Mendewakan Iman

9 February 2016 6 Comments

imanSaya sering mendapat nasihat ini. “Kamu sudah mendewakan akalmu sendiri. Seolah kamu tahu segala hal. Ingatlah, akalmu terbatas. Ilmumu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan luasnya pengetahuan Tuhan.” Saya hanya bisa tersenyum terhadap pemberi nasihat. Saya tetap yakin bahwa saya tidak mendewakan akal. Saya hanya menggunakan akal saya sebagaimana mestinya, untuk memikirkan pilihan-pilihan yang saya ambil dalam hidup saya.

Baiklah, akal saya terbatas. Jadi bagaimana? “Ikutilah petunjuk Tuhan.”

Oh, jadi Anda mengikuti petunjuk Tuhan? Apakah Tuhan berbicara langsung pada Anda dalam memberikan petunjukNya? Tidak. Apakah nabiNya berbicara langsung pada Anda? Tidak juga. Lalu, dari mana Anda mendapat petunjuk Tuhan? Dari ceramah ustaz, kuliah kiyai, tausiyah guru, baca buku, pendapat ulama, dan seterusnya. Lalu, kalau saya dianggap mendewakan akal, apa yang Anda dewakan? Ustaz, kiyai, ulama.

Tapi kan mereka berbicara dengan suatu sumber. Ya, sama dengan Anda, mereka juga tidak dapat ilmu langsung dari Tuhan. Mereka mendapatkannya dari orang-orang sebelum mereka. Orang sebelum mereka mendapatkannya dari yang sebelum mereka lagi. Begitu terus, estafet informasi itu sudah berlangsung belasan abad. Jadi sekali lagi, apa yang Anda dewakan? Estafet informasi!

Tahukah Anda apa yang bekerja selama estafet informasi itu? Komunikasi. Informasi berpindah dari orang ke orang. Setiap perpindahan informasi membawa pengaruh subjektivitas pembawa pesan. Ia mengolah pesan. Dengan apa? Dengan akal!

Tapi kan sumbernya dari nabi. Oh, ya? Bagaimana pesan dari nabi itu kamu terima? Ia diterima melalui serangkaian proses periwayatan, metode periwayatan, kriteria kesahihan, semua dirumuskan dengan akal. Maka kita bisa temukan berbagai versi hadist, juga berbagai versi kesahihan. Suatu berita dinyatakan sahih oleh seorang periwayat, tapi dianggap lemah oleh yang lain.

Tapi bukankah sumber utamanya tetap Quran? Oh ya? Emang Anda paham isi Quran? Jangan-jangan Anda cuma baca Quran sekedar yasinan tiap malam Jumat, itupun kalau sempat. Orang yang benar-benar punya ilmu dan paham Quran sepertinya tidak akan dengan lancang menuduh saya mendewakan akal.

Tapi kan…… Ah, sudahlah. Intinya, apa yang Anda sebut sebagai ilmu Allah yang Anda imani itu sebenarnya adalah proses-proses berlogika juga, yang disusun oleh manusia juga. Anda mendewakannya seakan itu semua adalah petunjuk langsung dari Tuhan. Jangan-jangan Anda sendiri yang sedang mempertuhankan kepercayaan Anda itu. Yang Anda anjurkan sebenarnya adalah agar saya berhenti berpikir, cukup percaya saja dengan yang sudah tersedia di depan saya. Maaf, saya tidak bisa. Saya memilih untuk memakai akal saya untuk menuntun hidup saya. Kalau Anda memilih untuk memakai akal orang lain, itupun pilihan Anda. Mungkin Anda perlu mempertimbangkan untuk mewakafkan otak Anda, bila Anda tidak memerlukannya.

(sumber foto: Zopical)

6 thoughts on “Mendewakan Iman”

  1. Terimakasih sekali ….dari dulu saya juga mempunyai pemikiran seperti ini. Sampai saya bingung harus bicara dengan siapa. Krn saya tumbuh dr keluarga yg sangat kuat beragama Islam….
    Tetapi sekarang lebih banyak orang yang berani menyampaikan pemikiran itu termasuk Kang Hasan….Saya tak merasa sendiri lagi…
    Sehat dan sukses selalu….

  2. Kalimat yang Benar

    Sumber kebenaran adalah Allah. Ini kalimat yang benar. Kemudian Allah tunjukkan kebenaran itu kepada para hamba-Nya. Baik melalui wahyu yang Allah berikan langsung kepada mereka, seperti yang dialami para nabi. Atau melalui keterangan yang dibawa nabi, seperti al-Quran dan sunah. Inilah yang dimaksud dari firman Allah,

    الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ

    “Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu” (QS. al-Baqarah: 147)

    Sehingga siapa yang pemikirannya, aktivitasnya, ucapannya, disesuaikan dengan ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, berarti dia di posisi sesuai kebenaran.

    Sebaliknya, siapa yang tidak mengikuti ajaran beliau, menyimpang dari prinsip agama yang beliau sampaikan, maka dia sesat.

    Allah berfirman,

    وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

    Barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. (QS. an-Nisa: 115)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *