Orang Kampung Masuk Hotel

img_1075

Ini adalah masa-masa yang sangat menyenangkan buat saya. Bermula dari panggilan telepon dari kantor Japan Indonesia Forum (JIF), pada suatu hari. “Mr. Hasanudin, congratulation, you have passed the selection for Asian Youth Fellowship program.” Artinya, saya lolos seleksi, mendapat beasiswa untuk kuliah ke Jepang.

Hari-hari berikutnya adalah masa persiapan untuk berangkat. Saya akan menjalani pelatihan bahasa Jepang di Kuala Lumpur, sebelum pergi ke Jepang. Masa pelatihannya 1 tahun. Saya berangkat ke Jakarta, mengurus semua dokumen yang diperlukan, lalu pada hari yang ditetapkan, saya pun berangkat.

Ada sedikit uang tabungan yang saya bawa. Dengan uang itu saya membeli baju di Matahari, Senen. Celana warna gelap, kemeja biru, warna kesukaan saya, dan sepasang sepatu warna hitam. Pakaian itu saya kenakan di hari berangkat itu, ditambah dasi pemberian orang sebelum saya berangkat dari Pontianak.

Sekitar pukul 10 pagi pesawat yang saya tumpangi mendarat di bandara Sepang, Kuala Lumpur. Dada saya bergemuruh, rasanya cukup kuat untuk mengalahkan gemuruh mesin pesawat yang sedang bergerak menuju tempat parkirnya. Betapa tidak. Saya baru saja mendarat di Kuala Lumpur! Ini adalah kunjungan pertama saya ke luar negeri. Ini adalah langkah pertama terwujudnya mimpi saya. Saya ingin sekolah ke luar negeri, itu mimpi saya dulu. Kini itu bukan mimpi lagi.

Setelah melewati pemeriksaan imigrasi saya menuju ke pintu keluar. Saya sempat agak khawatir, apakah yang menjemput saya benar-benar datang? Ah, tapi itu cuma sebentar. Di pintu keluar segera saya temukan seseorang, saya bisa pastikan ia orang Jepang, membawa papan kecil bertuliskan “Mr. Hasanudin”. Saya segera menghampirinya.

“Hello, I am Hasanudin.”

Dia menyambut saya dengan senyum lebar.

“Welcome to KL. My name is Hamano.”

Dia kemudian mengajak saya keluar bangunan bandara. Tak lama kemudian kami dijemput oleh sebuah mobil, di lobby bangunan. Di dalam mobil sudah ada seorang anak muda Jepang. “This is Mr. Takenaka, he has just arrived from Osaka. He will take care of you and other students during your stay in KL,” kata Mr. Hamano menjelaskan.

Kami tiba di sebuah tempat di pusat kota KL. Belakangan saya tahu namanya kawasan Bukit Bintang. Tempat yang kami tuju adalah sebuah hotel, namanya Federal Hotel.┬áMr. Hamano melakukan proses check in untuk saya. Ia kemudian menyerahkan sejumlah uang ringgit, uang kedatangan, sambil menjelaskan bahwa uang beasiswa akan diberikan nanti. Ia juga menjelaskan bahwa biaya hotel sudah dibayar. Saya hanya perlu membayar makan untuk keperluan saya. Sebelum meninggalkan saya, dia berpesan,”Don’t make international call from your room, it is expensive. Use public phone.”

Saya kemudian diantar ke kamar oleh petugas hotel. Tiba di kamar saya langsud sujud syukur. Semua ini terasa bagai mimpi. Hotel ini terasa sangat mewah buat saya. Eh, inilah pertama kali saya masuk ke kamar hotel. Semua serba luar biasa.

Saya merasa seperti Kevin, anak kecil yang terpisah dari keluarganya saat pergi liburan dalam film Home Alone 2. Saya cobai semua barang yang ada di kamar hotel. Saya telepon resepsionis, sekedar untuk tanya arah kiblat, padahal saya sudah melihat tandanya. Sekedar untuk mencoba teleponnya. Kemudian saya isi bath tab dengan air panas sampai penuh, lalu saya berendam di situ. Kemudian saya pakai hair dryer untuk mengeringkan rambut. Lalu saya rebahan, menikmati kasur hotel yang empuk.

Puas mencobai semua peralatan di kamar, saya keluar hotel, berbekal sejumlah uang yang saya terima tadi. Di sebelah hotel ternyata ada mal. Saya masuk ke situ untuk makan siang. Saya pergi ke gerai McDonald. Ya, saya ingin mencobanya di sini. Di Indonesia baru sekali saya makan di McDonald. Saya agak kecewa ternyata McDonald di KL tidak menyediakan hidangan nasi. Tapi tak apa, hidangan hamburger yang saya makan lezat belaka.

Selesai makan saya beli kartu telepon. Saya telepon Teh, kakak saya. Ingin rasanya menelepon Emak, tapi tak ada telepon di rumah tempat Emak tinggal.

“Aku dah sampai ni, di Kuala Lumpur.”

“Alhamdulillah, selamat ya.”

“Iya, aku diinapkan hotel. Baguuuus benar hotelnya.”

“Bertuahnya kau, Dik. Banyak-banyak bersyukur ya.”

“Iya. Sampaikan salam untuk Emak, ya. Bilang, aku dah sampai.”

Singkat saja pembicaraan telepon kami, karena ongkosnya mahal. Saya kembali ke hotel, menikmati kamarnya lagi. Kali ini saya temukan pesawat telepon di kamar mandi. Saya telepon lagi resepsionis, sekedar untuk mencoba pesawat telepon itu. Kemudian saya menyalakan TV, menonton sambol tiduran di kasur empuk. Kadang saya pindah ke sofa, juga untuk menikmati keempukannya.

Dua malam saya menginap di situ, kemudian saya dipindahkan ke asrama yang telah disiapkan. Belakangan baru saya tahu bahwa saya dan beberapa pelajar yang ikut program ini terpaksa diinapkan di hotel karena kamar asrama yang disediakan untuk kami belum siap.

Tahun 2002 ketika saya lulus doktor, saya sempatkan untuk mampir ke KL, memberi kuliah ke sekolah tempat saya belajar bahasa Jepang, kepada para peserta program yang sama. Waktu itu saya sudah bertiga, bersama istri dan Sarah yang baru berumur 7 bulan. Sengaja saya menginap kembali di hotel yang sama.

Kali ini saya tentu tidak lagi riang gembira melihat kamar hotel. Kini saya bergembira karena saya sudah lulus kuliah. Perjalanan panjang yang berat, berakhir sudah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *