Orang Fasiq Jadi Khalifah

khalifah

Yazid bin Muawiyah dikenal dengan julukan al-khumur. Dalam bahasa kita sekarang Yazid Arak atau Yazid Pemabuk. Tidak hanya Yazid, anak cucunya yang kemudian meneruskan kepemimpinan sebagai khalifah pun demikian. Ada yang suka berendam di bak berisi anggur, sambil meminum anggur itu. Ada pula yang homoseks. Ada yang suka memanah mushaf Al-Quran.

Tentu timbu pertanyaan, benarkah sistem ini masih pantas disebut khilafah? Ulama seperti Maududi enggan menyebutnya khilafah. Ia lebih suka mnyebutnya kerajaan. Khilafah dipercayai sebagai sistem yang dibangun untuk menegakkan hukum syariat Allah. Tapi bagaimana mungkin syariat bisa tegak di tangan khalifah yang fasiq seperti itu?

Tapi begitulah. Meski mengakui bahwa para khalifah itu fasiq, para penganjur khilafah masih tetap ngotot mengatakan bahwa kekhalifahan Bani Umayyah tetap sah. Seorang intelektual Hizbut Tahrir yang berdiskusi dengan saya dengan tegas menyebut Yazid itu fasiq. Dokumen di homepage HTI sendiri menyebut bahwa orang fasiq tidak boleh menjadi khalifah. Tapi, sekali lagi, mereka tetap menyebutnya khalifah yang sah.

Dokumen lain di website HTI yang membahas status kekhalifahan Bani Umayyah mengatakan bahwa tindakan Muawiyah mengangkat Yazid sebagai putra mahkota adalah keliru. Mereka juga menyebut bahwa baiat yang dilakukan oleh rakyat terhadap Yazid dan keturunannya adalah baiat pedang dan uang. Tapi sekali lagi, menurut mereka itu tetap khilafah. Yazid dan anak cucunya itu hanyalah oknum saja. Sistemnya tetap sistem khilafah, kata mereka.

Lalu, apa itu sistem menurut mereka? Saya mencoba memahaminya dengan cara tukang masak. Mereka itu ibarat orang mau masak soto ayam, pegang buku resep soto ayam, tapi langkah-langkah praktek yang mereka ambil adalah langkah-langkah orang memasak gulai ayam. Ketika masakan jadi, mereka ngotot menyebutnya soto ayam.

Mengapa sebutan khilafah kepada Umayyah, lalu Abbasiyah, hingga ke Turki Usmani itu penting? Ini soal propaganda saja. Kalau kekhalifahan diakui hanya sampai ke masa Ali, terlalu singkat. Tak banyak hal yang bisa dibanggakan dari sudut pandang kejayaan materialis seperti luas wilayah maupun pencapaian lain selama masa khulafaur rasyidin. Dari zaman itu hingga ke abad 20 terbentang rentang waktu ribuan tahun. Kalau kekhalifahan hanya diakui hingga ke zaman Ali, maka telah terjadi kevakuman yang sangat lama. Adapun “khalifah rasa kerajaan” itu berlanjut hingga ke zaman Turki Usmani di abad XX. Jadi mereka bisa mengklaim bahwa kekhalifahan bisa dibangkitkan kembali, karena baru mati sebentar. Mungkin hanya mati suri saja.

Jadi, gagasan khilafah ini memang sebuah gagasan penuh mimpi. Mereka hanya memerlukan cerita-cerita penuh semangat, untuk mengumpulkan orang. Setelah itu, Anda tahu sendiri, kerumunan manusia itu sungguh berharga saat ini.

2 thoughts on “Orang Fasiq Jadi Khalifah”

  1. Bagi sebagian ulama klasik pun mendukung pemerintah yang lalim demi keutuhan negara adalah sebuah kewajiban. Mungkin kawan-kawan HTI memakai logika pikir seperti itu. Selama yang ditegakkan adalah negara (kerajaan) Islam, meski pemimpinnya fasiq pun harus tetap di dukung.

  2. berarti diskusinya anda belum selesai sma intelektual HTI tersebut atau anda hnya memaparkan sesuatu yg mnjadi hal yg nemang anda tidak setuju dengan itu,meskipun itu hal yg benar..
    bijaklah!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *