Mengajar di Jepang

Baito! Kata itu adalah salah satu kata yang populer di kalangan mahasiswa di Jepang, baik mahasiswa asing maupun mahasiswa lokal. Kata itu adalah penggalan dari kata “arubaito”. Kata ini sendiri berasal dari bahasa Jerman “arbeit”, yang artinya bekerja. Dalam serapan bahasa Jepang kata “arbeit” bergeser maknanya menjadi “kerja paruh waktu”.

Macam-macam jenis pekerjaan paruh waktu yang bisa dikerjakan. Menjadi pelayan restoran, tukang cuci piring, penerjemah, dan lain-lain. Ada pekerjaan yang sifatnya sangat sementara, ada yang semi permanen. Ada yang nyaris permanen. Salah satu pekerjaan favorit mahasiswa Indonesia adalah pengantar koran. Pekerjaan ini mengharuskan kita bangun subuh, sesuatu yang bukan masalah bagi orang Indonesia yang biasa salat subuh. Pekerjaannya tiap hari, dengan pemasukan tetap yang lumayan besar, yaitu sekitar 60.000 yen sebulan. Namun kalau sudah tiba musim dingin, mengendarai sepeda motor dalam suhu -5 celcius bukanlah pekerjaan mudah.

Saya sendiri sebenarnya tidak terlalu berminat untuk baito. Saya khawatir kegiatan itu mengganggu kuliah. Waktu tinggal di Sendai beberapa kali saya secara insidental diminta oleh kantor imigrasi, melalui pengelola dormitory tempat saya tinggal, untuk untuk menjadi penerjemah pada pemeriksaan kasus imigran Indonesia yang bermasalah. Di luar itu nyaris tidak ada.

Ketika pindah ke Sendai tahun 2000 saya dan istri memasang pengumuman di International Center, tempat interaksi antara pendatang dengan orang-orang Jepang, menawarkan jasa mengajar. Kami tawarkan jasa mengajar bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Tak lama setelah itu istri saya dihubungi oleh seseorang yang minta diajari bahasa Indonesia.

Murid istri saya itu seorang gadis Jepang. Ia seorang seniman. Ia membuat lampu hias dari hyoutan, sejenis buah labu. Labu ini dikeringkan, dan hanya diambil kulitnya. Ia kemudian melubangi kulit labu ini dengan pola-pola tertentu. Bila didalamnya dipasang lampu, pola lubang-lubang tadi akan memancarkan sinar, bila terpantul di dinding akan terbentuk pola-pola yang indah. Masayo ingin belajar bahasa Indonesia, karena ia sering ke Bali. Ia tidak sekedar melancong, tapi mengerjakan pekerjaan seninya di Bali.

Hubungan dengan Masayo ini berlanjut menjadi hubungan pertemanan. Kami sering diundang ke rumah orang tuanya di Ueki, sebuah kota kecil di daerah pinggiran Kumamoto. Ayah dan ibunya sangat menyanyangi kami. Saat anak pertama saya lahir, ibu Masayo yang kebetulan mantan bidan, banyak membantu istri saya merawat anak kami. Termasuk di antaranya menginap di apartemen kami, menemani istri saya, saat saya harus keluar kota. Masayo kemudian menikah dengan seorang pria Bali.

Tak lama setelah itu saya juga mendapat tawaran mengajar. Kali ini dari perusahaan, namanya Omron. Perusahaan ini punya cabang di Indonesia. Mereka meminta kursus bahasa Indonesia untuk karyawan yang sering pergi ke Indonesia. Selain itu juga ada trainee yang berasal dari Indonesia, yang membutuhkan pelajaran bahasa Jepang. Perusahaan ini memberi imbalan yang sangat menarik, 10 ribu yen tiap sesi, ditambah biaya transpor.

Kami berbagi tugas. Istri saya mengajar bahasa Indonesia, saya bahasa Jepang. Seminggu sekali, Kamis sore kami pergi ke perusahaan itu. Jaraknya sekitar 1,5 jam perjalanan dengan bis dari apartemen kami. Tiba di sana saat orang selesai kerja, kemudian mereka ikut kelas kami.

Tak lama istri saya mengajar di situ. Sekitar 2 bulan kemudian ia hamil, anak kami yang pertama. Sekitar 4 tahun kami menunggu kehamilan ini. Kami ingin menjaganya sebaik mungkin. Suatu saat, pulang mengajar, saya rasakan getaran bis yang kami tumpangi terasa cukup kuat. Istri saya baru hamil beberapa minggu saat itu. Saya khawatir perjalanan semacam itu akan membahayakan kandungan istri saya. Maka saya minta dia berhenti mengajar. Selanjutnya hanya saya yang mengajar. Kursus jadi bergantian. Satu minggu untuk bahasa Jepang, minggu berikutnya bahasa Indonesia.

Kira-kira setahun saya mengajar di perusahaan itu. Honor yang terkumpul cukup banyak. Ketika saya berkesempatan ikut konferensi internasional ke Santander, Spanyol, uang hasil mengajar tadi saya pakai untuk mengajak istri ikut bersama saya dalam perjalanan itu.

Setelah itu ada lagi grup lain yang meminta saya mengajar. Mereka ini adalah grup orang-orang yang sudah pensiun, yang mengisi waktu luangnya dengan berbagai kegiatan. Mereka meminta pelajaran bahasa Inggris. Honornya tak seberapa, 3000 yen setiap pertemuan. Tapi kursus di dalam kota, dan saya diantar-jemput, sehingga kegiatannya tidak melelahkan.

Yang saya ajar adalah orang-orang tua, tak pernah ada kemajuan dalam pelajaran. Minggu ini diajari, minggu depan sudah lupa lagi. Mereka tak menginginkan kemajuan, sekedar mencari kegembiraan dengan kumpul-kumpul. Maka sering pula saya isi acara ini dengan bercerita tentang Indonesia.

Sekitar 2 tahun lebih saya mengajar di grup ini. Mereka senang dengan saya. Lalu hubungan kami menjadi lebih dekat. Saya sering menerima oleh-oleh berbagai macam makanan. Waktu Sarah lahir, kebetulan cucu dari salah satu peserta kegiatan ini juga lahir di rumah sakit yang sama. Maka hubungan terasa makin dekat, menjadi hubungan keluarga.

Begitulah. Lama setelah saya pulang ke Indonesia hubungan dengan orang-orang itu masih terjalin. Ketika saya berkesempatan kembali ke Kumamoto, saya bertemu lagi dengan orang-orang yang pernah saya ajar itu. Beberapa di antaranya kini masih terhubung dengan Facebook.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *