Miskin Pikiran dalam Bentuk Lain

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Miskin Pikiran dalam Bentuk Lain
 
Saat berbincang dengan kawan di Kediri malam ini saya terkenang pada kampung halaman. Kampung saya, Teluk Nibung, bertetangga dengan Batu Ampar. Orang yang hidup di Kalimantan Barat, khususnya Pontianak dan sekitarnya di tahun 70-80 pasti tahu Batu Ampar. Tempat ini laksana surga, atau setidaknya mesin uang.
 
Masa itu adalah puncak pembalakan hutan di sana. Hutan dibabat habis-habisan, dijual ke luar negeri dalam bentuk kayu gelondong, atau dalam bentuk olahan sederhana, berupa papan atau kayu persegi. Terjadi eksploitasi besar-besaran. Tentu saja ada kegiatan ekonomi besar di situ. Orang-orang kampung yang tadinya hanya bekerja sebagai petani dan nelayan, banyak yang beralih jadi buruh industri kayu. Banyak juga yang berbisnis, menopang bisnis kayu yang besar itu. Taraf hidup mendadak meningkat.
 
Keluarga kami turut menikmati cipratan rezeki instan itu.Emak waktu itu berdagang kain dan baju serta berbagai pernak-pernik lain. Omset dagangannya meningkat drastis. Orang-orang kampung kami meningkat daya belinya. Di samping itu Emak juga meluaskan jangkauan dagangnya sampai ke Batu Ampar, walau tidak terlalu banyak.
 
Tidak hanya pekerja yang kaya. Orang-orang pemerintah semua kaya. Polisi, bea cukai, syahbandar, kehutanan, semua kaya. Setiap orang berlomba untuk mendapat penugasan di sana. Mereka membawa pulang uang dalam koper-koper besar. Uang didapat dari berbagai jenis suap yang menyertai bisnis besar itu.
 
Tapi eksploitasi alam selalu punya ekses. Waktu itu masih terlalu mewah untuk bicara soal kerusakan lingkungan alam. Tidak ada yang peduli. Yang tampak di depan mata adalah kerusakan sosial.
 
Orang-orang kaya mendadak, berubah pula perilakunya secara mendadak. Mereka berfoya-foya. Seorang juragan kecil di kampung saya segera membangun rumah mewah, lengkap dengan generator listrik untuk menerangi rumah. Rumah dilengkapi dengan TV, kulkas, radio kaset dengan pengeras suara besar. Itu belum seberapa. Salah seorang kerabat jauh Ayah membangun rumah yang sangat besar di kampung, dengan puluhan kamar.
 
Batu Ampar menjadi pelabuhan alam terbesar, berskala internasional. Kapal-kapal berbendera asing berlabuh di sana. Awak kapal mencari hiburan. Menjamurlah kedai-kedai minum lengkap dengan wanita penghibur. Pelacuran menjadi hal yang niscaya.
 
Kemakmuran instan itu berumur tak lebih dari 10 tahun. Kayu habis, sawmill tempat penggergajian kayu tutup. Puncaknya adalah kebakaran besar di kawasan pasar, pusat bisnis Batu Ampar. Sejak itu banyak orang yang pingsan, jatuh miskin.
 
Kami sekeluarga waktu itu baik-baik saja. Berkah ekonomi instan itu membuat Emak bisa membangun rumah kecil di Pontianak, tempat kami tinggal selama sekolah. Uang hasil dagang ketika itu membantu menyelesaikan sekolah abang-abang saya. Banyak pula orang kampung yang mengikuti jejak kami, menyekolahkan anak-anaknya ke kota. Mereka tamat, kemudian bekerja sebagai guru, pedagang, dan lain-lain.
 
Tahun lalu saya rutin berkunjung ke Kalimantan Selatan untuk urusan batu bara. Saya menyaksikan hal yang sama, dengan skala yang lebih mencengangkan. Ada begitu banyak orang kaya di sana, menghamburkan uang dengan cara-cara yang mencengangkan. Tapi ketika bisnis batu bara merosot, bagaimana mereka nantinya? Bukan tidak mungkin akan banyak yang pingsan. Ya, sebenarnya sudah banyak yang pingsan.
 
Ini juga soal pola pikir. Banyak orang kaya, tapi miskin pikiran. Mereka mendapat uang dengan mudah, tapi tak tahu bagaimana harus berbuat dengan uang itu. Ini tak hanya dialami oleh masyarakat awam, tapi juga pemimpin daerah. Mereka membelanjakan uang untuk foya-foya. Sedikit saja yang berinvestasi secara waras untuk kemajuan daerah secara jangka panjang.
 
Sementara itu kerusakan sosial begitu nyata. Belum lagi kerusakan lingkungan alam. Anak-anak muda, khususnya perempuan, terjebak dalam kecanduan narkoba dan pelacuran. Suatu malam saya diajak ke diskotik, saya saksikan ratusan gadis belia menjajakan diri dalam keadaan teler.
 
Eksploitasi alam menghasilkan orang-orang kaya dalam skala mencengangkan. Tapi semua itu tidak gratis. Ekses lingkungan dan sosialnya tidak pernah benar-benar dihitung, dan sebagian besar dibebankan kepada rakyat kecil. Persoalannya bermuara pada miskin pikiran. Rakyat kecil miskin pikiran. Pemimpin juga miskin pikiran.
 
Maka sekali lagi, pembangunan ekonomi hanya akan bermanfaat secara sahih bila kita semua berhasil membebaskan diri dari miskin pikiran. Emak saya buta huruf. Tapi dia tidak buta pikiran dan mata hati. Dia memilih investasi yang sangat hebat: Pendidikan!
 

sumber foto: wikipedia

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *