Nandemoya

nandemo

Kalau ditanya soal apa pekerjaan saya, saya sering menjawab “nandemoya”. Dalam bahasa Jepang “nandemo” artinya apa saja. “Ya” artinya pelaku, sama seperti akhiran -er dalam bahasa Inggris. Nandemoya artinya melakukan pekerjaan apa saja. Dalam bahasa kita disebut palugada, apa lu mau gue ada.

Prinsip saya tidak menolak pekerjaan. Baik pekerjaan itu merupakan tanggung jawab saya sejak awal, maupun tugas-tugas yang tadinya bukan merupakan pekerjaan saya. Baik saya bisa mengerjakannya, maupun yang saya sama sekali buta tentangnya. Hal yang tadinya bukan merupakan tugas saya pada akhirnya menjadi tanggung jawab saya. Hal yang tadinya saya tidak tahu, akhirnya saya jadi tahu. Beberapa di antaranya saya kuasai sampai tingkat ahli.

Saya menyebut sikap ini proaktif. Kalau keberatan dengan istilah itu, bolehlah disebut progresif, atau bahkan provokatif.

Mengapa bersikap begitu? Banyak orang yang enggan mengambil pekerjaan. Banyak pula yang menolak bila diberi tugas tambahan. “Pekerjaan saya sudah banyak.” “Saya tidak bisa.” “Apa untungnya buat saya?” Itu adalah sederet alasan penolakan, dan masih banyak lagi jenisnya. Jadi, kenapa saya mau?

Alasan pertama, seperti pernah saya tulis dalam topik lain, bekerja itu membahagiakan. Getting things done is happines. Menyelesaikan masalah itu membuat saya bahagia. Masalah di depan mata, merisaukan banyak orang di sekeliling kita. Namun tidak ada yang mau mengurusinya. Bagi saya itu mengesalkan. Maka saya memilih untuk maju menyelesaikan. Kalau berhasil, saya merasa bahagia.

Kedua, mengerjakan sesuatu membuat saya belajar. Begitu saya selesai mengerjakan sesuatu, saya mendapat tambahan ilmu dan keterampilan soal apa yang saya kerjakan. Hampir 9 tahun terakhir ini saya belajar banyak hal melalui pekerjaan saya.

Tahun 2007 saat mulai bekerja di perusahaan, pengetahuan saya tentang perusahaan nyaris nol. Sebelum itu, hampir selama 12 tahun saya menekuni karir sebagai peneliti sains, ditambah sedikit pengalaman sebagai dosen. Sejak hari pertama bekerja saya belajar. Mula-mula mengenai urusan human resources (HR). UU Ketenagakerjaan, administrasi kontrak kerja, perburuhan, pengupahan, payroll. Kemudian soal training, promosi, struktur organisasi, dan seterusnya. Juga soal-soal tenaga kerja asing. Saya juga belajar hal-hal yang biasanya dikerjakan staf general affar (GA), meliputi berbagai jenis perizinan. TDP, keterangan domisili, berbagai perizinan investasi (SP, IUT, dll). Kemudian soal legalisasi perusahaan, perubahan bidang usaha, sampai ke registrasi di Kemenkumham.

Tak lama bekerja, saya mulai ditugasi membawahi masalah administrasi keuangan. Saya belajar banyak dari bawahan saya, seorang akuntan. Mulai dari balance sheet, profit loss, COGS, inventory, depresiasi. Lalu saya mulai belajar perpajakan. PPN, PPh (orang pribadi, orang asing, dan badan), juga soal transfer price.

Pada saat yang sama saya juga mengurusi soal ekspor-impor. Berbagai urusan impor dan ekspor saya tangani dengan bantuan forwarder. Kemudian saya berinisiatif mengubah perusahaan saya menjadi kawasan berikat. Semua urusan perizinannya dari nol saya urus sendiri. Kemudian saya atur sistem administrasi internal perusahaan, menyesuaikan dengan regulasi kawasan berikat.

Dalam hal produksi, saya belajar soal teknik injeksi plastik, molding, dan bahan-bahan plastik. Saya juga belajar soal manajemen produksi untuk perakitan produk-produk plastik. Kemudian saya juga belajar manajemen produksi filling produk cairan dan padat.

Begitulah. Saya terus belajar banyak hal lain. Business development, supply chain, product development, market development. Setiap mengerjakan sesuatu saya belajar, lalu ilmu dan keterampilan saya bertambah. Pernah saya tulis soal ini, dari “nandemo yatte miru” (mencoba mengerjakan apa saja), menjadi “dandemo dekiru” (bisa apa saja).

Ketiga, dengan mengerjakan sesuatu saya berkenalan dengan lebih banyak orang. Artinya network saya meluas. Saya berkenalan dengan orang-orang HR-GA, lalu pajak dan keuangan, forwarding dan logistik, berbagai jenis prizinan, bea-cukai, juga berbagai jenis supply chain. Network adalah salah satu hal yang sangat penting dalam portofolio kita.

Apa untungnya buat saya? Begitulah. Orang sering berharap segera dapat imbalan dari apa yang ia kerjakan. Bahkan tidak sedikit yang berharap ada imbalan dulu baru bekerja. Naik pangkat dulu, baru mau diberi pekerjaan tambahan. Bagi saya, dari pengalaman saya, imbalan itu pasti datang. Ketika kita sudah membuktikan bahwa kita bisa, pekerjaan itu otomatis menjadi tanggung jawab kita. Ketika tanggung jawab kita sudah besar, otomatis itu diikuti dengan kenaikan gaji. Ketika selesai mengurus perubahan perusahaan menjadi kawasan berikat, yang efeknya pengurangan biaya produksi sekian persen, ditambah beberapa tugas lain yang saya ambil alih, tanpa saya minta, bos saya mengangkat saya jadi direktur, dari status manager.

Bagaimana kalau kita sudah capek-capek bekerja, sudah mendapat tambahan skill, sudah menunjukkan prestasi, tapi tetap tidak dihargai? Coba cek dulu, benarkah begitu? Jangan-jangan kita cuma GR saja, merasa sudah begini dan begitu. Makanya biasakan membuat portofolio. Kalau ternyata memang sudah, mengapa terus bertahan di perusahaan yang tidak menghargai karyawannya? Dunia tak selebar daun kelor. Kita berdiri di dalam pasar bebas tenaga kerja. Carilah pekerjaan baru. Laku atau tidaknya kita di pasar bebas adalah salah satu ukuran peningkatan kapasitas kita. Bila kita laku, artinya kapasitas kita memang sudah meningkat. Kalau tidak laku, artinya kita cuma GR saja.

Jadi, jangan menolak tambahan pekerjaan. Jadilah nandemoya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *