Mesjid Yes, Gereja No Way!

mesjid

Cerita ini terjadi saat saya masih menjadi dosen di sebuah PTN di Kalimantan. Suatu hari sebuah perbincangan sambil menyelesaikan suatu urusan dengan staf administrasi di kampus menyerempet ke sebuah isu sensitif.

“Hampir saja kita kecolongan, Bang”, kata staf administrasi yang berjilbab itu mengadu, setelah sekian lama tak bertemu saya karena saya lama meninggalkan tanah air untuk tugas belajar.

“Ada apa?”, tanya saya.

“Iya, beberapa waktu lalu orang-orang Kristen berniat mendirikan gereja di kampus ini. Untung kita cepat tahu, lalu bergerak mencegahnya. Alhamdulillah kita berhasil.”

“Kenapa dicegah? Kenapa dihalangi?”

“Lho, kan…..”

“Mbak, saya ini hampir 8 tahun tinggal di Jepang. Selama itu saya jadi minoritas dalam hal agama. Coba Anda bayangkan bagaimana rasanya kalau niat saya hendak membangun mesjid atau beribadah selama saya berada di Jepang dihalangi orang.”

“Mbak mengkhawatirkan kristenisasi?” tanya saya

Ia mengangguk.

“Apa iya kalau berdiri gereja di kampus ini lantas orang berbondong-bondong masuk Kristen?”.

Ia lalu terdiam, dan percakapan kami berakhir.

Pola fikir staf administrasi tadi sebenarnya pernah saya anut. Waktu itu saya masih kuliah di UGM dan aktif di organisasi dakwah kampus. Saat itu di UGM belum ada mesjid, dan kami sedang bersiap untuk mengumpulkan dana bagi pembangunan mesjid. Mantan Rektor, alm. Koesnadi Hardjasoemantri menjadi ketua panitia.

Saat itu kami mendengar bahwa org-org Kristen akan mendirikan gereka di kampus. Lokasinya tak jauh dari lahan yang hendak digunakan untuk membangun mesjid. Kami langsung bereaksi. Rencana pembangunan gereja ini harus dihentikan!

Kami, beberapa aktivis Islam di kampus melakukan berbagai lobi. Yang terutama tentu kepada Rektor. Pergilah kami menghadap Rektor, menanyakan soal rencana itu, dan tentu saja (niatnya) menekan Rektor agar membatalkan atau mencegah rencana itu kalau benar adanya.

Sambil menunggu di ruang tamu kantor Rektor, kami berbincang dengan sekretaris Rektor. Topiknya tentu soal yang sama dengan yang hendak kami adukan ke Rektor. Lucunya, belakangan baru kami tahu bahwa sekretaris Rektor tadi adalah seorang penganut agama Kristen. Ampun, deh!

Pola fikir saya berubah saat saya merasakan pengalaman menjadi minoritas. Yaitu saat saya kuliah di Jepang. Saya pernah tinggal di kota kecil di bagian selatan Jepang. Jumlah orang Islam di kota itu sangat sedikit. Tak lebih dari 50 org. Hampir semua adalah mahasiswa asing.

Karena jumlah kami kecil, kami tak mampu untuk sekedar menyewa apartemen untuk digunakan sebagai mesjid, sebagaimana dilakukan oleh muslim di berbagai kota. Kami mengandalkan kebaikan hati satu dua profesor yang mau meminjamkan ruangan di kampus untuk dijadikan mushalla.

Suatu ketika kami tak lagi diperbolehkan memakai ruangan itu. Alasan pihak kampus, ruangan itu akan dipakai untuk keperluan akademik. Lagipula Jepang adalah negara sekuler, urusan peribadatan warga tidak boleh melibatkan fasilitas milik pemerintah. Saat itu kami benar-benar kesulitan. Kami harus salat Jumat berpindah-pindah tempat. Untunglah akhirnya ada profesor yg mau membantu mencarikan ruangan untuk dijadikan mushalla.

Di kota lain di mana saya pernah tinggal juga, kami menyewa dua ruangan apartemen untuk dijadikan mushalla. Di situlah kami melaksanakan shalat Jumat serta pengajian. Bagian lain dari apartemen ini adalah tempat tinggal yang disewa oleh orang lain, orang Jepang. Kami harus berhati-hati agar aktivitas kami tidak mengganggu kenyamanan mereka.

Kami mengumpulkan dana untuk pembangunan mesjid. Belasan tahun diperlukan hingga akhirnya dana itu terkumpul. Baru 3 tahun yang lalu kota tempat saya tinggal itu memiliki mesjid. Untungnya pemerintah Jepang yang sekuler itu tidak menghalangi. Selama syarat-syarat mendirikan bangunan dipatuhi tidak ada masalah.

Semua kejadian yang saya alami di Jepang itu mengingatkan saya pada nasib minoritas, khususnya orang Kristen di Indonesia. Mereka sering kesulitan mendirikan gereja. Beribadah di ruko atau di rumah milik sendiri pun sering diganggu. Kami, muslim yang minoritas di Jepang, untungnya tidak mengalami hal itu. Alangkah indahnya kalau minoritas di negeri muslim juga tidak mengalami hal itu.

Kembali ke cerita di kampus tempat saya kerja tadi. Di kampus ini ada mesjid yang cukup besar. Dulu dibangun oleh Yayasan Amal Bakti Muslim Pancasila. Lalu, di setiap fakultas didirikan mushalla yang juga tak kecil. Tapi itu pun ternyata tak cukup. Di banyak bangunan di fakultas masih saja ada ruangan yang difungsikan sebagai mushalla. Bagi mereka yang malas untuk ke mushalla fakultas, bisa shalat di mushalla kecil ini. Yang sedikit rajin berjamaah di mushalla fakultas. Yang lebih rajin, ke mesjid.

Melihat ini semua saya merasa sesak. Keterlaluan benar orang muslim ini.

Jaman Rasulullah masih hidup, di Madinah hanya ada satu mesjid. Apa umat Islam ketika itu tidak mampu membangun lebih dari satu? Rasanya tak mungkin. Orang ketika itu rela menyumbangkan apa saja untuk Islam. Mesjid hanya satu dengan tujuan persatuan. Di situlah semua orang berjamaah, bersilaturrahmi. Di satu tempat.

Kota Madinah ketika itu memang kota kecil. Saya tentu tak berharap kota sebesar Jakarta hanya punya satu mesjid. Itu tak masuk akal. Tapi saya yakin kota Madinah di jaman itu lebih besar dari area kampus saya. Kalau Madinah cukup dengan satu mesjid, kenapa kampus tidak? Kenapa kampus masih perlu ditambah dengan beberapa mushalla, plus puluhan ruangan untuk pengganti mushalla?

Dalam situasi yang sudah berlebih itu, orang Islam masih ribut ketika orang Kristen hendak mendirikan satu gereja. Hanya satu gereja saja.

Adilkah kita ini? Tidakkah kita ini berlebihan?

Seingat saya tidak adil dan berlebihan adalah dua sifat yang dibenci Allah.

103 thoughts on “Mesjid Yes, Gereja No Way!”

  1. Dinegara berdasarkan PANCASILA, tidak seharusnya ada diskriminasi religi. Namun perlu pemikiran, apakah perlu atau sangat mendesak,kepentingannya. Juga kondisi budaya setempat, akankah mereka hisa akur kelak, jika didirikan 4 jenis rumah ibadah ditengah kampus? Apakah tidak akan terjadi penyusupan provokator pemogram politik divide et empera?

    1. di Bali berdiri 5 tempat Ibadah yang saling berdampingan..semua saling menghargai satu sama lain..

    2. Klo tdk bs akur, berarti kedewasaan masyarakat meghadapi perbedaan yg perlu dibina. Bukannya menghalangi minoritas beribadah.
      Penyusupan program politik provokator devide et impera bisa terjadi di mana saja. Selama ada minimal dua org berkumpul dan berkomunikasiz maka hal itu bs terjadi. Contoh, di warung kopi org bs berkumpul. Jd qt larang ads warung kopi? Di halte bus. Kita larang juga? Di Lobby rumah sakit ada yg berkumpul. Qta larang juga? Di mesjid pun org berkumpul. Qta larang juga?

      1. Terima kasih Kang Hasan atas pendapat nya di share pada kami semua. Menurut saya pemikiran yg islami itu yang seperti ini. Semoga lebih banyak lagi orang yang berpikir seperti kang hasan. Sehingga Islam itu di hormati dan dicintai oleh semua orang agama apapun. Sama seperti Nabi Muhammad SAW yg dihormati dan dicintai bukan hanya oleh jemaahnya saja.

    3. Keren sekali pemikiran anda…. coba anda lihat dikota Malang, gereja bersebelahan dengan Masjid Jami…. apa ada program blakatukkatukbla seperti yang anda bilang itu? JANGAN BERPIKIRAN NEGATIF SEBELUM MENYAKSIKAN SENDIRI…. Pakai pikiran logis anda.

      1. Di kota malang sih sama aja seperti kota2 lain di jawa, umat muslimnya sirik ke umat kristen. Setiap ada pembangunan gereja selalu saja ada orang sirik yg berusaha menggagalkan pembangunan tsb. Alasannya? Klise, persis spt ditulis di atas.
        Pembangunan baru bs jalan kalau dibackup penuh oleh kepolisian dan TNI. Minglem dah itu mulut.
        Saya jg tinggal di malang bro, meski malang sepi dr isu agama tdk kemudian lehidupan beragama di sini baik.
        Selalu saja ada muslim dgn pikiran2 FPI ini.

    4. Justru karena ketakutan dari Upik Banun inilah dijadikan landasan bagi diskriminasi. Contoh dari cerita yang di Jepang, apakah pemerintah lokal disana ada ketakutan-ketakutan seperti pemikiran Upik Banun? Tidak ada. Ketakutan-ketakutan ini hanyalah penafsiran yang dipaksakan.

    5. Buat saudara Upik banun, yang tahu urgensi tempat ibadah tersebut ialah yg akan menggunakan, bukan orang dr luar. Bagaimana mungkin orang yg pergi ke masjid tau mengenai urgensi pembangunan gereja? Saya rasa sudah cukup jelas di bahas saudara penulis. Apa salahnya dalam satu kampus ada 6 tempat peribadahan, kalau memang tujuannya untuk beribadah. kenapa takut di adu domba, kalau antar pemeluknya bisa saling menghormati, bukannya saling menghalangi. Akan akur atau tidak itu hal yang harus diusahakan bersama. Menurut pendapat saya justru bila ada usaha menghalangi pembangunan rumah ibadah akan membuat hubungan antar umat beragama disitu pasti menjadi tidak akur. Bila saling menghargai, keakuran menjadi suatu hal yg masih bisa di usahakan.

      1. Tapi kenyataan yg terjadi dibeberapa tempat di Indonesia tidak demikian.Sering terjadi diskriminasi pada kaum minoritas..

    6. Mba/Mas, hampir disetiap kota di jawa… di seputaran alun alun, berdiri rumah ibadat berbagai macam agama, ngga ada konflik tuh….
      Malah saling meminjamkan lahan parkiran kalau hari besar 😀

    7. Pak, terimakasih banyak atas tulisan yang indah ini, saya sendiri merasa lega sambil menghembuskan keseakan yang ada di dada.
      Jujur pak, terkadang kami merasa seperti bukan orang Indonesia padahal dengan melihat silsilah sampak ke moyang-moyang, kami memang darah indonesia asli.

      Memang sih kalau pulang ke tanah leluhur di Pulau Samosir sana, baru terasa ini tanah airku. Tapi diperantauan ini? …tak perlu saya umbar lagi, pasti bapak sudah paham itu.
      Kami tidak pernah memaksa orang lain untuk meyakini apa yang kami yakini, kami hanya ingin dihargai saja sebagai Katolik yang juga adalah umat Allah. Hanya itu saja yang kami dambakan.

      Tapi dengan membaca tulisan bapak ini, semangat berbangsa dan berbinneka ini kembali menggelora dan rasa takut itu benar-benar terhapus pak, ternyata banyak juga yang mempedulikan kami.

      Semoga bapak selalu ada dalam rahmat Allah, amin.

      1. Terima kasih sblmnya atas tanggapan mas bro Rinald Sitanggang: Dalam agama kami tertulis jelas tentang saling menghargai agama satu dgn yg lainnya ( Agama mu adalah agamu, dan Agama ku Adalah Agamaku). Jelas sudah islam mengajarkan tentang Toleransi beragama. Jadi hanya sebagian golongan Muslim yg masih berpikiran sempit tentang beragama.
        Alangkah indahnya jika hidup saling berdampingan. itulah PANCASILA

    8. @Upik
      Iya benar harus ada pertimbangan itu, tetapi apakah itu adalah alasan yang digunakan oleh yang berwenang pada insiden ini? Dan kalaupun alasan itu digunakan, maka itu sama saja dengan mengangkap dan mengusir seorang pengemis yang berjalan di daerah rumah orang kaya karena ada kemungkinan dia akan mencuri dari rumah-rumah tersebut. Apakah orang itu adalah pencuri? Mungkinkah dia tinggal di salah satu rumah tetapi suka berpakaian sederhana? Bukankah di kampus di atas ada murid yang beragama Kristen/Katolik/Buddha/Hindu?

      Jangan melarang sesuatu hanya karena ada kemungkinan masalah terjadi. Bila dengan berbagai rumah ibadah ada yang bentrok, ya itu salah mereka. Tetapi kita tetap tidak boleh mencegah hak orang untuk beragama.

      Negara ini adalah negara yang bebas. Setiap orang bebas menentukan pilihannya beragama TAMPA tekanan dari pihak manapun. Mau dia Kristen pindah Islam atau Hindu pindah Buddha. Jangan membenarkan sikap intoleran seperti ini karena sikap seperti inilah yang mendorong orang ke arah radikalisme.

      Hormati dulu sesamamu dan kau pun akan dihormati.

      @ Kang Hasan

      Senang sekali saya mengetahui ada orang yang bisa membantu menyebar sikap saling menghormati antar agama seperti anda. Saya berdoa anda akan menjadi guru yang membimbing generasi masa depan ke arah yang lebih baik.

    9. Kenapa harus takut selama niatnya baik?

      di kota saya, ada sebuah sekolah yang memiliki seluruh tempat ibadah agama yang diakui di Indonesia,meski jumlah siswanya minoritas…

    10. Apakah perlu atau sangat mendesak, kepentingannya?

      Kalau anda seorang Muslim, anda pasti mengerti pentingnya tempat untuk solat. Demikian pula juga, untuk orang dengan penganut agama lain, memiliki suatu tempat untuk beribadah bersama dengan aman dan tenteram adalah suatu kepentingan yang cukup penting, se-penting kebutuhan solat untuk umat Muslim.

      Akan mereka bisa akur kelak, jika didirikan 4 jenis rumah ibadah di tengah kampus?

      Selama mereka menekankan toleransi terhadap orang dengan agama lain, maka mereka tentu akan lebih akur. Toleransi itu diperlukan di dalam negara yang tidak punya unsur penyatu selain “Bhinneka Tunggal Ika”, atau itu hanyalah kata-kata penghias lambang Pancasila di sekolah-sekolah?

      Apakah tidak akan terjadi penyusupan provokator pemogram politik divide et empera?

      Divide et empera hanya bisa berhasil kalau adanya critical mass of people that is not tolerant. Selama kita mengajarkan toleransi terhadap orang lain yang memiliki fisiologi atau psikologi yang berbeda (selama mereka tidak mengganggu kedaulatan mereka secara personal), diharapkan critical mass itu tidak pernah tercapai (bahkan di Barat pun massa kritis ini pernah tercapai dan meledak dengan spektakuler, contohnya kebangkitan Nazi di Jerman tahun 1930an)

    11. Saya rasa tidak kawan. Di kampua ptn di solo bahkan 4 tempat ibadah dibangun berdekatan, namun mereka sama sekali tidak ada masalah. Kampus itu harus netral kawan, boleh ada kerohanian, namun kampus sendiri harus adil untuk semuanya

    12. Kalau org nya tidak beriman dan tak berotak si ya pasti ribut. Apakah selama ini betawi sunda jawa batak ambon dll perang sewaktu sama2 kuliah di 1 kampus? Kl mrk ngga, knapa harus ributin agama?

  2. Bagi yang toleran dan mau hidup damai, tinggalkanlah Indonesia. Di luar negeri jauh lebih damai dan jauh lebih toleran dibandingkan di tempat ini. Biarlah orang-orang bodoh dan intoleran saja yang tertinggal di negeri ini dan kelak mereka akan tahu bahwa negeri ini membutuhkan orang-orang toleran.

    1. Never give up bro.. ayo, jadi generasi yg lebih baik.. buat indonesia yg lebih baik.. liat niat si penulis… masih ada harapan untuk negri ini…

  3. Musholla atau mesjid rutin dipakai, sehari 5 kali digunakan. Kalau gereja? Ada yg hanya seminggu sekali, seminggu 3 kali, kalaupun ada yg tiap hari mungkin hanya sehari sekali?

    Itu Madinah pada jaman Rasulullah, bagaimana dengan Madinah pada jaman ini? Berapa jumlah masjidnya pada masa sekarang?

    Cerita anda di Tokyo adalah konsekuensi dari seseorang yang berniat untuk tinggal di daerah yg menjadikannya minoritas. Itu tidak hanya di Tokyo kok, terjadi juga ketika kita di eropa ataupun amerika untuk kaum muslim.
    Benar seperti yang anda utarakan asalkan memenuhi syarat pendirian rumah ibadah seharusnya tidak perlu dimasalahkan, karena setau saya syarat mendirikan rumah ibadah adalah persetujuan penduduk sekitar. Jadi jika penduduk sekitar merasa keberatan itu adalah hak mereka. Sama halnya jika muslim ingin mendirikan mesjid di daerah mayoritas non-muslim seperti di papua atau siantar, pastinya perlu untuk mendapatkan persetujuan penduduk sekitar.

    1. Maaf Mayoritas, gereja di tempat saya mengadakan misa pagi tiap hari jam 5:30, ada gereja lain yang mengadakan misa pagi tiap hari jam 6. Siang hari, orang2 mengadakan latihan koor, beberapa acara katekumen dan acara lainnya, dan persiapan gereja lain.
      Banyak gereja yang terpaksa mengadakan misa minggu 3-4 kali sekali karena sangat banyak yang datang untuk misa minggu, tapi mereka tidak punya tempat ibadah dan sangat sulit mendirikan gereja baru. Rasanya pendapat Anda tentang gereja hanya dipakai sekali seminggu (dan tidak butuh gereja baru) itu tidak tepat.
      Mengenai pendapat Anda tentang pendirian rumah ibadah membutuhkan persetujuan penduduk sekitar, apakah artinya di 1 kota, semua orang Islam harus tinggal di wilayah terpisah, semua orang Katolik/Kristen harus tinggal di wilayah terpisah, semua orang Budha harus tinggal di wilayah terpisah, dst, hanya supaya bisa mendirikan rumah ibadah mereka? Rasanya ini akan menghasilkan segregasi yang akan menimbulkan masalah sosial dan kultural yang baru. Artikel ini sudah mengilustrasikan prasangka “masyarakat sekitar” yang menghasilkan sulitnya pengeluaran ijin, yang mana sang penulis ingin menghapusnya. Pendapat mayoritas bukanlah musyawarah, yang mana seharusnya menjadi nilai kebudayaan Indonesia. Mohon dipertimbangkan lagi pendapatnya.

    2. Klu menurut bung penduduk sekitar sdh setuju bagaimana anda menanggapi kasus gereja Santa Clara inihttp://www.beritasatu.com/aktualitas/353937-soal-izin-gereja-santa-clara-wali-kota-bekasi-persilakan-tempuh-jalur-hukum.html , ketua RT setempat jelas menyatakan pemduduk setempat sdh setuju, bahkan dia heran mengapa penduduk dari wilayah lain yg keberatan..bahkan FKUB yg didominasi muslim setuju sampai akhirnya IMB ditandatangani Walikota Bekasi..proses yg sangat panjang, sgt tdk mudah dan melelahkan hanya ingin menyembah Tuhan yg dilindungi konstitusi RI tercinta. Dan ini yg sebenarnya terjadi, hampir selalu pihak yg keberatan itu penduduk wilayah lain padahal masyarakat setempat sama sekali tdk keberatan. Di jepang dan di negara2 barat dimana muslim kenjadi minoritas, ketika sdh menempuh prosedur yg benar tdk mungkin ada kendala dlm pembangunannya seperti yg dinyatakan dan dialami sendiri oleh penulis. Bahkan di pusat kota New York jg berdiri masjid yg megah. Bagaimana anda menanggapi hal ini ? Tidakkah ada rasa malu di hati anda ? Mari kita bangun negara kita tercinta ini spy kita bisa hidup dlm damai sejahtera, dan akhirnya menjadi bangsa yg menjadi berkat buat dunia..

    3. Ini dia nih, memakai alasan kegiatan agamanya sendiri untuk melarang kegiatan agama orang lain.
      Kalo gitu di komplek perumahan orang2 yg mayoritas beragama selain muslim, berarti mesjid mesti dilarang kalo penduduknya gk setuju dong? Nyatanya tetap aja berdiri tuh Mesjid, dengan suara toa yg keras dari subuh sampe malam. Penduduk disana ngga ada yg ( berani ) protes tuh. Apakah ini versi toleransi anda ?

    4. mayoritas : Siantar ? jangan asal tuduh siantar adalah kota yang penuh dengan toleransi , umat muslim bisa beribadah dengan damai serta mendirikan rumah ibadah , saat sholat menggunakan pengeras suara padahal itu tempat minoritas masyarakat tidak ada yang merasa terganggu dan marah
      bahkan kuburan untuk umat muslim pun berada dilingkungan orang kristen yang sama sekali ditempat itu tidak ada org islamnya , kita tidak pernah menganggap itu masalah

      Siantar Kota paling toleran dalam beragama , dan berteman lintas agama

    5. @minoritas : salut dg pengetahuan anda tentang seberapa jauh gereja di pakai.

      Ini utk tambahan pengetahuan anda pak gereja katholik di batulicin tiap pagi jam enam kurang ibadah harian pagi setiap hari.
      Kamis dan jumat misa harian jam 8 mlm.
      Hari minggu ibadah.

      Bisa jg stiap hari nya ada yg latihan koor utk misa minggu ataupun misa perayaan besar(paskah,natal).

      Yg bapak bilang kalaupun ada paling sehari sekali : pak,gereja selalu terbuka 24jam bagi umatnya yg mau berdoa. 24jam!!!

    6. Wah naif sekali anda mas/mbak mayoritas dengan kalimat ini =>> “Kalau gereja? Ada yg hanya seminggu sekali, seminggu 3 kali, kalaupun ada yg tiap hari mungkin hanya sehari sekali?”
      Saya beritahu anda biar luas pola pikirnya, kami beribadah tiap hari (7 hari dalam seminggu).

      Untuk ijin warga sekitar, perlu anda ketahui walkot Bekasi sdh mengecek langsung ke akar rumput keabsahan ijin warga sekitar mengenai pendirian gereja St. Clara dan itu tidak cacat bahkan FKUB (Forum Kerukunan antar Umat Beragama) ikut turun langsung jd ga ada alasan lg oknum2 tertentu yg mengatasnamakan agama Islam menolak membabi buta & pakai mengancam segala. Sama halnya dengan Gereja Yasmjn di Bogor, MA sdh mengeluarkan putusan berkekuatan hukum tetap tp ternyata hal itu ga berarti berarti sama sekali.

      Mau di bawa kemana bangsa ini klo ga saling toleransi. Mau menjadi Indonesia tapi citarasa Arab? Atau mau jadi Indonesia yg seutuhnya? Ingatlah saudara kaum Islam, menjadi Kristen tidaklah mudah krn orang tsb harus belajar selama 1 tahun tnp bolong absen dengan tujuan menguji niatannya akan panggilan menjadi kristen apakah tulus atau ikut2an atau malahan hanya iming2 saja.

      Semoga pikiran dan hati anda terbuka, klo masih tertutup silakan ‘piknik’

    7. Mas/Mbak Mayoritas: Jelas banget anda ini kurang wawasan ya, jadi sebaiknya sebelum mebuat komentar dicari dulu informasi. Gereja itu bukan cuma buat ibadat Minggu aja mas, ada ibadat lain dan kegiatan lain yang menggunakan gereja sebagai tempat berkumpul. Kalau perlu anda berkunjung dulu ke gereja biar tahu..BTW, apakah kalau bukan untuk sembayang 5 kali sehari trus tidak perlu punya tempat ibadat? rumus dari mana itu?

    8. Yang saya tahu Nabi Muhammad itu menjamin umat lain untuk bisa Ber ibadah di willayah2 yg Beliau kuasai. Kalo ada yang berpikir an bertolak belakang dengan teladan yg diberikan Beliau saya jadi bingung ini umatnya Nabi Muhammad bukan

    9. Maaf mas mayoritas,bukan saya tidak terima,tapi kami yang minoritas dan mayoritas selalu saling bahu membahu di daerah saya,ketika natal,masjid yang bersebelahan dengan gereja saya tidak bermasalah dan malah membantu keamanan ketika misa berlangsung,dan ketika ada shalat ied,gereja juga mempersilahkan untuk lahan nya di pakai untuk shalat,kebersamaan itu indah kok,kalau anarkis siapa juga yang rugi dan menanggung?,kalo bukan yang memprovokasi?,mohon di tekuni dalam” ajaran yang mas mayoritas anut sekarang,saya juga sewaktu sekolah pernah belajar islam,dan saya di sana tahu tidak pernah di ajarkan untuk saling menghancurkan agama lain,sekali lagi saling menghargai itu indah kok mas

    10. Siantar kota paling toleran di indonesia untuk hidup beragama bro,,g da pernah masalah beragama,,ingat itu

    11. Hai Mayoritas,
      Saya dari Papua, hanya ingin mengklarifikasikan kalimat terakhir anda saja, di Papua pembangunan rumah ibadah sama sekali tidak berdasarkan izin warga sekitar. Pemerintah Papua sangat tolerant dan terbuka tentang masalah beragama. Kalau hari ini ada masjid/pura/wihara/gereja yang bakal dibangun pun pemerintah sangat terbuka dan tidak ada hambatan dari pihak2 tertentu. Menurut saya itu dikembali lagi ke tiap individu bagaimana kita membentuk pola pikir kita. Jika dari awal kita sudah menanamkan nilai2 yang jelek seperti egois, serakah, dll ya kedepannya apapun yg kita lakukan hanya berdasarkan nilai2 jelek tersebut. Masyarakat Indonesia memang mayoritas muslim, tapi apa kata “mayoritas” tersebut kalau kita punya Pancasila? 🙂

  4. Skrg saya bicara dalam kerangka hukum :
    Indonesia memiliki sejumlah peraturan perundang-undangan yang menjamin dan melindungi kebebasan beragama, sebagaimana diatur dalam UUD 1945 Pasal 27,28,29 lalu UU No.32 tentang Otonomi Daerah : kewajiban negara untuk melindungi warganya
    UU No.12 Tahun 2005 tentang Ratifikasi Perlindungan Hak Sipil
    UU No.39 Tahun 1999 tentang HAM; Deklarasi Universal HAM dan Deklarasi PBB tahun 1981 tentang Larangan Diskriminasi dan Intoleransi berdasarkan Agama dan Keyakinan.
    Kita harus mengakui kehidupan berbangsa dan bernegara dengan keberagamaan agama dan budaya yang dianut masyarakat Indonesia memungkinkan terjadinya gesekan antara satu dengan yang lainnya. Hal ini menunjukkan adanya dinamika dalam kehidupan di masyarakat dan hal ini menurut saya adalah wajar…!! Tetapi, disinilah letak peran negara serta fihak fihak terkait mampu mencari solusi yang damai sehingga tidak ada satupun yg tertindas atau teraniaya dlm melaksanakan keyakinan beragamanya. Negara seharusnya dalam melaksanakan kewajiban nya utk melindungi warga negaranya, HARUS berasaskan hukum…!!
    Dalam kerangka konstitusi pula dan kebangsaan, negara Indonesia adalah negara hukum ! Artinya supremasi hukum harus dijunjung tinggi, dan menjadi sumber kebijakan bagi para pengambil keputusan di negara ini.
    Dalam kerangka Bhinneka Tunggal Ika, maka seharusnya setiap warga negara Indonesia menjadi subyek dalam negara Indonesia, artinya TIDAK BOLEH ADA SATUPUN WARGA NEGARA YANG BISA DISISIHKAN…!! negara ini seharusnya bisa melindungi dan menjamin kebebasan beragama dari ancaman-ancaman intoleransi sebagian fihak masyarakatnya. Begitu seharusnya…..!!! Namun kenyataannya di lapangan berbicara lain.

  5. sharing yang sangat bagus, dan pemikiran yang luar biasa. tentunya belajar dari pengalaman.
    saya salah satu dari kaum minoritas, berasal dari luar jawa, tetapi kuliah disalah satu Universitas Kristen di Jawa. Jujur saja… setelah dijawa baru saya mengalami bagaimana rasanya… dalam kehidupan sosial.. agama sangat diperbincangkan, dan disini saya baru mengalami sakitnya menjadi minoritas ( yang selalu dihantui ketakutan bahkan saat beribadah). Kota saya berasal termasuk kota besar di Indonesia, tetapi jarang/tidak pernah terdengar ribut hanya karena mempertentangkan agama. bukan berarti kota saya ateis ya… semua agama ada.. termasuk konghucu, semuanya bisa berdamai… tidak pernah terdengar kata Kristenisasi, Hindusisasi, atau Islamisasi.
    mengapa? menurut saya… karena semakin dalam seseorang memahami Imannya (agamanya) maka semakin terbuka ia dengan perbedaan. karena toh semua agama mengajarkan kebaikan.

    terima kasih karena sudah berbagi pengalaman… semoga cerita sharing saudara ini menjadi wawasan baru bagi yang lain… salam.

  6. terima kasih atas tulisannya. sekarang saya sedang studi di Inggris. saya merasa sulit mencari tempat sholat di tempat2 umum. jadi sholat di kendaraan, sholat sambil duduk dimanapun ada tempat yg layak, itulah yang dilakukan. rasanya rindu sekali bisa sholat di masjid/mushola. dan miris juga rasanya kalau lihat di indonesia banyak mushola/masjid yang lebih sering sepi.. just my thought..

  7. Nasib kaum minoritas di negeri ini ya begitu… Selalu ducurigai…
    Buka mata, buka telinga dan pikiran…

  8. Selamat pagi 🙂

    Saya oka, Muslim, pernah tinggal Di Fukushima selama sebulan dalam rangka training Kantor. Di tempat saya malah hanya saya saja yang Muslim, sisanya agama yang ada di jepang. Di Kantor tidak ada musholla, jadi saya shalat dimanapun diizinkan supervisor tanpa diganggu. Saya tidak bisa shalat berjamaah, jumatan pun tidak. Tapi ritual shalat tidak serta merta membuat orang jepang menganggap saya sesuatu yang harus dihancurkan karena membawa agama baru. Di urusan makan, makanan saya Di Kantor dibedakan dengan makanan orang-orang pada umumnya, Di sediakan Di meja khusus kayak VIP. Gak pernah tuh saya dijerumuskan makan Babi atu daging yang syubhat halal atau haramnya; malah saya sering ditahan oleh rekan kerja dengan bilang “kore wa buta niku desu, dame”, atau ” ini daging Babi, jangan”.
    Di sisi aqidah, sah saja jika seorang Muslim mengatakan bahwa agama yang dianut oleh Shinto atau yang lainnya menyebabkan orang tersebut kafir. Tapi itu tidak lantas membuat kita bersikap buruk Dan tidak adil lantaran perbedaan aqidah tersebut. IMO 🙂

  9. Klo akang pngalamnny dinegri lain, bukan di jepang
    Apakah akan sama pemikirannya seperti??

    Kita tdk bisa mematok 1 hal hnya berdasarkan 1 pengalamn saja 🙂
    Aplg kita umat islam sholatny 5x dlm sehari..

    1. Di luar negeri itu sll bertoleransi …mau apapun agama nya …kaum mayor juga menghargai itu …contoh di kapal belanda ..ada aja kegiatan dan ruangan khusus umat muslim pdhl mayoritas beragama kristen dan katholik …bahkan umat hindu saja juga di perbolehkan ibadah di restaurant pas malam purnama …. klo mendirikan tempat ibadah non muslim jangan terlalu berbelit belit ..coba tengok semua masjid atau mushola di kampung apa punya imb dan ijin ibadah ??
      Klo non muslim kan hrs mengikuti alur hukum …soal orang non muslim yang suka berbagi kan itu semua di tujukan untuk hal umum bukan menuntut orang untuk ikut agama yang memberi bantuan …..jgn selalu berpikir sempit ttg agama lain ..tapi jd terbuka lah ….dan jangan berpandang sprt arab …ini negara hukum ,berpancasila dan berbudaya ….bukan berdasar hukum agama …….bangga jd orng indonesia yg punya latar belakang yg majemuk,jangan bangga terhadap agama yg sll memojok kan agama lain…..

  10. Semoga dengan tulisan ini banyak orang mulai terbuka. Bahwa perbedaan itu memang ada tapi tak perlu diperdebatkan. Malah harus disyukuri bahwa indonesia punya perbedaan karena bisa saling menghargai. Apapun agamanya tetaplah NKRI…negara yang pancasila dan berbhineka tunggal ika.

  11. Kita bereaksi krna kita bagian dr korban
    Andai saja tidak pernah ada misi memurtadkan umat islam dan yg lainnya, tentu toleransi beragama dimuka bumi ini akan benar2 terasa indah.
    Tidak mnganggu akidah org lain atau memaksa2an aqidah kpd org lain
    Gak ada aksi klo gak ada reaksi, itu aja intinya

    Atas nama toleransi akhirnya qt terjajah
    Krng toleransi apa mayoritas di indonesia
    Untuk yg bilang minoritas di indonesia terjajah
    Brrti perlu bnyak pngetahuan lg, gali lg dan jgn tercengang klo nemu2 fakta mnyakitkan yg jstru mengenai kaum mayoritas bukan minoritasny.

    1. Saudara “yes” ….jgn bicara masalah terjajah. Kalau Kau mengerti sejarah, duluan kerajaan majapahit (hindu-budha) daripada kerajaan demak (Islam) . ngerti maksud q? Buka pikiran dikitlah , biar gak kayak katak dibawah tempurung.

  12. tapi umat Islam ndak gitu2 bnget dalam hal ibadah. coba tengok kalau umat Islam dalam posisi minoritas dinegeri ini, pasti tidak tenang beribadah. karena saya pernah mengalami pada saat sholat tarawih, atap mesjid dilempari pakai kaleng, adzan tidak boleh pakai pengeras suara. agama minoritas yang berdampingan dengan Islam, tenang-tenang aja. tapi kalau Islam yang minoritas, pasti ada saja hal-hal yang tidak mengenakkan yang dibuat agama yang mayoritas

    1. Datang k daerah saya yg didominasi Kristen , lihat dulu bagaimana rasa nyaman yg diterima tmn2 Muslim disana. Dan masjid berdampingan dgn gereja.

  13. Sudahlah,,,baiklnya kata minoritas mayoritas dihapus dari jagad bahasa kita,,,karena dengan adanya kata ini,,,sifat preman pastii akan muncul,,,inilah salah satu bahaya laten yang dibangun dijaman orde baru,,,ingat,,bahaya laten.

  14. Selagi kita masih didunia, kita harus menjalankan toleransi antar umat beragama. Pertahankan apa yg kamu imani buat imanmu.

  15. Kita menekan orang lain , bahkan mencederai sesama kita manusia untuk menghalangi agar tidak dapat beribadah kepada Tuhannya…
    1. hanya ada dua pilihan yaitu perbuatan itu kita rasa benar atau jangan-jangan justru terbukti kelak kalau kita melawan Tuhan yang hidup, …..Bila rasa benar…kita akan bersyukur tetapi kita mencederai ajaran Tuhan karena Tuhan mengajarkan agar kita saling mengasihi sesama manusia….kalau kita terbukti salah…sanggupkah kita melawan Tuhan atau justru azab dari Tuhan yang datang dalam kehidupan kita

    2.Mari kita pikirkan adakah Tuhan itu lebih dari satu? Jadi ada Tuhan yang menciptakan orang beragama A, ada Tuhan lain yang menciptakan manusia lalu dibuatnya beragama B, Ada Tuhan lain lagi yang menciptakan manusia lalu membuat dia beragama C atau D atau agama apa saja ???? Saya yakin Tuhan itu Esa yang menciptakan seluruh manusia di bumi , lalu ketika kita mencederai sesama manusia yang adalah ciptaan Tuhan Yang Maha Esa itu , bukankah kita membuktikan diri kita menentang Tuhan Yang Maha Esa

    3. Lalu agama apakah yang mengajarkan umatnya untuk membenci sesama manusia atau layakkah disebut menjadi agama, sepanjang kepercayaan saya beragama hanya setan dan roh jahat saja yang mengajarkan untuk mencederai sesama manusia atau orang yang telah kehilangan kasih Tuhanlah yang sanggup melakukan hal itu.

    Ini hanya sebatas pemikiran belaka tanpa bermaksud mencederai agama apapun itu, mari kita renungkan ,

    Terimakasih

  16. mayoritas yang ga pernah merasakan menjadi minoritas akan merasa lebih superior, apa pun agamanya

  17. Terimakasih sekali atas sharingnya..
    Ini sangat membuka pola pikir saya dan mudah-mudahan di dengar oleh para petinggi di kampus saya,
    saya jg mengalami hal yg serupa, bagaimana rasanya jd minoritas..
    saya kuliah di salah satu universitas di kepulauan riau.
    Kami di kampus tidak ada tempat ibadah bahkan kami pindah2 untuk beribadah di halaman terbuka di luar kampus ..pihak kampus tidak mengijinkan satu ruangan aj buat kami utk beribadah dari sekian banyak ruangan dan bisa di bilang kampus kami lah yang paling gede di wilayah tsb.

    Bhineka tunggal ika alangkah indahnya kalo di terapkan di negeri ini
    Salam persatuan.

  18. Kalau dikampus saja yang memiliki wawasan dan pemikiran diatas rata-rata warga masih terjadi penolakan pendirian rumah ibadah minoritas gimana di pemukiman atau perkampungan ? . menurut saya perlu dipikirkan kembali pengamalan Nilai-nilai Pancasila sebagai perekat berbangsa dan bernegara. jika dinegara luar saja yang tidak menganut Pancasila boleh mendirikan ijin rumah ibadah minoritas asal memenuhi syarat perijinan kenapa justru dinegara yang resmi mengakui 6 agama masih membuat peryaratan khusus dalam mendirikan rumah ibadah,,?

    1. maaf bang ipul apa abang gak pernah denger berita tentang, muslim minoritas di berbagai belahan dunia? mereka bukan cuma di persulit untuk mendirikan tempat ibadah,tapi di kucilkan,di usir,di bunuh dengan kejam dan di zalimi,… dan buktinya terlalu banyak untuk anda pungkiri,.. apa harus saya sebutkan satu per satu? apa anda masih akan berpikir mayoritas muslim terbanyak di dunia no 1, indonesia ini tidak memiliki hukum dan toleransi? bandingkan dengan semua mayoritas di berbagai belahan dunia.

  19. Dalam hukum islam ada habluminaallah dan habluminanas.. dlm kristen ada hukum kasihilah Tuhan Allahmu dgn segenap hatimu dan dgn segenap akal budimu.. dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.. untuk kalian yg mayoritas dan minoritas pelajari agamamu smpe km benar2 menemukan arti sesungguhnya. Kalo kalian hanya perdebatkan bangunan masjid dan gereja.. kalian masih harus banyak belajar… gereja dan masjid, kuil, vihara dan tempat ibadah lain. Meskipun di bangun berdampingan ga akan berantem… tp orangnya2 yg pada ribut… karena kalian semua bodoh.. meributkan hal tidak penting. Sekali2 coba anda mati suri.. biar tau keadaan alam baka.. biar kalian bisa menghargai ciptaan Tuhan Semesta Alam.

  20. Ya sebenarnya mereka tdk paham hidup beriman itu seperti apa. Mereka sering merasa lebih berkuasa drpd Tuhan. Atau mereka menciptakan Tuhan menurur kemauannya sendiri. Pdhal Tuhan pasti tdk suka dg orang2 demikian.

  21. Untuk semua harus tetap hati2 jangan langsung ambil hati kalau ada berita itu aplgi kalau cuman dari kabar . Karena jaman sekarang ini sudah saling hasud menghasud . Fitnah dajjal àda dmn2 . Hati2 . Alangkah baik jika kita terlebih dahulu memperbaiki diri kita sendiri dari mengurus kehidupan orang lain . Tks

  22. malu saya sebagai mayoritas lagi kesurupan, benar-benar pikiran dangkal tidak berpikir panjang, daripada ribut-ribut tentang agama lebih baik bicara pada diri sendiri agar tahu siapa sebenarnya anda? jika benar itu adalah agamamu, tidak perlu ribut-ribut di media abdurakhman.com yang bangsat ini!!!! selalu ngunduhkan status agam!!!

  23. satu hal aja buat gue bingung selama ini bro. yg ciptain tanah, laut dan langit kan tuhan. kok manusia mengklaim itu miliknya emang dia yg ciptain.

  24. Sodaraku..di mata Tuhan..kita bukan siapa siapa…Tuhan pun pernah bersabda..rukun ruku lah kalian dengan sesama..makluk..
    Seperti di Bali..Gereja..Masjid..Vihara..Pure..berdampingan KOKOH….
    I LOVE TOLERANSI…INDAHNYA KEBERSAMAAN KERUKUNAN.

  25. di kotaku Singkawang, Kalbar tempat ibadah semua agama saling bertetanggan dan kami hidup damai disana. Saling menghargai dan menghormati setiap acara keagamaan serta bersilahturahmi ke tetangga yg merayakan hari raya sudah menjadi kebiasaan kami dari dulu. Sekolah disana juga, kami dari kecil diajarkan nilai2 budi dan makna PANCASILA dalam hidup bermasyarakat, terutama sila Persatuan dan Kesatuan. Mungkin Kotaku adalah salah satu kota dengan tingkat toleransi tdhp umat lain yang paling tnggi di Indonesia.

  26. Saudara-saudara………………Islam itu toleran dan adil. Ada yang menyatakan Di Kampus didirikan Mesjid, gereja tidak ada. Di Kantor Pemerintahan ada Mushallah…………..gereja tidak !!!! Tentu penganut Kristen menganggap ini tidak adil……………………tapi bagi kami Islam itu sungguh sangat adil………….Nah dimana letak keadilannya ? Tentu sama-sama kita tahu bahwa Islam punya Hari Ibadah Jumat, dan Kristen hari Ibadahnya Minggu, Oke !!! Nah kita bikin begini : Dirikan gereja ditiap kantor Pemerintahan atau kampus, tapi Hari Jumat diliburkan. Bagaimana ?

  27. Saya pernah tingga di kota kecil yang bernama Goroka bagian Eastern Highland Province, Papua New Guinea.

    Mungkin tidak lebih dari 5 orang Islam tinggal di kota ini. Apartemen yg saya tempati cukuo luas, 2 kamar tidur, kamar mandi, ruang tamu dan dapur yg sangat luas untuk saya yang tinggal sendiri.

    Kalo ada teman yg seiman berkunjung ke tempat sayapun susah untuk diajak sholat berjamaah. Setiap harinya saya sholat sendiri, menjadi imam sekalis makmum

    Tentu tidak ada masjid di kota ini. Kalopun ingin sholat dimasjid harus tetbang sekitar 1 jam ke ibukota PNG yaitu Port Moresby.

  28. saya heran lihat agama muslim ini.diindonesia ada 6 agama tp knp cuma agama kami dan gereja kami yg diusik?apa salah agama kami??apa salah gereja kami?apa salah selulur kami kpn umat muslim?.
    sehingga kami membangun gereja utk tempat beribadah kami sebagai umat kristen selalu diusik,tidak diperbolehkan membangun,yg dibakarlah gerejanya,yg dikatakan gereja itu tdk mempunyai izin.
    apa begitu sebenarnya ajaran dr agama kamu hai umat musli,selalu mengusik agama kami.kalian mengatakan kami sebagai unat kristen kafir.
    org kafir itu org yg selalu mengusik agama org lain.saya kecewa dengan kamu semua hai umat muslim

  29. syalom.. Terima kasih buat artikelnya.

    masalah ibadah.
    di suatu negri yg aneh.. mayoritas dapat “terancam” oleh minoritas padahal si minoritas hanya mau beribadah kepada Tuhannya.. Perselisihan agama yang terjadi di indonesia “sepertinya” terjadi karena si mayoritas terancam akan keberadaan si minoritas. maaf, kan lucu… masa mayoritas “takut” sama si minoritas, atau bisa dimisalkan penduduk 1000 kk merasa terancam dgn penduduk yg hanya20 kk ( 50 kk berbanding 1 kk), padahal si 20 kk hanya mau beribadah kepada Tuhanny. dan yang paling anehnya para petinggi ikut2an membuat aturan yang fungsinya melindungi si mayoritas dari “ancaman” tadi.. bukankah seharusnya si minoritas yang harus dilindungi????

    kemudian saya lagi berpikir,,,,,,,
    apa itu kristenisasi??? apakah itu bersifat pemaksaan?? kalo iya dimana?? mana buktinya??? kalau bukan pemaksaan, apakah kristenisasi itu salah??klo sebatas mengajarkan atau menunjukkan apakah itu merupakan pemaksaan/kristenisasi?? apakah itu salah?? acara televisi indonesia mayoritas berbau agama islam, apakah itu termasuk islamisasi?? kan tidak.. apakah itu pemaksaan??? kan tidak..

    masalh pindah agama terkadang lucu.. karena apa,,,pertama: orang yang imannya kuat tak akan bisa “disesatkan” kecuali agamany sendiri memang tanda tanya., kedua : jangankan hanya ditunjukin ataupun diajarkan, orang yang imannya kuat walau dipaksa, orang tersebut tidak akan pernah mau pindah agama. ketiga : waalaupun akhrinya pindah agama trus kenapa?? ini kan masalah pribadi seseorang dengan Tuhannya, tentunya memang kita sedih, ya mungkin karena dia teman kita, atau saudara kita. sehingga kita merasa menyayangkan sekali. Tapi maslahnya menganut agama itu adalah panggilan Tuhan, Tuhan yang memilih, Tuhan yang menetapkan , dan UUD 1945 juga menjamin kebebasan itu. jadi kita tak perlu merasa terancam bahkan sampai merasa agama kita terancam. karena agama yang benar2 berasal dari Tuhan tidak akan pernah terancam. mau di apain pun tak masalh.. jadi ketika saudara kita pindah agama kita sedih: ya, kita kehilangan : ya, tapi kita merasa terganggu : tidak perlu, merasa terancam : tidak perlu, atau merasa agama kita terancam : sangat tidak masuk akal.

    maaf beribu maaf kalo ada yang salah, tidak bermaksud menyinggung atau menghina. terima kasih. GBU

  30. gw kristen dan berada d Filipin yg mayoritas katolik, satu ketika saya menghantarkan teman saya yg muslim sholat jumat dan saya mendengar suara adjan dari speker musolah, disaat itu lah saya sangat rindu akan indonesia, dan saya baru merasakan indahnya perbedaan apabila kita bisa saling meng hormati,. shalom., asalamualikum

  31. Mungkin belum pernah tau tempat luar biasa seperti Puja Mandala yaitu pusat peribadatan 5 agama di Nusa Dua, Bali, di mana masjid, gereja katolik, gereja kristen, vihara, dan pura dibangun berdampingan satu deret. It sounds great, right?

  32. Di Palangkaraya Kalteng ada 2 tempat (yg saya tau) gereja dan mesjid bersebelahan dan hanya berbatas satu dinding…
    Inilah budaya yg perlu di contoh…

  33. Tak setetespun darah dan keringat yang kita tumpahkan untuk menyatukan tanah air dan bangsa sampai merdeka,
    Apa masih pantes kita tinggal disini tanpa toleransi?
    Apa gunanya hening cipta dikala upacara semasa sekolah…
    Ini Indonesia!
    BHINEKA TUNGGAL IKA

  34. Intinya satu saja : “Saat Anda meninggal, surga TIDAK akan memperhitungkan apa agama Anda. Yang diperhitungkan hanyalah apa yang Anda perbuat terhadap sesama (manusia, lingkungan) dan apakah Anda percaya dengan Allah.”

  35. Thanks buat saudaraku semua..1 Hal yg Perlu kita ingat,Bukankah agama yg buat Kita masuk sorga tapi Iman Kita..Mari Kita Sama2 Mengimani kepercayaan Kita,kelak Kita ada salam damainya Surga..
    Salam damainya Saudara2Ku..

  36. kenapa ? kenapa harus di kampus itu ? kenapa di paksakan ? tidak ada kah tempat lain ? kenapa harus di samakan dengan negara/tempat lain ,bukan kah setiap negara itu berbeda beda pada dasarnya ?
    dan katanya menghargai orang lain , kenapa orang lain tidak boleh menolak ? kenapa ?
    hanya bertanya saja , no offense,,,,

  37. Kawan2 marilah abaikan perselisihan dlm bentuk apapun apalagi soal agama dan suku serta mayoritas, minoritas. Ingatlah, agama ada bukan untuk saling menjatuhkan. Toh juga soal agama adalah masing2 untuk tanggung jawab pribadi. Agama mu ya agama mu dan agamaku adalah agamaku. Lagian, kalau mau jujur tidak ada satupun orang di dunia ini yg ingin diusik entah dalam bentuk apapun itu. Coba bayangkan jika ada orng sebaliknya melakukan hal yg tidak kita suka, tentunya itu menimbulkan emosi.. Ingatlah, kita dibiarkan berbeda tentu seijin Tuhan kok.. Kalau Tuhan tidak kasih ijin sudah dr dulu Ia bertindak membinasakan. Tak lebih hebat manusia dari Tuhan. Jangan menjadi hakim bagi sesama sementara Tuhan tidak menghakimi. Orang yg bersikap melampaui dari Tuhan rasanya tak pantas kita sandang. Itu bagian sang pencipta. Trus, agama itu tentu tidak ada mengajarkan untuk saling menyakiti. Agama itu kasih…. Soal ada yg menarik seseorang ke agama lain, kesalahan utama adalah orng yg ditarik. Kenpa? Itu artinya pemahaman agamanya dangkal. Seharudnya perkuatlah agama masing. Saya sendiri tidak suka jika ada kawan ku muslim tak menunaikan sholatnya.. itu sebabnya saya sering malah mengingatkan biar jngn lupa beribadah. Saya sama temanku serng berbagi hal pengalaman agama, ga ada masalh dan justru rasanya saling menguatksn. Cocok kan. Jadi, ga perlu ribet deh. gimana? pada setuju ga… Ingat, iman mu mau hebat perkuat agamamu. Orang kuat tak akan goyang. Dan kalau tak ada angin maka tak tahu seberapa kuatnya kita. Justru, sesuatu yg ada harus menjadi acuan untuk meningkatkan pengetahuan… ingat kawan toleransi begitu indah. Disana ada damai dan kebahagiaan. Dan orang yg damai hatinya yg berkenan dimata Allah. Salam toleransi. …

  38. Jelas kebebasan beragama sudah di atur oleh UUD bahwa setiap warga negara bebas memeluk agama sesuai kepercayaanya masing masing d dgn sendirinya tempat ibadat seharusya mempunyai tempat di tanah air sendiri ,tanpa ada interfensi dr agama yg mayoritas , kr negara kita bkn negara agama melainkan negara berdasarkan pancasila d bihneka tunggal ika ,mari bersama membina toleransi ,kerjasama mewujudkan indonesia damai tanpa kekerasan ammin

  39. Kasih itu yg dibutuhkan.
    Mau sebanyak apa penganut agama dlm suatu wilayah tertentu, tanpa saling mengasihi umat pasti tidak ada kerukunan beragama.

    Mungkin lebih bijaksana kita mengurusi keimanan kita kepada Tuhan, bukan mengurusi agama orang lain. Tuhan tidak mungkin berkata, “apa agamamu sampai layak aku selamatkan?” Tapi mgkn yg akan Tuhan katakan “sudahkan kau berbakti kepadaKu dengan mengasihi sesamamu?”

    Peace negeriku

  40. Sebenarnya sikap saling menghargai adalah salah 1 kelebihan kita sebagai manusia, beragama pula, ditambah berpendidikan lagi. Kenapa membahas hal sesederhana itu tiada pernah ada habisnya? Kita tinggal memposisikan diri kita sebagai orang yg “dicekal”, gimana rasanya? Tidak enakkah?! Jd jgn lakukan ke manusia lain donk. Sederhana kan?

  41. Hampir tiap hari ribut melulu soal agama. Bosan ah kayak tdk ada kerjaan lain saja ah..hanya utk menghormati atau menghargai org lain yg beda keyakinan saja susahnya minta ampun sih.
    Percuma kita punya agama atau keyakinan yg baik tp suka membuat org lain tersinggung atau sakit hati…justru krn perbedaan itu Allah Yang maha Kuasa akan selalu mengasihi kita juga..

  42. Yth : Bapak Penulis terus para komentator ,.
    Terima kasih buat tulisan Bapak sehingga membawa pencerahan terhadap orang banyak termasuk saya.
    Membaca tulisan ini dan mengetik komentar ini jujur Pak saya nangis,. Sebab kami yg minoritas msh ada yg ngerti dan menghargai kami,. Selama ini saya dan kami merasa bahwa kami ini seperti bukan warga negara Indonesia, karena sdh cukup banyak yg mendiskriminasi terutama kami sbg beragama kristen. Padahal kami ini juga kan bangsa Indoneisa Asli yg juga punya hak seperti yg mayoritas. Saya merasakan hal ini jika saya sedang berada di luar daerah saya lahir.
    Berdasarkan pengalaman hidup saya bukan agamanya yg membuat seseorang berhati baik
    tapi bagiamana tingkat keyakinannya masing”.

    Saya seorang putra kepulauan Nias yg tinggal di Kota kecil Telukdalam kab. Nias Selatan, di kota saya yg kecil ini ada dua bangunan Mesjid lumayan besar. Di kep. Nias memang Kami kristen yg mayoritas namun sepanjang sejarah hingga seumuran saya ini belum pernah ada konflik antara umat beragama, bahkan kami yg mayoritas sangat menghargai dan menjaga yg minoritas,. Sebab dgn kami menjaga org lain kamipun terjaga.

  43. 1. Sebaiknya Gereja tidak perlu banyak banyak. Di satu sisi gereja baru dibangun, satu sisi gereja juga ada yang kosong. Pendirian rumah ibadah yang perlu ditertibkan adalah sertifikat kepemilikan bangunan dan tanah ( indikasi korupsi oleh pemimpin gereja).
    2. Yang harus dilindungi adalah hak kebebasan beribadah. Entah itu ibadah di ruko, tenda,dan ibadah rumah tangga. Tetapi di sisi lain, penyelenggara ibadah harus tertib laporan RT setempat. Dan apabila ibadah rumah tangga jangan menimbulkan polusi suara bagi tetangganya.

    1. Hahaha…david…david…cetek amat sih logikax..kasihan klo ada lebih dari 1 org yg pemikiran kayak david nij

  44. Semoga Tuhan memberkati orang2 yang berpandang buruk terhadap perbedaan agama. Ingat bung kita ini berada di negara BHINEKA TUNGGAL IKA. BUKAN negara islam. Ya biarkan saja dibangun tempat ibadah yang berbeda agama kalau memang bisa saling menghargai.

  45. bagus banget artikelnya
    semoga yang baca juga dapet pesan positifnya
    dan kita semua terbuka pemikirannya serta makin akur kedepannya

  46. BERIBU TERIMAKASIH atas tulisan yang sangat sejuk ini mas. Saya tidak akan mengkritik tulisan anda, siapalah saya yang harus mengkritik tulisan anda yang sangat membangun ini,
    Besar harapan saya agar anda mau merelakan waktu anda untuk menulis tulisan seperti ini lebih sering, bahkan sesering mungkin sehingga saudara saudara kita yang lain dapat membentuk pola pikir yang jauh lebih baik dari sekarang.

    Bukan masalah mayoritas ataupun minoritas, tapi kembalilah kepada diri sendiri.

  47. Ah, tulisan anda “SANGAT PROVOKATIF” ya dan terkesan menjelek2an. justru saya mempertanyakan aqidah mas hasan ini, yg sebenarny ;).
    Karena muslim sejati tidak akan menyebar2 kelemahan atau aib saudaranya sendiri kemana2 tidak juga diperbolehkan menghina orang yg keyakinanny berbeda.

    Anda memberikan statemen berdasarkan pengalaman tinggal di Jepang. Hmm, boleh juga testimoniny. Tetapi maaf jangan tersinggung ya, anda koq sikapny mirip2 dgn anak saya, si Kakak, dia bilang “mama, kakak tau warna itu adalah putih!” saya hanya tersenyum meluruskan, “betul sayang, putih adalah warna, tapi warna bukan hanya putih, ada merah, kuning… dsb”
    Pengalaman anda hanya 1 di negri Sakura yg sekuler, yg bagi mreka kehidupan dan materialistik adalah nomor satu sedangkan agama nomor sekian. Jadi tidak penting untuk dipermasalahkan dan bukan topik yg mudah memicu pertikaian.
    Sedangkan di Indonesia Raya, Agama dan Keyakinan adalah nomor satu, baru kemudian Suku dan Ras. sehingga sedikit saja ada gesekan akan timbul mslh besar.

    Saran saya mas , kenalilah baik2 INDONESIA RAYA tanah air kita tercinta ini. dari Sabang sampai Merauke..
    Ada ribuan suku dan karakter yg sangat jauh berbeda, yang sangat rentan terprovokasi apa lagi masalah “Agama dan Keyakinan!” yg dikatakan sdri Upik B. itu memang benar adany itulah kenyataan yg ada di Indonesia.

    Itu saja tanggapan saya, karena sesama muslim adalah Saudara yg harus saling nasehat menasehati di jalan kebenaran….
    Kecuali, kalo Anda memang punya “MAKSUD LAIN” yach… 😉

  48. Maka akan terjadilah apa yang mereka percayai, apa yang mereka percayai ? Yaitu apa yang mereka takutkan.

  49. Soal mendirikan rumah ibadah di negara kita sdh ada aturan yg mengatur, tidak perlu dibuat jadi polemik. Kalau merasa ada rumah ibadah yg ingin dibangun maka silahkan ikuti prosedur yg berlaku. Gak perlu berbuat kegaduhan yg membenturkan antar ummat beragama. Yg suka membenturkan biasanya ada kepentingan tersendiri, menangguk di air keruh. http://m.voa-islam.com/news/indonesiana/2013/03/03/23469/inilah-sikap-tegas-jusuf-kalla-soal-gereja-di-depan-700-pendeta/

  50. Pendekatan sosial atau saling bersosialisasi harus tercipta dahulu, mengenal secara langsung lingkungan, menjadi bagian dr komunitas masyarakat.. tidak bersikap eksklusif akan memberikan rasa saling percaya/toleransi. Di kampung saya (Klojin-Kraksaan-Probolinggo) jarak gereja dg mushalla sekitar 50an meter, ada yg berdekatan dg pondok pesantren (3 gereja ada di kampung sy) tidak ada masalah, saat adzan magrib berkumandang di mushalla, mereka yg di gereja berhenti sejenak beribadah. Saat ibadah minggu, tetangga yg muslim ada yg merelakan halaman utk parkir mobil tamu ibadah gereja. Tidak ada pemicu sebagai alasan untuk memulai suatu perselisihan, secara personal para penganut ibadah saling menghargai (semoga saja tetap seperti itu).. Semoga rakyat Indonesia tetap dan semakin mendapat lindungan dan berkah dr Allah.. aamiin…

  51. Kalau muslim boleh mndirikan masjid utk bribadat, begitu pula saudara-saudara kita yg beragama lain. Ini masalah sederhana, sdh lama dicontohkan oleh Nabi Muhammad dan khalifah2 penerus beliau…

  52. Di Balige (TOBASA) yang mayoritas Kristen, Mesjid dibagun ditengah-tengah pemukiman warga Kristen, tidak ada masalah…!

  53. Kalau menurut saya, apapun agamanya bukankah yang diajarkan sama? Yaitu untuk saling mengasihi, saling membantu sesama, untuk berbuat baik, dsb?

    Jangan sampai justru agama yang mengkotak-kotakan kita membuat kita malah benci satu sama lain. Apalah arti agama kalau hanya malah menimbulkan kebencian antar pemeluk agama lain?
    Saya tidak men”dewa”kan apapun agama itu. Bagi saya, lebih baik menebar kebaikan terhadap sesama drpd kita hanya modal tampang ‘baik’ kepada yang di atas.

  54. Koq cerita diatas sama persis spt di kantor saya ya? Sdh disediakan musholla yg bagus, masih juga mengambil ruangan khusus didalam kantor. Yang menyedihkannya, ruangan itu dipakai untuk tidur sama saudara”ku itu pd saat jam kerja. Yg semakin menyedihkan saya lagi, krn dipikir para karyawati muda bs menjadi tempat tidur, mrkpun menompang untuk maaf memompa ASI (kebetulan msh punya bayi). Lalu apa krn para ibu muda itu Kristen, lalu karyawati senior menyuruh juniornya mengunci musholla itu, tdk boleh memompa ASI lg disitu. Najis katanya. Astaga ASI ciptaan Tuhan koq NAJIS. Itukan makanan sehat buat bayi. Maaf knp tdk di toilet krn toiletnya… Hadeuh… Taulah maksud saya. Pintu musholla itu lalu ditulisi ” hanya untuk sholat”. Untung saya tdk jahil menambahkan tulisan ” dilarang tidur disini”. Pdhl mushola sudah disediakan kalau jalan juga ga sampai 5 menit. Kami minoritas, ga bs ngomong spt ini” kenapa ya ruangan ini ga dipakai saja untuk ruangan karyawati bs memompa ASI nya. Apakah saudaraku tdk bs toleransi sedikit saja?

  55. Banyak orang menganut agama, tetapi lupa bagaimana caranya menjadi manusia. Jadilah manusia dan anutlah agama agar bisa menghargai perbedaan dan sadar betapa indahnya harmonisasi dalam perbedaan itu.

  56. Tulisan yg baik,
    Sekedar info, di bukit kasih, sekitar manado Sulawesi Utara ada lima tempat ibadat tiap2 agama dan kelengkapannya didirikan berdampingan, bahkan tanpa pagar pembatas sama sekali.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *