Mono Yori Omoide

image

Kata-kata di atas adalah serangkaian kata-kata di penutup iklan mobil Nissan Serena di TV Jepang. Iklannya bisa dilihat Yuotube.

Makna rangkaian kata-kata tersebut adalah “kenangan (omoide) lebih penting daripada benda (mono)”. Suasanya itulah yang hendak disampaikan melalui iklan ini. Konsep mobil ini memang mobil untuk keluarga. Melalui tayangan gambar anak-anak yang menikmati permainan dalam perjalanan bersama orang tua mereka. Atau dalam versi lain, anak-anak kelelahan, tidur di pangkuan ibu mereka di dalam mobil.

Saya tidak pernah punya mobil Serena. Tapi tanpa Serena pun saya bisa menikmati hal yang sama. Sejak dulu saya suka bepergian dengan keluarga, dengan mobil. Hingga kini itu terus berlangsung.
Mobil pertama saya adalah sebuah city car (di Jepang disebut keijidousha atau mobil ringan) Honda Today. Bermesin 650 cc, dengan empat seat, mobil kecil ini cukup untuk keluarga kecil. Waktu itu keluarga kami baru berisi tiga orang, anak kami baru satu, yaitu Sarah. Mobil ini saya beli seharga 50,000 yen, dengan kurs waktu itu cuma setara dengan 4,8 juta rupiah. Murah? Ya, mobil bekas memang murah di Jepang.

Sudah sejak lama sebenarnya kami ingin punya mobil. Meski di Jepang tersedia transportasi umum memadai, untuk kota kecil seperti Kumamoto tempat kami tinggal dulu jangkauannya masih relatif terbatas. Banyak tempat menarik yang ada di luar kota, nyaris tak mungkin dijangkau kalau tak punya mobil. Cuma, meski harga mobil bekas tergolong murah, tabungan saya tak terbilang banyak untuk segera membeli mobil. Setelah saya lulus dan mulai bekerja, akhirnya setelah bersabar sekian lama, terbeli juga mobil itu.

Masalah selesai? Belum. Saya tidak punya SIM. Di Indonesia saya tidak pernah menyetir. Mengambil SIM di Jepang itu bukan perkara mudah. Orang harus ikut sekolah menyetir baru bisa lulus ujian yang maha sulit itu. Sedangkan untuk ikut sekolah menyetir diperlukan biaya minimal 250,000 yen, atau lima kali lipat harga mobil yang saya beli! Padahal waktu itu saya baru mulai bekerja, tabungan saya juga belum banyak.

Bukan hanya soal uang. Sekolah menyetir itu juga menyita waktu. Diperlukan total minimal 15 jam latihan di tahap pertama, kemudian 15 jam lagi di tahap kedua. Minimal artinya kalau kita lulus dalam setiap materi latihan. Di tahap pertama maksimal kita hanya boleh mengambil 2 jam latihan sehari, sedangkan di tahap kedua maksimal 3 jam. Artinya setidaknya dibutuhkan 13 hari. Itu masih ditambah dengan sekitar 40 jam pelajaran teori di kelas. Walhasil diperlukan sekitar 2-3 minggu.

Bagaimana saya bisa bolos dari kantor selama itu? Nggak tahu, deh. Ini situasi sulit. Mobil sudah dibeli. Sebentar lagi liburan musim panas. Kalau sampai masuk masa liburan belum juga dapat SIM, maka istri dan anak-anak saya akan sangat kecewa. Maka tanpa berfikir lebih panjang lagi saya putuskan untuk masuk ke sekolah menyetir. Bagaimana mengatur waktunya, nantilah difikirkan.

Pekerjaan saya sebagai peneliti cukup fleksibel dari sisi waktu. Saya tidak harus secara rutin hadir pada jam tertentu. Yang penting target pekerjaan bisa diselesaikan. Begitulah. Setiap pagi saya berangkat ke sekolah menyetir. Paling pagi, saat kebanyakan anak-anak muda Jepang peserta kursus menyetir itu masih tidur, memastikan saya dapat giliran latihan. Lalu setelah itu selesai sambil menunggu latihan berikutnya saya ikut kelas teori.

Kelas teori ini bukan perkara mudah. Semua materi disajikan dalam bahasa Jepang. Meski kemampuan bahasa Jepang saya sudah tingkat mahir, tetap saja melelahkan mendengar kuliah dalam bahasa orang lain. Yang pelik, saya harus mengingat banyak hal detil untuk keperluan ujian.

Usai latihan dan menghadiri kelas-kelas itu biasanya sudah sore hari. Dan saya harus mulai mengerjakan tugas-tugas yang menumpuk. Tak jarang saya baru bisa pulang ke rumah di atas jam 1 malam. Dan esoknya pergi lagi untuk latihan.

Singkat cerita, saya akhirnya lulus dan dapat SIM. Waktu yang saya habiskan cuma 15 hari. Orang-orang Jepang umumnya butuh 30 hari, bahkan ada yang sampai berbulan-bulan. Itu karena mereka harus banyak mengulang materi latihan dan juga mengulang ujian. Saya hanya perlu mengulang materi latihan 4 jam dan langsung lulus di setiap ujian (dua ujian praktek dan dua ujian teori).

Hari itu adalah hari bahagia. Saya punya SIM dan besok adalah hari pertama musim panas. Malam itu teman saya mengundang kami sekeluarga untuk makan malam di rumahnya. Kebetulan dia tinggal di lantai 14 di sebuah kondominium, dan malam itu di dekat rumahnya itu diselenggarakan pesta kembang api. Malam itu saya menyetiri anak istri saya untuk pertama kali, dan malam harinya kami menikmati pesta kembang api sambil makan malam. Saikou! The best experience ever!

Hari-hari setelah itu adalah hari-hari jalan-jalan. Tiada waktu libur yang tak kami habiskan dengan bepergian. Pagi-pagi berkemas. Main sepanjang hari. Pulang dengan Sarah tergelatak tidur pulas di atas child seat di samping istri saya di kursi belakang. Saya duduk menyetir sendirian di depan.

Mobil kami waktu itu memang bukan mobil keren seperti Serena. Tapi kenangan yang kami buat dengan mobil itu tentu tak kalah dengan kenangan dengan mobil apapun. Karena, seperti kata iklan Serena tadi, benda itu tak penting benar. Tapi indahnya kenangan yang kita raih dari benda yang kita miliki, itulah yang berharga.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *