Membuktikan Kebenaran Quran

4 November 2015 0 Comments

quranAda banyak orang berikhtiar untuk menunjukkan bukti kebenaran Quran. Dengan apa? Dengan sains! Dengan sains? Apakah orang-orang itu punya sains? Tidak. Lalu? Mereka meminjam sains. Mereka meramu fakta-fakta sains, memberinya tafsir sesuai kebutuhan. Lalu, taraaaa, ini sesuai dengan Quran. Quran sesuai dengan ini.

Orang-orang ini menciptakan kepalsuan-kepalsuan. Mereka bahkan tak jarang menjungkir balikkan kaidah-kaidah tafsir yang dianut para ulama, demi memenuhi hasrat membuktikan tadi.

Saya cukup banyak mengaji sains, juga mengaji Quran. Sejauh yang bisa saya baca, ada yang cocok, ada yang tidak. Quran mengatakan, setiap yang bernyawa pasti mati. Ini cocok. Tak ada sains yang bisa membantah itu, setidaknya hingga saat ini. Sayangnya kecocokan macam begini tak menarik minat para pencocok itu.

Quran mengatakan alam semesta tercipta dalam 6 hari, atau enam masa, atau enam periode. Tak ada kajian sains yang bicara soal enam-enaman ini. Quran mengatakan manusia berpikir dengan hati. Sains mengatakan pusat kontrol pikiran manusia ada di otak. Masih banyak lagi.

Tapi apa masalahnya? Apakah Quran mesti cocok dengan sains? Lha, memangnya sains itu apa, kok mau dipakai menimbang Quran? Katakanlah cocok. Sekarang cocoknya. Sains itu sendiri berubah. Tempo hari orang mengira panas itu zat, kini orang mendefinisikan panas itu bukan zat. Hari ini teori A diyakini sebagai kebenaran, minggu depan teori A dianggap salah, diganti dengan teori B yang diyakini sebagai kebenaran baru.

Tahukah Anda bahwa sains pun tidak mengejar kebenaran mutlak? Sebenarnya dengan sains orang lebih peduli pada manfaatnya ketimbang kebenarannya. Nanoteknologi yang kini dianggap sebagai salah satu yang paling mutakhir ternyata sudah hidup bersama manusia sejak ribuan tahun yang lalu. Orang-orang itu sudah menikmati nanoteknologi tanpa mereka mengetahui kebenaran sains di baliknya.

Tahukah engkau bahwa bukti kebenaran Quran ada pada dirimu? Diri kita! Eh, di mana? Di bagian mana?

Apa sih Quran itu? Panduan hidup. Ia menuntunmu. Maka Quran itu harus dihidupkan. Kebenarannya terletak pada caramu menghidupkannya. Apa yang kita dapat kalau mengikuti petunjuk? “…….la khafun ‘alai’him walaahum yahzanuun.” Tidak akan ada ketakutan, tak ada kesedihan. Maka hiduplah, berbuatlah, sehingga engkau dan orang-orang yang hidup bersamamu tak lagi hidup dalam ketakutan dan kesedihan. Kalau ada orang-orang yang kau saksikan justru membuat orang ketakutan dan menderita, yakinlah bahwa mereka tidak sedang mengikuti petunjuk.

Quran adalah pembawa rahmat, bagi sekalian alam. Rahmat itu kasih sayang. Maka jadilah bagian dari rahmat itu, dengan menebarkan kasih sayang, bukan permusuhan. Quran itu adalah kalam Sang Razak, maka dengan mengikuti petunjukNya, engkau akan makmur. Maka buktikanlah kebenaran Quran itu dengan menjadi makmur dan menebar kemakmuran.

Janganlah engkau mencoba membuktikan bahwa Quran itu pembawa damai dengan membunuhi orang-orang yang tidak pecaya padanya. Karena engkau sedang membuktikan sebaliknya.

Engkau tak perlu mencari bukti-bukti, tapi kau harus membuatnya. Engkaulah bukti itu. Engkaulah yang membuktikan. Seperti sains tadi, kau tak perlu menemukan kebenaran mutlak dalam setiap huruf ayat Quran. Kau hanya perlu menghidupkan pesan-pesan intinya. “Wa man tabi’a hudaya falaa khaufun ‘alaihim walaahum yahzanuun.” Siapa yang mengikuti petunjuk, maka tak ada ketakutan padanya, tidak pula ada kesedihan.

One thought on “Membuktikan Kebenaran Quran”

  1. Asssalamu’alaikum wr.wb. mas Abdurakhman.
    Saya hanya ingin berbagi sudut pandang, karena terkadang kemampuan untuk melihat saja masih kurang karena kita tidak melihat dari sudut-sudut yang melihat keindahan itu.

    1. “Tapi apa masalahnya? Apakah Quran mesti cocok dengan sains? Lha, memangnya sains itu apa, kok mau dipakai menimbang Quran? Katakanlah cocok. Sekarang cocoknya. Sains itu sendiri berubah. Tempo hari orang mengira panas itu zat, kini orang mendefinisikan panas itu bukan zat. Hari ini teori A diyakini sebagai kebenaran, minggu depan teori A dianggap salah, diganti dengan teori B yang diyakini sebagai kebenaran baru.”
    Sains bukan digunakan untuk menimbang Quran, malah sebaliknya Qur’an digunakan untuk menimbang Sains. Sebenarnya dengan statemen Anda sudah jelas bahwasanya Sains itu berubah-ubah dari Teori A ke Teori B, Teori ZC, dst. sedangkan Qur’an? dia FIX ga akan ada yang bisa dikurangi dan ditambahkan padanya. Maka Jika ada teori baru di bidang Sains selanjutnya disandingkan ke Qur’an, match atau berlawanan, atau hanya mendekati? jika match maka benarlah teori itu dan seberapapun orang melakukan riset lanjutan tak akan ada lagi perubahan dan akhirnya dari teori yang dihasilkan dari hipotesis dan riset ini menjadi sebuah Hukum/Fakta. Karena semua yang dikandung Qur’an adalah KEBENARAN ABSOLUT. Tapi mohon maaf kalau tidak semua Sains ada di Qur’an karena it’s a book of Signs, not Science. Jika teori dari riset itu mendekati atau malah berlawanan dengan Qur’an, maka sudah bisa dipastikan bahwa Science itu lah yang salah dan akan terus berkembang dan berubah sampai suatu saat menjadi sebuah Hukum/Fakta yang pasti match dg Qur’an, ya Qur’an sebagai tolok ukurnya karena ia FIX.

    2. “Tahukah Anda bahwa sains pun tidak mengejar kebenaran mutlak? Sebenarnya dengan sains orang lebih peduli pada manfaatnya ketimbang kebenarannya. Nanoteknologi yang kini dianggap sebagai salah satu yang paling mutakhir ternyata sudah hidup bersama manusia sejak ribuan tahun yang lalu. Orang-orang itu sudah menikmati nanoteknologi tanpa mereka mengetahui kebenaran sains di baliknya.”
    Saya kurang mendapatkan “sesuatu yang relevalnt” dari paragrah ini. Lalu apa point nya orang yang meminum jamu dengan orang yang di masa mendatang menemukan bahwa jamu itu memiliki kandungan yang baik untuk kesehatan, padahal orang yang dulu sudah minum jamu itu sejak jaman baheula. Orang menemukan manfaat nanoteknologi untuk selanjutnya bisa diproduksi massal atau bahkan diterapkan untuk coating berbagai macam benda sehingga memiliki sifat unggul yang menguntungkan manusia, tapi itu semua tidak relevant di ulasan ini.

    3. “Ada banyak orang berikhtiar untuk menunjukkan bukti kebenaran Quran. Dengan apa? Dengan sains! Dengan sains?”
    Seakan orang yg berikhtiar dengan Sains adalah sebuah kesalahan. Saya rasa tidak ada yang salah dengan usaha mereka, kenapa?. Karena Qur’an itu adalah MUKJIZAT Nabi Muhammad SAW yang berlaku SEPANJANG MASA, berbeda dengan mukjizaat Nabi-Nabi yang lain sebelumnya yang hanya belaku saat itu juga. Arti dari Mukjizat adalah sesuatu yang MELEMAHKAN. Salah satu mukjizat Nabi Musa adalah tongkatnya yang bisa berubah menjadi ular, the REAL snake, sehingga para tukang sihir (banyak) itu yang hanya memanipulasi pandangan manusia yang melihat seutas tali menjadi terlihat ular langsung lemah ketika melihat tongkat itu benar-benar berubah menjadi ular. Begitupun dengan Qur’an yang merupaka mukjizat sepanjang masa.
    Sebelumnya orang hanya berfikir bahwa hanya otak lah yang bertanggung jawab terhadap rasa kasar, halus, dsb. Sampai akhirnya ada peneliti yang menemukan bahwa ternyata kulit juga memiliki peran terhadap rasa kasar, halus, dsb. Dan ternyata bukti tentang hal ini sudah disebutkan dalam Qur’an sekitar tahun 600 Masehi. dan membuat ilmuan peneliti itu akhirnya masuk islam. Ya karena semua mukjizat itu melemahkan. Ada juga ahli tentang embriologi dunia yang merasa kaget karena hasil penelitian terakhirnya menunjukkan kesamaan dengan apa yang Qur’an sebutkan sekitar 600 Masehi, padahal untuk meneliti embriologi itu dibutuhkan peralatan yang super duper canggih. Bagaimana bisa itu terjadi? itulah bukti keberadaan Alloh SWT. dan masih banyak lagi. BigBang memanglah masih berupa teori, akan tetapi karena itu sesuai dengan Qur’an, Saya berani bertaruh kepada siapapun bahwa BigBang adalah HUKUM awal terbentuknya alam semesta. That’s iman.
    Jadi, usaha untuk mencocokkan Sains dengan Qur’an ini adalah usaha DAKWAH Islami. Karena akan sangat mungkin orang yang tidak mengenal Islam, atau orang-orang kafir atau bahkan orang ateis pun akan terbuka pintu hidayah keimananya. Setelah beriman, mereka tidak perlu lagi bukti-bukti lagi karena mereka sudah naik level ke “Sami’na wa ato’na”, Saya mendengar dan saya patuh. Sekali lagi, Qur’an adalah mukjizat yang melemahkan.

    4. “Dengan apa? Dengan sains! Dengan sains? Apakah orang-orang itu punya sains?”
    Kenapa Sains? karena sekarang adalah zaman nya Sains dan Teknologi. Bukankah anda juga pernah mendengar bahwa Qur’an adalah syair terindah yang mana tidak ada penyair satu pun di dunia ini yang mampu menyaingi keindahanya?? Tapi apakah dengan membandingkan Qur’an dengan Syair terindah buatan manusia orang akan terbuka pintu hidayahnya SAAT INI? Tidaaaakkk.. karena sekarang bukan lagi zamanya Syair, orang tidak mengerti dan tidak terlalu peduli dengan syair. Zaman dulu adalah Zaman Syair, Qur’an was ON TOP of the Tables. Tapi sekarang adalah zaman Sains, dan Alhamdulillah berkat usaha saudara-saudara kita yang membandingkan Qur’an dengan Sains ternyata Qur’an lebih ADVANCE karena sudah tau tentang fakta ilmiah jauh sebelum waktu ditemukan bukti ilmiah itu. kita tidak tau apakah Era yang terjadi di masa mendatang.. Tapi saya saya yakin apa pun Era yang akan terjadi di masa Datang, pasti lah Qur’an is ON TOP of the tables.

    Kalau mas mengaji Qur’an dan Sains, seharusnya mas mendukung usaha dakwah ini, bukan malah sebaliknya menghujat/menyindirnya. Malah membantu untuk menyempurnakan usaha-usaha mereka yang mungkin masih belum mumpuni.

    Terima Kasih, Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

Comments are closed.