Meninggalkan Ajaran Reaktif

Ajaran Islam banyak yang bersifat reaktif terhadap dua agama pendahulunya, Yahudi dan Kristen. Quran menuduh penganut kedua agama itu, yang disebut ahli kitab, telah menyelewengkan kitab-kitab terdahulu, khususnya Taurat dan Injil. Quran datang membawa koreksi terhadap ajaran-ajaran itu.

Berbasis pada doktrin itu, orang Islam menuduh bahwa kitab-kitab suci itu telah diubah isinya. Tapi di mana adanya kitab asli yang belum diubah itu? Tidak ada. Umat Islam sendiri tidak memegang kitab suci yang asli. Jadi apa fondasi argumen untuk menyatakan bahwa kedua agama itu menyimpang? Ya isi Quran. Ya ajaran Islam sndiri.

Kamu salah, saya benar. Kenapa salah? Karena saya katakan kamu salah. Menurut saya kamu salah. Karena itu kamu salah. Begitulah retorikanya.

Berbasis pada postulat itu banyak orang Islam yang mencoba membedah kesalahan agama-agama itu, khususnya Kristen. Kajian ini disebut kristologi. Mereka mengkaji ayat-ayat alkitab, menafsirnya dengan pikiran Islam, lalu membandingkannya dengan praktek agama Kristen. Hal-hal yang berbeda antara tafsir mereka terhadap ayat, dengan praktek agama oleh orang Kristen, itulah yang mereka sebut penyimpangan.

Contohnya soal jilbab. Konon ada ayat di alkitab yang menyatakan bahwa perempuan yang berdoa tanpa memakai tutup kepala itu tidak baik. Oleh orang Islam ayat itu dipakai sebagai dalil untuk menyimpulkan bahwa ajaran Kristen juga mewajibkan jilbab bagi perempuan. Padahal nada ayat ini jelas sangat berbeda dengan perintah memakai jilbab dalam Quran. Perintah, itu yang tak tertera dalam alkitab.

Anehnya lagi, ayat yang mereka comot itu berasal dari kitab yang mereka sebut sudah dipalsukan. Bagaimana mungkin kita bisa membangun argumen dari kitab yang kita tuduh telah dipalsukan? Mereka seakan berkata,”Hai orang Kristen, kalian sebenarnya wajib pakai jilbab, karena perintah memakai jilbab tertera dalam kitab yang sudah kalian palsukan ini.” Bagaimana mungkin mengatakan ada perintah asli, dengan dalil dari kitab palsu?

Mengapa Quran mengandung ajaran-ajaran reaktif ini? Islam adalah antitesa dari ajaran politeis Quraisy, yang oleh orang Islam disebut jahiliyah. Tapi bagaimana membangun antitesis itu? Dipakailah sumber yang berbeda, yaitu monoteis semitic, yaitu Yahudi dan Nasrani. Tapi kalau dipakai begitu saja, yang disebarkan tentu jadi ajaran Yahudi dan Nasrani, bukan? Maka dibuatlah beberapa koreksi atau modifikasi atas ajaran itu.

Benarkah Islam mengoreksi ajaran Yahudi dan Nasrani? Menurut saya tidak. Konsep yang dipakai sebenarnya sangat sedikit. Yang banyak dipaka adalah kisah-kisah legendanya saja, yang juga dimodifikasi sesuai kebutuhan format ajaran baru.

Ajaran reaktif ini menjadi fondasi ideologis atas berbagai konflik antar agama, khususnya Islam-Kristen. Harus diakui bahwa secara teologis hubungan antar agama ini sebenarnya tegang. Lalu, bagaimana? Apa yang mesti kita lakukan.

Umat Islam sebenarnya bisa melupakan sisi-sisi reaktif dari ajaran Islam itu. Mereka bisa bertauhid tanpa perlu memikirkan trinitas. Mereka bisa beriman pada Allah yang esa, tanpa memikirkan Allah itu punya anak atau tidak. Karena jelas, sesuatu yang esa otomatis tidak punya anak. Mereka juga bisa beriman pada nabi Isa, tanpa peduli soal gagasan tentang Yesus.

Mereka tetap bisa berjilbab tanpa memikirkan jilbab itu wajib atau tidak bagi umat Kristen. Mereka salat saja, tanpa perlu mengarang cerita bahwa umat Kristen juga disyariatkan untuk salat. Bisa, bukan? Karena memang tak ada manfaatnya berpikir tentang hal-hal itu.

Singkat kata, mereka bisa membangun kebenaran Islam tanpa menyalahkan ajaran agama lain. Ibarat memasang lilin, mereka bisa yakin bahwa lilin mereka terang, tanpa memadamkan lilin-lilin milik orang lain. Mind your own believe. Tidak mudah memang, tapi bisa dilakukan. Diharapkan ini bisa menjauhkan mereka dari potensi konflik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *