Menjalankan Perintah Quran dan Berindonesia

Ini adalah ayat Quran yang sedang populer sekarang.
 
“Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih,yaitu) Yaitu orang-orang yang menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Ketahuilah bahwa semua kekuatan itu milik Allah.” (QS. An-Nisa’ [4] : 138-139).
 
Anda bisa bayangkan betapa takutnya sebagian orang terhadap ancaman ayat ini. Memilih pemimpin non-muslim adalah sikap orang munafik, yang akibatnya akan membuat Anda masuk neraka. Makanya, banyak orang dengan gampang memberi cap munafik kepada orang-orang yang mendukung Ahok.
 
Coba kita renungkan. Kita berhadapan dengan ancaman siksa neraka. Apa yang akan kita lakukan? Tentulah kita akan memilih untuk mematuhi ayat itu, bukan? Lagipula ini cuma soal gubernur atau bupati. Terlalu kecil urusannya bila dibandingkan dengan urusan akhirat. Baiklah, patuhi ayat ini.
 
Tapi sebentar. Ini soal pemimpin, kan? Coba kita lihat dalam skala yang lebih luas lagi. Anda tidak boleh menjadikan orang kafir sebagai pemimpin. Artinya, mereka tidak boleh kita jadikan presiden, gubernur, bupati, camat, lurah. Iya kan? Lalu, mereka boleh jadi apa?
 
Mereka juga tentu tidak boleh jadi Panglima TNI dan Kapolri. Juga tidak boleh jadi Pangdam, Kapolda, Dandim, Kapolres, dan seterusnya. Juga kepala dinas, kepala cabang, kepala kantor.
 
Lantas, mereka bolehnya jadi apa?
 
Lalu ada yang berdalih,”Maksudnya bukan begitu. Ini hanya soal pemimpin yang dipilih. Yang tidak dipilih langsung oleh rakyat, boleh.” Sama saja. Menjadikan mereka pemimpin itu maknanya Anda memilih mereka, dan Anda juga mengakui kepemimpinan mereka.
 
Itu artinya, Anda juga tidak boleh punya bos dan atasan di kantor. Tidak boleh bekerja di perusahaan non-muslim. Lho, lho, lho, kok ngaco, kata mereka. Bekerja sama dengan orang kafir dalam hal muamalah boleh saja, kata mereka. Ngeri kali kalau tidak boleh bekerja bersama non muslim, kan?
 
Tapi coba kita ulangi lagi. Ini soal awliya. Apa arti kata ini? Pemimpin, pelindung, teman dekat, pengelola, pengatur, ketua, dan masih banyak lagi. Tahukah Anda bahwa kata wali kota, wali kelas, wali murid itu berasal dari kata ini, wali, jamaknya awliya? Itu artinya, muslim tidak boleh berteman dekat, bekerja sama, kongsi, beraliansi, dan sebagainya.
 
Lihatlah, betapa hidup ini jadi mustahil. Anda tidak boleh berteman dekat dengan non muslim. Ada banyak orang yang melakukan itu. Mereka pura-pura manis di depan non muslim, tapi kalau sudah berkumpul kembali dengan sesama muslim, mereka menunjukkan sikap aslinya.
 
Tapi bagi saya itu tidak mungkin saya lakukan. Maaf, justru itu adalah sikap munafik yang dicela oleh ayat di atas.
 
Jadi, bagaimana? Mungkinkah kita bisa mengamalkan Quran di Indonesia? Kalau dengan model penafsiran di atas, mustahil. Pilihannya adalah, keluar dari Indonesia, atau meninggalkan ayat di atas.
 
Adakah pilihan lain? Ada! Ubah definisi kafir dalam ayat itu. Maksudnya? Ada begitu banyak ayat yang menyebut kata kafir, dengan maksud menunjuk kepada kaum Quraisy Mekah yang waktu itu memang memerangi umat Islam. Hanya disebut kafir saja, tanpa embel-embel. Tapi yang membaca ayat itu, pada masa itu, sudah tahu siapa kafir yang dimaksud.
 
Masuk akal, bukan? Memang mustahil kita bisa berteman dekat dengan orang-orang yang memerangi kita. Tapi, sebaliknya mustahil kita hidup normal kalau kita mengharamkan pertemanan dekat dengan orang, hanya karena kita berbeda iman dengan mereka.
 
Bagi saya, sikap ini lebih masuk akal. Anda berbeda dengan saya? Tidak masalah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *