Menafsir Hasrat Politik Yusuf Mansur

yusufUmat Islam yang menolak kepemimpinan Ahok sebagai gubernur karena dia non-muslim masih belum kunjung menentukan siapa calon yang akan mereka usung. Yang paling aktif menyodorkan diri adalah Yusril Ihza Mahendra. Tapi seperti bisa dibaca secara kasat mata, belum ada satu pihak pun yang antusian mendukungnya. Khususnya dari kalangan partai Islam. Mengapa? Alasan pertama, Yusril dalam kalkulasi logis bukanlah tokoh yang cukup populer sehingga bisa menyaingi Ahok. Ahok hanya bisa dilawan oleh orang-orang yang setipe dengan dia, yaitu pekerja. Dulu sempat disebut-sebut 2 nama, yaitu Ridwan Kamil dan Risma. Namun sejauh ini keduanya menolak.

Alasan kedua, Yusril dalam rekam jejak politiknya bukanlah seorang perangkul. Sebaliknya, ia cenderung menjadi orang yang suka berkonflik. Jangankan terhadap partai lain, di dalam partainya sendiri pun ia banyak tidak disenangi. Tak heran bila perolehan suara partainya terus merosot hingga tak lagi bisa memenuhi batas minimal untuk duduk di parlemen.

Lantas siapa yang akan diajukan umat Islam? Beberapa hari ini muncul nama Yusuf Mansur ke bursa pencalonan. Ini jelas menegaskan bahwa umat Islam belum yakin dengan satu nama pun. Mereka belum yakin bahwa nama-nama yang ada saat ini akan punya potensi cukup kuat untuk mengalahkan Ahok. Di samping itu berbagai kelompok politik dalam tubuh umat Islam itu belum menemukan sebuah nama yang bisa memuaskan kebutuhan politik mereka, kecuali dalam hal “asal bukan Ahok”.

Lalu, bagaimana tanggapan Yusuf Mansur? Ia tidak memberi jawaban tegas. Tidak tegas menolak, juga tak tegas menerima. Ia berputar-putar pada basa-basi normatif, seperti “kalau diminta saya mau”, “kalau disuruh alim ulama”, juga “maju atau tidak itu kehendak Allah”.

Dari berbagai retorika yang dia sampaikan saya membacanya sebagai sikap “malu-malu tapi mau”. Di satu sisi Yusuf Mansur sadar betul popularitasnya sebagai ustaz, yang bisa jadi modal awal untuk meraup dukungan. Siapa sih yang tidak kenal dia di Jakarta? Tapi Yusuf Mansur sepertinya sadar juga bahwa popularitas itu tidak bermakna banyak dalam konteks pilkada, khususnya ketika harus berhadapan dengan Ahok.  Maka ia sekarang dalam posisi berhitung.

Apa yang dihitung Yusuf Mansur? Soal untung rugi maju ke pilkada. Pertama, ia sudah mapan sebagai ustaz. Apapun yang akan ia lakukan tidak boleh merusak kemapanan itu. Maju ke dunia politik, kemudian kalah, sedikit banyak akan menggetarkan kemapanan itu. Kedua, seperti diungkap di atas, soal keseriusan dukungan. Siapa sebenarnya yang serius mendukung Yusuf Mansur? Tidak jelas. Kalaupun ada yang mendukung itu hanya kelompok-kelompok yang bukan partai politik. Jadi, Yusuf Mansur mau saja maju, tapi siapa yang mau mencalonkan dia? Itu masalahnya.

Yusuf Mansur sadar sepertinya menyadari bahwa dalam konteks pilkada elektabilitasnya bahkan masih di bawah Yusril. Maka ia menyampaikan ungkapan,”Jangan mendewakan elektabilitas.” Pernyataan itu bisa dibaca secara terang sebagai “sadar diri” atau “kecewa” karena ia belum punya elektabilitas memadai. Dalam konteks politik real tidak mungkin orang bisa mengabaikan elektabilitas. Jadi itu jelas pernyataan absurd yang hanya bisa dimaknai sebagai kekecewaan tadi. Terlebih kemudian pernyataan itu diikuti dengan pernyataan “jalur sajadah”, tidak memakai jalur partai maupun independen. Pernyataan itu bermakna, di kedua jalur itu Yusuf Mansur belum memiliki modal politik yang memadai.

Pernyataan maupun gerakan politik yang dibuat Yusuf Mansur seperti bertemu Yusril adalah penguatan tanda bahwa umat Islam masih bingung soal siapa yang akan diajukan untuk melawan Ahok. Pada akhirnya pilkada DKI nantinya hanya akan berhenti pada persoalan “yang penting bukan Ahok”. Para penantang Ahok akan kehabisan energi untuk membangun dukungan serta kepercayaan diri. Mereka tidak akan punya waktu dan tenaga memadai untuk menyodorkan program.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *