebetulan memiliki sesuatu yang menguntungkan dirinya. Keberhasilan adalah sebuah kebetulan. Saya tidak berhasil karena kebetulan saya tak memiliki faktor hoki tadi.

Dengan pikiran itu kita gagal mempelajari kunci-kunci yang membuat orang sukses. Kebetulan, kan? Yang bisa kita lakukan hanyalah menunggu sampai kebetulan yang menguntungkan datang pada kita. Tak ada hal lain yang bisa dilakukan.

Tapi kita bisa melihat cerita gadis cantik tadi dengan cara lain . Pertama, ia menyadari keunggulannya. Ia cantik dan ia sadar. Ada begitu banyak gadis cantik yang tak sadar soal itu. Sebenarnya ia cantik, tapi tak berdandan dengan pantas, untuk membuat kecantikannya terlihat.

Kedua, ia nerperilaku pantas. Tak semua gadis cantik itu menyenangkan. Ada banyak yang menjengkelkan, karena ia pongah. Ketiga, ia bisa melakukan pekerjaan. Gadis cantik yang sekedar punya kecantikan, tak menyelesaikan masalah. Gadis cantik yang tak punya hal lain yang bisa dipakai untuk menyelesaikan masalah, sungguh menjengkelkan.

Artinya, dalam sudut pandang positif, gadis cantik yang melesat karirnya adalah orang yang sadar kecantikannya, dan ia membuat orang nyaman bekerja bersamanya, komunikatif, dan bekerja baik.

Maka, darinya kita bisa belajar bagaimana menemukan keunggulan-keunggulan kita, dan memanfaatkannya untuk bekerja. Kita membangun komunikasi yang baik, dan bekerja dengan baik, menyelesaikan setiap masalah yang dibebankan pada kita.

Lihatlah, bagaimana sudut pandang bisa membuat dunia menjadi tampak sangat berbeda. Berhentilah mengeluh dan menyalahkan pihak lain Perbanyaklah evaluasi diri. Tingkatkan keterampilan dan keahlian. Bangun hard skill dan soft skill.

Kata Covey, kalau kau selalu melihat masalah ada di luar dirimu, ada pada pihak lain, makau kamu adalah orang yang paling bermasalah.

Hadits Palsu dan Politisasi Islam

Hadits adalah perkataan atau perbuatan nabi Muhammad yang disampaikan secara verbal antar generasi. Hadits baru dikumpulkan dan ditulis secara sistematis beberapa abad setelah wafatnya nabi Muhammad.

Pola periwayatannya, dalam suatu peristiwa nabi mengatakan sesuatu. Perkataan itu didengar banyak orang, beberapa orang, atau satu orang. Pendengar menceritakannya kepada orang lain. Orang-orang itu kemudian menyampaikannya lagi. Dengan cara itulah hadits tersebar.

Perkataan nabi yang didengar banyak orang, kemudian diteruskan kepada banyak orang, disebut hadits mutawatir. Karena sejumlah orang tidak mungkin berdusta bersama maka hadist mutawatir dianggap otentik, atau sahih. Jumlah hadits mutawatir ini relatif sedikit, dibanding jumlah hadits secara keseluruhan.

Bila perkataan atau perbuatan nabi hanya disaksikan oleh satu atau sedikit orang, maka hadits itu disebut hadits ahad. Hadits ahad ini dibagi dalam beberapa kategori. Bila rantai penyampai hadits (sanad) itu terdiri dari orang-orang dengan reputasi baik, maka hadits dianggap sahih (otentik). Bila dalam rangkaian itu ada yang kurang baik reputasinya, maka hadits itu dianggap lemah atau dhaif.

Di bawah itu ada hadts yang derajatnya maudhu, atau palsu. Ini hadits yang tidak bisa dilacak jalur riwayat sanadnya yang terhubung langsung dengan nabi. Dipastikan, atau kuat dugaan, itu adalah perkataan seseorang, mengatas namakan nabi.

Kenapa ada orang yang membuat hadits palsu? Ini bagian menariknya. Salah satu penyebab utama munculnya hadits palsu adalah politik. Dunia Islam sejak awal sejarahnya sudah diwarnai oleh konflik politik.

Tak lama setelah nabi wafat, sudah terjadi friksi. Orang-orang Madinah (anshar) berkumpul untum menetapkan pemimpin, pengganti nabi. Mendengar itu, Umar dan Abu Bakar mendatangi mereka, mencegah jangan sampai orang anshar yang dipilih. Akhirnya mereka berhasil meyakinkan orang-orang anshar, lalu terpilihlah Abu Bakar. Ali, menantu dan sepupu nabi tidak dilibatkan. Dia sempat marah ketika itu, tapi kemudian bersikap legawa, sehingga konflik tidak meluas.

Ketika Usman jadi khalifah, wilayah kekuasaan sudah meluas. Berbagai kepentingan muncul. Sisa bara friksi tadi juga belum padam. Lalu terjadilah pemberontakan. Usman kemudian terbunuh.

Ali naik menghamtikan Usman. Perpecahan terus terjadi. Aisyah, janda nabi, memberontak. Terjadilah Perang Unta. Aisyah bisa ditaklukkan Ali. Tapi Muawiyah, kerabat Usman, anak Abu Sufyan, menantang. Pecahlah Perang Shiffin.

Sempat terjadi rekonsiliasi setelah perang itu, tapi sifatnya palsu. Kekuasaan Ali sudah dilemahkan. Ia kemudian dibunuh oleh golongan Khawarij, faksi lain di luar faksi Ali dan Muawiyah. Muawiyah kemudian mengambil alih kekuasaan. Lalu ia membangun dinasti Umayyah.

Dalam konflik itulah muncul hadits-hadits palsu. Orang berlomba-lomba membuat pembenaran. Masing-masing merasa pihak yang (paling) benar, dan mencari stempel pembenaran. Dari mana stempelnya? Dari nabi.

Pada zaman itu orang sudah tahu bahwa nama Tuhan punya kekuatan besar kalau dipakai berpolitik. Tapi firman Tuhan tak bisa dipalsukan. Yang bisa dipalsukan adalah sabda nabi, karena belum ada buku catatannya. Maka lahirlah hadits-hadits palsu.

Bisakah Anda bayangkan? Ada orang yang denga enteng berdusta, atas nama nabi. Dari mana sumber energi untuk berdusta itu? Nafsu untuk berkuasa. Itu sudah san abad yag lalu, di masa awal sejarah Islam.

Itu terus berlangsung. Orang terus berdusta untuk mencapai kekuasaan. Mereka menciptakan fakta-fakta palsu, di bawah naungan nama Tuhan dan nabinya, atas nama membela Islam. Seperti belasan abad yang lalu, memakai nama Tuhan sangat efektif untuk membuat sekelompok manusia percaya.

Jadi, kalau perkataan nabi saja bisa dipalsukan untuk politik, sekedar hoax, dusta, itu hal kecil saja. Demikian pula dengan tafsir-tafsir palsu atas ayat-ayat Quran. Semua bisa dibuat demi kepentingan politik.