Mengambil Risiko atau Nekat?

“Bisnis itu cukup dengan modal nekat,” begitu kata para motivator bisnis. “Saya dulu nekat saja, dan berhasil.” Sayangnya, tidak sedikit yang ikut nekat, tapi kemudian gagal. Karena itu, kita mesti hati-hati dalam memakai istilah.

Hal terpenting yang membedakan seorang pengusaha dengan karyawan adalah ia memikul risiko. Seorang pengusaha adalah pengambil risiko. Karyawan hanya mengelola risiko itu, tanggung jawab akhir bukan pada dirinya. Kemauan mengambil risiko ini sering dibahasakan dengan kata nekat tadi.

Ada perbedaan mendasar antara nekat dengan mengambil risiko. Nekat cenderung tanpa pengetahuan dan perhitungan. Bayangkan kita berada di tepi sebuah tebing yang terjal. Orang yang nekat akan turun begitu saja, tanpa banyak perhitungan, tanpa pengaman. Sedangkan pengambil risiko akan turun juga setelah ia memantau keadaan tebing, dan menyiapkan alat keselamatan.

Kalau ada yang berkata bahwa berbisnis tidak memerlukan persiapan, yakinlah bahwa ia seorang penyesat. Untuk sekedar tidur rebahan di ranjang saja kita perlu persiapan, apalagi mau berbisnis. Yang lebih tepat untuk dikatakan adalah, jangan sampai banyaknya persiapan yang diperlukan menyurutkan kangkah untuk memulai. Atau, jangan pula berpikir bahwa kita harus menyiapkan segala sesuatu yang menjamin langkah kita 100% aman, baru akan mulai.

Ingatlah penurun tebing tadi. Dengan segala persiapan pengamanan, tetap saja ia berhadapan dengan risiko jatuh. Tapi risiko yang sudah terlihat di depan mata diantisipasi. Di luar itu masih ada banyak risiko, tapi ia tetap turun juga, mengambil risiko. Ia percaya bahwa persoalan yang akan ia hadapi di bawah sana, bisa ia atasi.

Mengambil risiko juga bermakna bahwa kita sadar bahwa ada kemungkinan kita akan gagal. Kita tidak takut gagal, dan kita berniat mencoba lagi kalau kita gagal. Tapi bukan berarti kita sengaja mengambil tindakan yang dari awal kita sudah tahu bahwa kita akan gagal. Yang terakhir itu disebut nekat, bukan mengambil risiko.

Bisnis apapun tetap membutuhkan sebuah rencana. Karena itu kita mengenal istilah business plan. Rencana bisnis meliputi sistem deteksi terhadpa berbagai risiko yang ada, yang bisa mengancam keberhasilan bisnis. Risiko itu diantisipasi. Tapi tetap saja sedetil apapun rencana, tidak bisa menghilangkan ancaman 100%. Karena itu harus ada kesediaan untuk mengambil risiko.

Seperti kita lihat dalam berbagai ilustrasi di atas, mengambil risiko bukanlah nekat. Sama sekali berbeda. Jangan mau ditipu dengan istilah nekat, seolah nekat itu sesuatu yang ajaib, bisa mengantarkan orang kepada sukses dalam berbisnis. Tidak, nekat itu lebih mendekatkan orang kepada kegagalan ketimbang kesuksesan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *