Mengancam Cina

Sudah ada 3 tokoh penting mengeluarkan pendapat senada. Pertama, Jaya Suprana. Dalam sebuah tulisan ia menyatakan bahwa kalau Ahok terus bersikap arogan, maka itu bisa berakibat buruk, berupa kebencian pada etnis keturunan Cina, yang puncaknya adalah kerusuhan anti-Cina. Kerusuhan itu memang terjadi berkali-kali dalam sejarah kita.

Belakangan ini Suryo Prabowo, seorang pensiunan jenderal, mengeluarkan pernyataan serupa. Ia bahkan menambah horor pernyataannya itu dengan memuat gambar-gambar kerusuhan yang mengerikan. Kemudian Duta Besar Indonesia untuk Jepang Yusron Ihza Mahendra mendukung pernyataan Suryo itu.

Pertanyaannya, benarkah masyarakat membenci Ahok? Masyarakat mana? Berapa jumlahnya? Tidak ada data memadai soal itu. Tentu ada bagian dari masyarakat yang tidak suka pada Ahok. Alasan yang muncul di permukaan adalah, Ahok itu bermulut kotor. Dalam hal ini alasan ini bisa dibenarkan. Ahok sendiri mengakui bahwa ia sering bicara keras dan vulgar, dan ia berjanji untuk mengubah sikapnya.

Hal lain yang sering dituding sebagai sikap arogan Ahok adalah soal sikapnya yang tanpa kompromi. Dalam penggusuran Kampung Pulo, ada begitu banyak cercaan kepadanya. Ia dituduh arogan karena terus menjalankan program itu meski dikritik. Dalam bahasa kepemimpinan sikap Ahok itu lebih tepat disebut tegas. Tegas itu artinya melaksanakan apa yang memang harus dilaksanakan. Kritik pasti ada. Tapi kritik tidak perlu membuat seorang pemimpin berhenti melakukan hal-hal yang harus dilakukan.

Sekarang coba perhatikan apa akibat penggusuran tersebut. Apakah warga Kampung Pulo yang digusur itu kini lebih menderita? Yang sudah pasti, mereka tidak lagi terendam banjir tahun ini, karena kini mereka menempati bangunan apartemen, puluhan meter di atas permukaan tanah. Tidak cuma itu, Jakarta tahun ini sangat jauh lebih baik dari tahun lalu. Tidak ada banjir besar melanda. Jakarta menjadi kontras dengan tempat-tempat sekitar seperti Pamulang (Banten), Cikarang dan Dayeuh Kolot (Jawa Barat) yang menderita banjir parah.

Apakah masyarakat memandang Ahok sebagai representasi Cina? Sekali lagi, mungkin ada sebagian. Tidak ada data yang pasti soal berapa banyak yang menganggap begitu. Tapi secara kasat mata bisa kita rasakan bahwa sebagian besar masyarakat menganggap Ahok sebagai seorang warga negara yang diberi tugas sebagai kepala daerah. Sama seperti Risma, Ridwan Kamil, dan lain-lain.

Apakah masyarakat kita membenci orang keturunan Cina? Sekali lagi jawabannya sama, yaitu ada sebagian. Cuma kita tidak tahu berapa banyak. Tapi dalam keseharian yang kita segera bisa kita temukan adalah kenyataan bahwa hubungan antara pribumi dan Cina itu sebenarnya biasa saja. Sama halnya dengan hubungan antarsuku yang lain.

Apakah Anda percaya bahwa kerusuhan antaretnis atau antaragama yang terjadi selama ini murni karena kebencian masyarakat? Saya tidak. Berbagai kerusuhan selalu terkait dengan provokasi oleh sekelompok orang yang diuntungkan oleh kerusuhan itu. Peristiwa Malari misalnya, sebenarnya adalah pertarungan perebutan pengaruh di antara jenderal-jenderal di bawah Soeharto. Kerusuhan Mei 1998 juga soal kekisruhan untuk berebut pengaruh saat Soeharto sedang oleng.

Apakah Anda percaya bahwa orang-orang penting seperti Suryo Prabowo itu anti-Cina? Saya tidak. Saya cukup sering melihat pola-pola bisnis di negeri ini. Polanya “Ali-Baba”. Ali adalah kelompok-kelompok elit pribumi yang punya akses kepada pembagian sumber daya alam, seperti HPH, hak penguasaan lahan tanah untuk bangunan, atau lahan tambang. Mereka punya akses karena status mereka, misalnya sebagai perwira militer atau polisi. Atau kekuasaan politik.

Kelompok “Ali” ini biasanya adalah orang-orang yang tak mau repot mengurusi tetek bengek bisnis yang bikin pusing. Mereka lebih suka terima bersih. Nah, urusan tetek bengek biasanya diserahkan ke “Baba”, orang-orang Cina yang biasanya memang ulet dalam mengelola. Nanti hasil pembagian keuntungan diserahkan ke “Ali”. “Baba” mempekerjakan “Ali kuli” untuk mengurus hal-hal yang lebih tetek bengek lagi.

Bagi saya mustahil bila orang-orang seperti Suryo Prabowo itu membenci Cina, yang selama ini (mungkin) sudah memenuhi pundi-pundinya dengan uang. Sudah sangat lumrah kita lihat bahwa jenderal-jenderal pensiunan biasa “dipasang” di posisi-posisi “Ali” dalam berbagai bisnis. Posisi yang tak perlu bekerja tapi dapat uang, misalnya menjadi komisaris. Kalau ada kebencian, mungkin sebabnya karena tidak dapat atau kurang bagian.

Tapi dalam hal Suryo Prabowo dan Yusron Ihza Mahendra, motifnya bisa kita tebak dengan mudah. Ini urusan persaingan dalam pilkada nanti. Saya berharap mereka tidak benar-benar merealisasikan ancamannya dengan membuat rusuh untuk menghadang Ahok. Itu tidak boleh terjadi. Kita dan mereka berdua tahu betul apa konsekwensi dari hal itu.

Lalu bagaimana kita memahami Jaya Suprana? Saya setuju dengan pendapat Ariel Haryanto soal Jaya. Jaya adalah manusia bentukan Orde Baru, yang terbiasa menyerah di bawah teror zalim, lalu terkurung di dalam tempurung ketakutan yang ia abadikan.

3 thoughts on “Mengancam Cina

  1. Santri Ganteng

    Jaya Suprana sudah seperti orang Jawa, yang memang menganggap penting unggah-ungguh atau adab. Dan itu memang sudah menjadi budaya masyarakat Indonesia secara umum kan?

    Reply
  2. A.S.

    kang Hasan, Jaya suprana tidak ingin meng”abadikan” ketakutannya, cuma dia tidak tahu bagaimana cara melepaskannya.
    Bisakah akang membantunya?

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *