Nikmatnya Hidup Sekuler

 
Bulan puasa. Saya masuk kantor seperti biasa. Di kantor ada beberapa orang yang tidak puasa. Tiba waktu makan siang, mereka makan seperti biasa. Tidak perlu sungkan atau sembunyi-sembunyi. Para perokok juga tetap merokok seperti biasa. Kantin dan restoran tetap buka. Yang puasa tidak makan, yang tidak puasa silakan makan. Tidak ada ribut-ribut minta dihormati, juga tidak ada paksaan untuk menutup warung. Kami yang puasa sama sekali tidak terganggu dengan aktivitas orang makan minum dan merokok. Yang tidak puasa juga tidak perlu sungkan atau risih sama yang puasa.
 
Saya berbelanja berbagai keperluan, dengan uang tunai atau kartu kredit. Saya terima gaji di rekening bank. Ada bank konvensional, ada pula yang syariah. Tapi saya tahu semua berinduk pada Bank Indonesia yang mengelola sistem perbankan berbasis bunga. Bunga yang katanya riba, dan haram. Tapi semua orang di negara ini bahkan di seluruh dunia, memakai sistem itu. Meski mereka mengaku anti riba.
 
Saya bersyukur ada fiat money, yang kini berkembang menjadi semakin abstrak, yaitu data money. Sebagian uang saya tidak lagi berbentuk uang kertas. Ia cukup menjadi data saja di server bank. Sekian puluh juta masuk ke rekening, sebagian saya belanjakan dengan kartu kredit atau debit, tanpa saya tarik tunai. Saya terima uang berbentuk data, keluarnya pun berbentuk data.
 
Saya tak perlu lagi mempertahankan sistem mata uang intrinsik yang sesuai syariah. Sistem sekuler memungkinkan transaksi menjadi lebih praktis.
 
Lebaran. Usai silaturahmi dengan keluarga besar, kami istirahat di hotel. Tak pedlu ada pengecekan status pernikahan kami. Pihak hotel tidak repot-repot dengan urusan itu, karena memang bukan urusan mereka. Juga tidak akan ada petugas syariah yang mengecek ke kamar-kamar, memastikan tidak ada pasangan yang bukan suami istri yang menginap.
 
Yang ingin hotel syariah disediakan. Silakan pergi ke sana. Hidup bebas saja.
 
Kami berwisata ke kolam renang. Kolam penuh oleh pengunjung. Ada yang pakai celana pendek, ada yang bercelana agak panjang. Ada yang pakai baju menutupi seluruh tubuh. Ada yang pakai bikini. Semua bercampur di satu kolam yang ramai. Sesekali bersenggolan. Biasa saja. Tidak perlu ada yang merasa birahi, karena orang ke sini untuk berenang, bukan untuk melepas nafsu syahwat.
 
Di pantai juga begitu. Orang bebas bermain, tanpa khawatir ada pasukan berjubah dan berjenggot panjang yang melarang orang bermain di pantai. Juga tidak perlu ada polisi syariah yang memeriksa apakah pasangan yang sedang bermesraan itu suami istri atau bukan.
 
Saat belanja di supermarket saya lihat beberapa anak muda membeli minuman keras. Boleh saja. Mereka memilih untuk minum, silakan. Syaratnya, jangan sampai menimbulkan gangguan bagi orang lain. Juga jangan sampai merusak badan sendiri. Di supermarket dijual daging sapi dan ayam. Juga ada daging babi. Orang boleh memilih sesuai kebutuhan mereka.
 
Nikmat bukan, hidup sekuler? Kita mau jalankan agama sesuai kadar yang kita inginkan, silakan. Intinya, jangan atur iman dan ibadah orang lain. Cukuplah kita sibukkan diri kita dengan iman dan ibadah kita. Toh, kalau Anda percaya ada hari kiamat, di hari kiamat nanti Anda disidang atas iman dan amal Anda, bukan atas iman dan amal orang lain.
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *