Menghadapi Orang Tua yang tak Patut

Kita wajib menghormati dan berbakti pada orang tua. Tapi bagaimana bila orang tua kita bersikap tak patut? Masih wajibkah kita menghormati dan berbakti padanya? Tapi sebelum pertanyaan itu dijawab, ada pertanyaan lain yang lebih penting, yaitu adakah orang tua yang bersikap tak patut?

Sayangnya, orang tua yang demikian itu ada. Dalam sebuah seminar parenting, seorang pengusaha yang menjadi narasumber bersama saya bercerita, bahwa ayahnya seorang lelaki yang tak patut. “Boleh dibilang, semua keburukan ada pada ayah saya,” katanya. Ayahnya pemabuk, pejudi, main perempuan, dan melakukan kekerasan dalam rumah tangga. Akhirnya ibunya memutuskan untuk bercerai. “Hal terpenting dalam hidup saya adalah menjadi orang tua yang tidak seperti ayah saya,” katanya.

Dalam kesempatan lain saya mendapat pengaduan dari seorang gadis muda. “Ibu saya sangat tidak adil pada saya. Saya dibesarkan dengan kekerasan. Tadinya saya mencoba memahami itu sebagai bentuk pendidikan. Tapi makin lama saya tahu bahwa ternyata sejak saya dalam kandungan ibu saya sudah tidak menghendaki saya. Waktu ia hamil, ia sering menyumpahi kandungannya sendiri,” katanya. Ia akhirnya hidup menjauh dari ibunya.

Tentu saja ada banyak pula kasus konflik orang tua dengan anak yang sebenarnya hanya berupa komunikasi yang tak bersambung. Orang tua, dengan alam pikiran kolotnya, gagal memahami kebutuhan anaknya. Anak, di sisi lain, gagal memahami keinginan orang tuanya. Akhirnya keduanya saling menyalahkan. Kasus-kasus seperti ini bukan bagian dari topik yang sedang dibahas ini.

Jadi, bagaimana kita mesti bersikap terhadap orang tua yang tak patut?

Banyak orang terbelenggu oleh “aturan dasar”, yaitu wajib hukumnya berbakti pada orang tua. Ia mengalah, menerima saja meski diperlakukan oleh orang tua. Bagi saya ini tak patut. Mengalah sama artinya dengan membiarkan orang tua kita berlaku zalim, dan itu berlangsung terus menerus.

Status orang tua yang mesti dihormati bukanlah status gratis. Itu adalah status yang hadir bersama tanggung jawab. Dari sisi orang tua, mendapat hormat dan bakti dari anak adalah hak. Hak, hanya boleh ditagih ketika kewajiban sudah ditunaikan. Menagih hak tanpa menunaikan kewajiban adalah sebuah bentuk kezaliman.

Para orang tua juga harus diperlakukan seperti orang dewasa manapun. Keseimbangan antara hak dan kewajiban tadi adalah hukum dasar yang berlaku bagi setiap orang dewasa. Ia harus bertanggung jawab terhadap setiap tindakan yang ia lakukan. Status “orang tua” tak memberinya keistimewaan apapun.

Saran saya kepada orang yang menghadapi situasi itu adalah, jauhi. Jauhi dan tinggalkan orang tua yang begitu. Jangan mau hidup di bawah kezaliman orang tua. Tapi ingat, kita tetap tidak berhak melakukan yang lebih dari itu. Artinya, kelakuan buruk orang tua kita tidak membuat kita berhak membalasnya dengan keburukan. Kita tetap tak boleh menyakiti mereka. Kita tetap tak boleh mencaci mereka. Menjauhi itu justru suatu cara agar kita tidak melakukan keburukan terhadap mereka.

Berat? Pasti. Tapi sadarilah bahwa hidup memang tak selalu sesuai dengan hukum umum. Hukum umumnya adalah orang tua menyayangi anak, anak berbakti pada orang tua. Tapi ada kalanya hukum itu tidak terpenuhi. Apa boleh buat, kita harus bersikap ketika hidup kita tak penuh.

ini adalah pertarungan antara nalar dan emosi. Emosi kita cenderung mengikat kita untuk berada di dekat orang tua. Tapi ketika kedekatan itu adalah sesuatu yang tak patut, maka nalar harus menang. Ketidak patutan harus ditinggalkan, betapapun itu menyakitkan perasaan.

Jadi sekali lagi, tinggalkan dan jauhi, tapi jangan menyakit. Lakukan itu sampai ia kembali menjadi orang tua yang patut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *