Memikirkan Azab

Ini cerita berulang. Ada suatu kaum yang ingkar pada Tuhan. Tuhan mengirimkan utusan pada mereka, untuk meluruskan. Sebagian menerima, sebagian lagi menolak. Lalu Tuhan menurunkan azab kepada mereka, sehingga mereka binasa. Selesai? Tidak. Ada lagi kaum yang lain, yang ingkar juga. Di akhir cerita kaum ini diazab juga. Lalu ada kaum yang lain lagi. Begitu seterusnya.

Dari kisah berulang itu di benak saya timbul pertanyaan. Kenapa Tuhan perlu mengulang-ulang hal yang sama? Tidakkah terlihat bahwa Tuhan gagal memberi pelajaran kepada manusia, karena masih selalu saja ada manusia yang ingkar dan mereka harus diazab lagi? Tidakkah Tuhan yang maha kuasa punya cara yang lebih efektif yang bisa memastikan bahwa keingkaran manusia tidak akan terulang lagi?

Ketika azab diturunkan, Tuhan tak pilih-pilih. Yang ingkar dan yang patuh kena semua. Bahkan anak-anak yang tak berdosa pun kena. Tuhan, tidakkah Kau punya cara yang lebih efektif dan selektif dalam menghukum hambaMu? Bukankah seharusnya yang ingkar saja yang kau azab.

Orang-orang yang diazab itu binasa. Mati. Selesai. Tapi nanti dulu. Bukankah semua umat manusia yang hidup di muka bumi ini pada akhirnya memang akan mati? Jadi apa maknanya mereka yang ingkar dibinasakan? Tanpa diazab pun toh mereka pasti mati, bukan? Apa bedanya dengan yang tidak diazab?

Lalu, kalau kita perhatikan, azab sering kali terlihat “salah sasaran”. Aceh kena tsunami. Kata sebagian orang ini azab Allah. Tapi kenapa Aceh yang Serambi Mekah? Kenapa bukan Bali yang masyarakatnya adalah penyembah berhala? Kenapa bukan Jakarta yang lebih banyak maksiatnya?

Bila kita tarik lagi ke belakang, masalahnya akan sama. Tuhan menciptakan malaikat dan iblis. Lalu Ia menciptakan manusia. Malaikat dan iblis disuruh sujud kepada manusia. Iblis menolak, lalu Tuhan murka dan mengutuknya. Mengapa iblis disuruh sujud? Untuk mengujinya. Tapi mengapa Tuhan yang maha tahu perlu menguji? Menguji itu adalah cara untuk mengetahui yang tidak diketahui. Tuhan tidak perlu menguji, karena Ia maha tahu.

Lalu iblis meminta hak untuk menggoda manusia, untuk menyesatkan mereka. Tuhan memberi hak itu. Manusia yang berhasil digoda iblis, akan mendapat azab. Tapi kenapa? Kenapa tidak dibiarkan saja manusia hidup menyembah Tuhan tanpa perlu digoda? Atau lebih sederhana, kenapa tidak diciptakan saja para hamba penyembah Tuhan yang patuh?

Lalu orang akan berkata, itulah rahasia Tuhan. Akal manusia yang terbatas tidak akan pernah bisa memahaminya. Bukan. Big no! Sangat jelas bahwa tidak ada hal rumit yang tak bisa dijangkau akal dalam hal ini. Tidak rumit sama sekali. Masalahnya sederhana, yaitu kesemrawutan wacana. Wacananya sejak awal memang parsial, yang kemudian terlihat kacau bila dilihat secara komprehensif. Tapi lebih dari itu. Wacananya memang tidak dibuat untuk manusia yang berada di ruang nalar. Wacananya dirancang dalam setting di mana nalar diistirahatkan, dogma menjadi dominan.

Cerita tentang azab adalah bagian dari kitab suci yang bagi saya mustahil wujud di ruang nyata. Saya menganggapnya hanya mitos yang dipakai untuk mengajarkan nilai-nilai, untuk menggiring orang agar patuh pada suatu tatanan. Cara ini berhasil pada masyarakat ribuan tahun yang lalu. Tapi sungguh menyedihkan bila cerita-cerita ini masih dianggap sebagai kejadian nyata oleh masyarakat ribuan tahun kemudian, ketika sebab-sebab gempa, banjir, atau topan sudah diketahui.

Masyarakat kini tak perlu lagi mempercayai mitos-mitos azab. Kita hanya perlu mempromosikan kebaikan karena kebaikan itu baik. Bukan karena kita takut pada azab Tuhan. Ketiadaan azab Tuhan tidak perlu membuat kita menjadi tidak baik. Kita juga tidak perlu takut untuk memperbaiki definisi-definisi kebaikan, sesuai kebutuhan zaman ini. Tidak perlu mempertahankan definisi kebaikan yang dibuat untuk masyarakat ribuan tahun yang lalu, bila kita rasa definisi itu sudah tidak patut lagi.

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *