Menerima Jodoh, bukan Mencarinya

Ketika saya ditanya, apa kriteria saya ketika mencari jodoh, jawab saya kriterianya cuma 2, yaitu perempuan dan mau sama saya. Bercanda? Iya, tapi ada bagian seriusnya. Titik yang paling fundamentalnya adalah, saya tidak mungkin berjodoh dengan yang tidak mau sama saya. Jodoh saya haruslah orang yang mau sama saya.

Kita semua pernah menonton film dongeng atau fairy tale tentang kisah putri dan pangeran. Bagaimana sosok pangeran dalam dongeng? Tampan. Kalaupun ia berwujud monster atau seekor kodok, pada akhirnya ia akan jadi pangeran tampan. Tidak cuma itu. Ia juga jagoan dan baik hati. Tentu saja ia kaya. Dan seterusnya.

Bagaimana dengan sang putri? Ia cantik, secantik-cantiknya. Ia juga lembut, penyayang, baik hati, peduli. Ia bahkan bisa menyembuhkan kutukan dengan ciumannya.

Begitulah. Kita sering mencari jodoh dengan pikiran seperti dalam dongeng. Kita menetapkan sejumlah kriteria. Ada yang 5, ada yang 10. Dengan kriteria itu kita menyeleksi orang. Keiteria 1, 2, 3, dan 4 cocok, ah sayang, kriteria nomor 5 tidak terpenuhi. Atau, semua kriteria terpenuhi, ah ternyata ada hal yang kita temukan pada dirinya, selama ini tidak masuk dalam daftar kriteria, ternyata cukup menggangu.

Kriteria itu daftar impian. Kita mencari sosok impian kita. Kita mencari sang pangeran atau sang putri. Kita lupa bahwa sang pangeran atau putri itu adalah tokoh dongeng, bukan tokoh nyata.

Apakah tidak boleh mencari orang baik melalui kriteria-kriteria itu? Tentu saja boleh. Masalahnya, sering kali kriteria-kriteria itu bukan melulu daftar hal-hal baik, melainkan hal-hal yang kita suka atau kita benci. Kita tentu saja tidak bisa mengubah hal buruk menjadi baik. Tapi kita bisa mengubah hal yang kita benci menjadi yang kita suka.

Kuncinya adalah menerima. Artinya, kita mau mengubah selera kita, dari tidak menyukai sesuatu menjadi menyukainya, atau setidaknya tidak membencinya.

Sering kali kriteria yang kita buat itu tidak menyangkut hal-hal fundamental, hanya soal sepele saja. Sebaliknya, tak jarang pula kita justru mengabaikan hal-hal yang fundamental. Apa yang fundamental dalam suatu hubungan? Komitmen, tanggung jawab, dan penghormatan. Tanpa itu boleh jadi hubungan tak akan berumur panjang.

Ingatlah, pada saat yang sama pihak sana juga memegang daftar kriteria. Dia juga mungkin menemukan 1, 2, 3, 4, 5, 6 kriteria yang cocok, tapi mentok di kriteria nomor 7 yang tidak ia temukan pada diri Anda.

Jadi bagaimana? Silakan tetapkan semua kriteria, tapi bersiaplah mencoretnya bila itu tak Anda temukan pada sosok calon pasangan. If you cannot find the best, try to be satisfied with the second best, or even third, or fourth.

Satu hal penting, setelah menikah, Anda mungkin akan menemukan lebih banyak lagi ketidakcocokan dengan pasangan Anda. Nah, lu! Kini sudah tidak ada lagi jalan mundur. Pilihannya adalah membuat dia berubah. Tapi ingat, lebih mudah mengubah diri kita untuk orang yang kita cintai ketimbang membuat dia berubah untuk kita. Atau, bila tak ada yang bisa berubah, minimal saling mentolerir.

Jadi, kuncinya adalah menerima dan mentolerir. Bagi para pengembara pencari jodoh, yang mungkin Anda perlukan sekarang bukan berkelana mencari pangeran atau putri dari negeri dongeng. Anda hanya perlu menerima. Ya, jodoh itu adalah soal mau atau tidak mau menerima seseorang. Sesederhana itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *