Menyembuhkan Homoseksualitas

gayDalam diskusi soal kontroversi homoseksualitas, banyak muncul pertanyaan berulang,”Bagaimana bila anakmu yang homoseks?” Biasanya pertanyaan itu saya abaikan. Tapi ada satu penanya yang saya ladeni. Saya tanya balik,”Bagaimana bila anakmu yang homoseks?”

“Saya akan obati.”

“Bagaimana cara mengobatinya?”

“Ada terapinya.”

“Terapi apa? Coba tunjukkan link atau berita soal terapi ilmiah yang berhasil.”

Dia tidak bisa menjawab. Akhirnya keluar dalil “pokoknya”. Terapi yang bisa diharapkan untuk menyembuhkan adalah dengan mengajak orang mengingat Tuhan, takut pada hukuman Tuhan, dan sejenis itu. Intinya, orang-orang itu sebenarnya tak peduli soal homoseksualitas. Yang penting bagi mereka adalah, jangan senggama dengan cara yang berbeda dengan kami. Jadi, yang diharapkan dari “pengobatan” itu adalah agar orang-orang itu berpura-pura jadi normal.

Tentu ada banyak orang yang mencoba jalan pura-pura itu. Ada banyak gay yang berpura-pura normal, menikah secara normal hingga punya anak. Tidak sedikit dari mereka yang tetap menjalani kehidupan gay secara rahasia. Ada yang kemudian mengaku. Tapi mungkin lebih banyak yang menjalani kehidupan di 2 alam.

Sudah sejak lama homoseksualitas diaggap sebagai penyimpangan. Ketika orang mulai mengenal pengobatan baik secara medis maupun psikis, orang menganggap homoseksualitas adalah penyakit. Kalau penyakit tentu harus dicarikan cara untuk mengobatinya. Bapak psikoanalisa Sigmund Freud pernah menyatakan bahwa homoseksualitas bisa dihilangkan dengan terapi hipnotis. Tapi pada akhirnya ia menyatakan bahwa hasil “pengobatan” tidak bisa diprediksi.

Berbagai metode terapi dicoba, termasuk dengan memberi kejutan listrik kepada “pasien”. Ada juga yang melakukan tekanan psikis berbentuk hukuman dan bullying. Tentu saja dicoba pula berbagai jenis obat-obat kimiawi. Namun tak satupun metode pengobatan ini yang terbukti berhasil secara klinis.

Anggapan bahwa homoseksualitas adalah penyakit mulai dikritik pada dekade 50-an. Setelah melalui berbagai upaya yang cukup panjang, akhirnya Asosiasi Psikologi Amerika pada tahun 1973 memutuskan untuk menghapus homoseksualitas dari daftar penyakit mental. Tentu saja penghapusan ini sempat dituduh sebagai hasil dari tekanan kelompok aktivis gay.

Upaya untuk menekan homoseksualitas secara hukum telah pula dilakukan di banyak negara. Di Inggris misalnya, melalui Buggery Act 1553 homoseksualitas dianggap kejahatan yang bisa diganjar hukuman mati. Beberapa orang telah diseksekusi karena homoseksualitas. Hukuman mati ini kemudian dicabut, tapi homoseksualitas tetap sebuah kejahatan. Pada tahun 1950an ribuan orang dipenjara karena hal ini. Baru pada tahun 1967 dikeluarkan aturan baru yang lebih lunak, yang membolehkan aktivitas homoseksual terbatas di ruang privat.

Dalam sejarah hukum Amerika kejadinnya mirip. Pembolehan terhadap homoseksualitas masih merupakan hal baru di banyak negara.

Kebanyakan orang di Indonesia mungkin masih menganggap homoseksualitas sebagai penyakit. Lebih lucu lagi, ini dianggap sebagai penyakit sosial yang coba disebarkan oleh pihak Barat. Mereka lupa atau tidak tahu bahwa Barat sendiri sudah menjalani pertarungan panjang, baik dalam hal pengobatan maupun penghukuman. Pada akhirnya mereka menyerah pada fakta sains, bahwa homoseksualitas bukan penyakit. Tentu saja dengan catatan bahwa kesimpulan sains pun bisa salah dan bisa diubah. Tapi selama belum ditemukan fakta baru, maka fakta ini harus diakui sebagai sebuah kebenaran.

Di masa lalu orang-orang percaya bahwa gerhana bulan itu terjadi saat Batara Kala menelan bulan. Itu dipercayai orang ketika sains belum mampu menjelaskan kejadiannya. Tapi kini tak ada lagi orang percaya pada dongeng itu. Di masa lalu homoseksualitas dianggap sebagai penyakit. Tapi setelah sains menjelaskan pun, masih banyak orang yang tidak berubah pandangan. Kekuatan apa yang bisa membuat orang mengabaikan sains? Agama!

 

5 thoughts on “Menyembuhkan Homoseksualitas

  1. Yusuf Rudiana

    mindset yg terbentuk adalah negara Barat memperbolehkan perilaku Homoseksualitas. Padahal kenyataannya adalah, masalah Homoseksualitas juga mengalami pertentangan yang cukup panjang dan hebat. Dan kita…, tampaknya masih harus banyak belajar, terutama dalam menerima perbedaan.

    Reply
  2. Hadi Syam

    Tulisan yg menarik, sy minta izin untuk mengomentari.
    Nama sy hadi, Sy tidak tau agama bapak apa, tp kalau sy islam. Bagi sy penting untuk mengetahui agama seseorang, krna agama sangat mempengaruhi pola pikir dan sikap. Manusia di bekali dengan akal dan nafsu, yg mana dengan 2 hal ini kita bs lebih mulia dari malaikat, namun juga bisa lebih hina dari hewan. Disitu lah peran agama sebagai pagar agar manusia tidak tergelincir dari jalurnya.
    Dalam hal ini, sebagai pencipta manusia, sy yakin Allah swt yg paling tau mana yg terbaik untuk manusia itu. Dan dalam islam, hukum tentang homoseksualitas ini sudah sangat jelas larangannya. Oleh karena itu bagi sy sudah tidak ad perdebatan lagi dlm masalah tersebut.
    Sains atau ilmu pengetahuan adalah buah pikiran manusia yg berusaha menjelaskan fenomena alam melalui suatu suatu metode ilmiah yg sistematik. Smentara Kita tau bahwa kemampuan pikiran manusia itu terbatas dan penuh dengan kekurangan. Oleh karena itu, sangat tidak bijak untuk mempertentangkan antara sains dan agama. Apabila ada pertentangan antara sains dan agama, sudut pandang mana yg akan kita pilih ? Apakah lebih memilih sains dengan segala keterbatasan dan kekurangannya, atau memilih agama yang datang dari Allah swt, yang Maha Tahu dan Maha Benar atas segala sesuatu ? Silahkan tentukan pilihan masing2.
    Terima kasih.

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *