Northern Exposure, Semangat untuk Pekerja Muda

1 April 2016 0 Comments

Lulus kuliah tahun 1994, berawal dari keisengan, saya diterima bekerja sebagai junior field engineer di sebuah perusahaan kontraktor minyak. Tempat tugas waktu itu di Pendopo, di pedalaman Sumatera Selatan. Iseng, karena saya ikut seleksi dengan niat iseng saja. Saya sudah memantapkan niat untuk menjadi dosen, sehingga tidak pernah memikirkan untuk mencari kerja di dunia industri. Saya ikut tes sekedar ingin tahu, bagaimana proses seleksi, dan menguji apakah saya memenuhi syarat untuk diterima. Tadinya saya berpikir untuk menolak saja kalau pun diterima. Ternyata dari sejumlah peserta tes, saya satu-satunya yang lulus. Lalu bagaimana? Karena kebetulan sedang tidak ada kegiatan, saya terima saja tawaran untuk bergabung, sekedar mencari pengalaman.

Saat saya dalam persiapan berangkat stasiun TV RCTI mulai menyiarkan sebuah film seri berjudul Northern Exposure. Film ini bercerita tentang seorang dokter muda keturunan Yahudi bernama Joel Fleischman, yang sudah sukses bekerja di pusat kota New York. Ia menikmati suksesnya, serta menikmati hidup sebagai kaum muda elit di New York. Tiba-tiba saja semua kenikmatan itu “dirampas”, saat ia harus menjalankan tugas wajib kerja dokter di Cicely, pedalaman Alaska. Ia harus meninggalkan kehidupan glamornya, menuju sebuah tempat antah berantah. Film ini bercerita tentang berbagai kegalauan anak muda yang merasa hidupnya telah dirampas. Namun setelah sampai di tujuan, ternyata ada banyak interaksi yang indah dengan penduduk setempat.

Saya waktu itu sangat suka menonton film ini. Sebelum berangkat saya tonton 2-3 episode, kemudian sisanya saya tonton saat sudah di Pendopo. Meski tidak persis sama, ada kemiripan situasi film dengan yang saya hadapi. Saya biasa tinggal di Yogya, banyak kawan, bisa bergaul ke mana-mana. Tiba-tiba pindah ke Pendopo. Tak ada orang yang saya kenal di sana kecuali karyawan di unit kerja yang jumlahnya tak lebih dari 10 orang. Di luar itu adalah orang-orang dari perusahaan lain yang tak berhubungan dengan kami, sehingga tak pernah ada interaksi. Koran baru tiba menjelang magrib. Hiburan hanya berupa TV dengan antena parabola. Malam usai makan, biasanya bersama penghuni bachelor house yang hanya 2-3 orang, kami pergi ke wartel untuk menelepon teman atau keluarga.

Banyak orang harus menghadapi situasi ini, khususnya para pekerja muda. Ada yang ditugaskan ke pedalaman Papua, atau ke pulau-pulau terpencil. Atau sebaliknya, dari daerah yang sepi dan damai, tiba-tiba harus pindah ke hiruk pikuk Jakarta yang kejam. Kita akan mengalami gegar budaya dan gegar lingkungan. Situasi makin parah bila rekan kerja, terlbih atasan, ternyata tidak bersahabat. Tapi sebaliknya ada yang bergembira dengan perubahan tempat itu.

Bagaimana melewati masa sulit akibat perpindahan itu? Tidak ada cara lain kecuali dengan mencari, bahkan mencari-cari kenikmatan di tempat baru. Artinya, berusaha menikmatinya. Seperti yang digambarkan dalam film Northern Exposure, pada akhirnya tempat tujuan Joel Fleischman tidak sangat buruk. Alam yang tadinya ia benci sebagai New Yorker, perlahan memikat hatinya. Keunikan pasien-pasien lokal menciptakan berbagai drama lucu. Lalu ada cerita romantis dengan Maggie O’Connell. Pada akhirnya cerita Fleischman menjadi penuh dinamika yang indah.

Itulah yang harus kita lakukan. Di Pendopo saya mencoba menikmati alam berupa lahan-lahan kering yang kritis. Pompa angguk yang tersebar di mana-mana adalah pemandangan yang selalu saya cari. Perjalanan ke ladang minyak saat bertugas, melewati jalan tanah berdebu kalau kering, becek berlumpur saat hujan, selalu saya nikmati seakan saya sedang ikut rally. Rig di lapangan minyak dengan berbagai alat berat adalah pemandangan baru yang menyenangkan. Teman saya membeli kamera dan mulai menekuni fotografi. Ada juga yang membawa pancing, dan menyempatkan untuk memancing saat melewati rawa-rawa di dekat lapangan tempat tugas kami saat senggang. Masih ada banyak lagi hal-hal menarik yang membuat kita senang.

Persoalan utamanya adalah bagaimana berdamai dengan situasi dan mencari keindahan dari hal-hal yang tidak kita sukai. Terlebih, kita mendapat imbalan dari pekerjaan kita. Baik imbalan instan berupa gaji, maupun imbalan jangka panjang berupa penambahan skill dan pengalaman kerja. Dengan membangun cara pandang positif, yakinlah bahwa tidak akan ada tempat kerja yang tidak menyenangkan. Kuncinya terletak pada bagaimana kita memandangnya. Kita mau menyenangkan diri, atau meratap. Itu adalah pilihan kita.

One thought on “Northern Exposure, Semangat untuk Pekerja Muda”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *