Mengapa Melarang Berjualan?

12 June 2016 0 Comments

Pertama, karena orang mengira negara ini negara Islam. Di negara Islam seperti Saudi Arabia, pemerintah bisa berbuat apa saja atas nama Islam. Mulai dari mewajibkal salat jamaah, melarang perempuan keluar rumah tanpa muhrim, sampai melarang pendirian gereja atau rumah ibadah umat lain.
 
Masih banyak muslim Indonesia yang gagap dalam bernegara. “Ini negara mayoritas muslim, maka muslim berhak membuat aturan,” klaim mereka. Salah. Aturan apapun harus selaras dengan konstitusi yang menjadi payungnya. Konstitusi dengan tegas berpihak pada keberagaman, termasuk dalam soal iman.
 
Kedua, orang mengira ia sedang menegakkan Islam. Selama bulan puasa suasana harus islami. Kalau ada yang berjualan makanan, artinya ada yang tak berpuasa. Itu artinya, suasana tak islami. Islami berarti Islam yang mendominasi. Soal menghormati hak-hak orang lain, itu tidak dihitung sebagai sesuatu yang islami. Maka dominasi lebih dipentingkan ketimbang toleransi.
 
Apakah orang-orang itu akan tergoda melihat orang lain makan? Sebenarnya tidak. Tapi ini soal kecemburuan saja. “Aku harus menahan lapar, kenapa kamu boleh makan?” Tidak pernah kita dengar pertimbangan sebaliknya. “Aku yang butuh tadarus, kenapa tetanggaku mesti ikut mendengar kebisingan yang kubuat melalui pengeras suara?” Karena itu tadi, dominasi lebih diminati ketimbang toleransi.
 
Ketiga, karena timpangnya nalar, dan rendah diri. Warung kecil tak boleh berjualan, bukan? Bagaimana dengan warung besar? Apakah supermartket juga ditutup? Apakah kedai-kedai minimarket juga ditutup? Lho, apa hubungannya? Coba lihat isinya. Mereka jual makanan, bukan? Di situ ada berbagai jenis roti, biskuit, minuman kemasan, dan masih banyak lagi. Apa itu semua bukan makanan yang bisa membatalkan puasa?
 
Kenapa tidak sekalian ditutup? Karena pemiliknya bukan orang kecil yang bisa diintimidasi dengan petugas Satpol PP. Berulang kali kita saksikan, yang disebut hukum syariat hanyalah hukum yang keras kepada rakyat kecil yang lemah. Kepada yang kuat, hukum syariat lebih cenderung mati pucuk.
 
Islam kita lebih sering hadir dalam sosok yang timpang. Alih-alih menjadi rahmat, kehadirannya lebih sering dalam wajah yang usil, kekanak-kanakan, dan minta perhatian. Persis seperti anak bongsor yang manja dan egois.
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *