Membangun Kompetensi Tambahan

4 April 2016 0 Comments

skillSetelah berkarir di dunia akademik dan riset, tiba-tiba saya pindah ke dunia industri. Bisakah? Tentu ada begitu banyak hal baru yang harus saya pelajari ketika pindah kerja. Tapi sebenarnya saya tak benar-benar mulai dari nol. Perusahaan pada dasarnya adalah sebuah organisasi. Waktu kuliah saya sudah biasa mengurus sebuah organisasi, sehingga saya sudah terbiasa.

Semasa kuliah saya mengurusi sebuah organisasi intra kampus, Jamaah Shalahuddin UGM. Organisasi ini berperan seperti sebuah perusahaan event organizer di kampus. Salah satu kegiatan pentingnya adalah “Ramadan di Kampus”. Kegiatannya memang hanya selama bulan ramadan, namun persiapannya sudah dilakukan 2 bulan sebelumnya. Ketika saya menjadi pemimpin dalam kepanitiaan di tahun 90-an, jumlah panitia yang terlibat mencapai 500 orang. Ini bukan sebuah organisasi yang kecil. Perusahaan yang saya pimpin di Karawang dulu hanya punya sekitar 200 karyawan, dan ketika mulai berdiri hanya punya 50 karyawan saja. Dari sisi jumlah SDM yang dikelola, organisasi kampus yang saya pimpin dulu jauh lebih besar.

Saya sering membuat pemisalan bahwa perusahaan itu adalah sebuah event organizer tadi. Apa kegiatan yang kita selenggarakan? Untuk sebuah perusahaan manufaktur seperti yang dulu saya pimpin, kegiatan yang menjadi tujuan utamanya adalah mengirimkan barang kepada konsumen. Tanggal pelaksanaannya sudah ditentukan, berdasarkan kesepakatan antara bagian penjualan dengan pelanggan. Kegiatan lain seperti produksi, pembelian, dan lain-lain menyesuaikan dengan tanggal hari-H pengiriman tersebut, dengan prinsip hitungan mundur. Kalau hari-H adalah 1 April, maka harus dihitung kapan produksi harus dimulai berdasarkan data produktivitas jalur produksi. Berdasarkan hitungan itu ditentukan pula kapan harus memesan bahan baku beserta jumlahnya. Begitu seterusnya.

Hal seperti itu sudah biasa saya lakukan waktu mengurus organisasi dulu. Perbedaannya hanya pada jenis kegiatannya saja. Dulu kegiatan yang kami selenggarakan berwujud seperti seminar, bakti sosial, dan sebagainya. Namun aspek perencanaan dan pengorganisasiannya sama.

Ada banyak kempetensi ekstra yang bisa diraih mahasiswa melalui kegiatan organisasi ekstra kurikuler seperti saya jelaskan di atas. Keterampilan berorganisasi (mengelola organisasi), kepemimpinan, perencanaan, dan sebagainya adalah hal-hal yang nyaris mustahil didapatkan di bangku kuliah. Mahasiswa tentu saja bisa membaca buku-buku manajemen, tapi hal itu baru akan membawa mereka kepada level tahu, belum sampai ke level terampil. Bagi saya, mencari kesempatan untuk mendapatkan keterampilan mengelola organisasi adalah hal yang sangat penting untuk dilakukan oleh mahasiswa.

Ada banyak lagi keterampilan tambahan yang perlu diraih, misalnya kemampuan menulis, dan berbicara di depan umum. Kemampuan ini sangat penting ketika orang mulai berkarir di dunia kerja. Bagaimana memperolehnya? Lagi-lagi kemampuan ini mesti diperoleh melalui kegiatan ekstra, karena tidak banyak diajarkan di jalur kuliah formal.

Saya dulu sesekali menulis artikel untuk dikirim ke koran. Kalau dimuat, ada honor yang lumayan. Satu artikel di koran bisa menghasilkan honor 50-75 ribu rupiah di masa itu. Nilai itu hampir sama dengan uang kiriman bulanan yang saya terima dari rumah. Jadi tidak bisa dibilang kecil. Ada beberapa teman yang waktu itu rutin menulis di koran, sehingga untuk biaya hidup ia tidak lagi memerlukan kiriman dari orang tua. Tapi terlepas dari berapa honor yang diperoleh, keterampilan menulis adalah keterampilan yang sangat penting bagi perkembangan karir seseorang. Karena itu harus ditumbuhkan sejak masih kuliah.

Kemampuan berbicara di depan umum juga sangat penting. Di dunia kerja orang sering dituntut untuk menyampaikan gagasan atau laporan melalui presentasi. Kalau tidak terbiasa, sangat sulit untuk menyusun materi presentasi, kemudian menyampaikannya secara komunikatif, mudah dipahami pendengar. Berbagai hambatan seperti kesulitan menyusun bahan, design lay out, atau hambatan ketika berbicara (grogi, masalah volume suara), tidak bisa diatasi selain dengan pembiasaan. Karena itu suka atau tidak, mahasiswa harus membiasakan diri, dan untuk itu ia harus mencari kesempatan untuk berlatih.

Bagi saya, kemampuan-kemampuan ekstra seperti yang saya tulis di atas adalah sesuatu yang mutlak dimiliki oleh mahasiswa di luar kompetensi inti yang mereka dapat melalui kuliah formal. Nah, para mahasiswa, sudahkah Anda memilikinya?

 

sumber gambar: lumixcpa.com

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *