Memaknai Pidato Anies di Petamburan

Anies berkunjung ke Markas FPI di Petamburan. Ini terjadi saat elektabilitasnya sedang turun. Agus bertengger di urutan pertama, Ahok di urutan kedua. Pilkada diperkirakan akan berlangsung 2 putaran. Calon dengan suara terkecil, akan terlempar. Maka bisa dipahami arti penting kunjungan ini bagi Anies. Anies harus merebut suara pemilih muslim yang anti Ahok. Saat itu suara itu hendak dilimpahkan ke Agus. Maka Anies harus membuat sesuatu yang bisa membelokkan pandangan dari Agus ke dirinya.

Anies membuka pidato dengan menyebut istilah “Universitas Terbuka Petamburan”. Rizieq dia sebut sebagai “guru kita semua”. Ini adalah sopan santun kepada tuan rumah. Tapi dalam konteks yang lebih luas, maknanya tidak hanya sebatas itu. Rizieq adalah orang yang biasa memaki. Anies pasti tahu itu. Gus Dur dia maki. Said Aqil dia maki juga. Wiranto dia sebut penjilat pantat Cina, dan namanya diganti Wiranti. Orang yang memilih pemimpin non-muslim dia sebut babi. Orang seperti ini dipanggil guru oleh mantan Menteri Pendidikan. Wonderful!

Anies kemudian memuji sebuah makalah yang tadinya dibahas di situ, entah apa isinya. Kata Anies, itu makalah yang hebat, karena catatan kakinya banyak. Kita yang biasa bergelut dengan dunia ilmiah tentu akan tersenyum mendengar ungkapan itu. Kekuatan sebuah makalah ada pada argumennya. Catatan kaki atau referensi, itu pendukung saja. Referensi itu untuk menunjukkan bahwa sudah ada yang mengungkapkan sesuatu, jadi tidak perlu diulang argumennya. Merujuk pada suatu referensi tidak memastikan kebenaran sebuah makalah.

Lalu Anies bercerita soal makalah yang membahas lobi Yahudi. Penulisnya, kata Anies, dipecat dari posisi dekan gara-gara tulisan itu. Validitas pernyataan itu pernah dibantah seorang penulis. Yang menulis paper tadi bukan dekan, dan tentu saja tidak pernah dipecat.

Apa relevansi paper ini dengan acara di Petamburan? Tidak ada. Ini adalah siasat komunikasi belaka. Ada kata kunci “Yahudi”, dan dibahas dalam citra jahat. Itu cara untuk mengkondisikan pikiran orang. Anies sedang membangun atmosfer, bahwa “kita punya musuh yang sama, yaitu Yahudi yang jahat”. Tapi apa hubungannya dengan Indonesia? Di situlah menariknya. Yahudi itu bisa dimusuhi oleh sebab apa saja. Memusuhi Yahudi selalu relevan bagi umat Islam. Jurus itu yang sedang dimainkan Anies.

Lalu Anies membahas aksi 411 dan 212. Ia memujinya. Tentu saja ia memuji dalam konteks bahwa acara ini berlangsung tertib. Tapi pada saat yang sama ia sedang mengirim pesan bahwa “aku ada di pihak kalian”. Apa acara 411 dan 212? Bagi saya itu acara untuk memaksakan kehendak di atas hukum. Tuntutanya adalah tangkap Ahok. Pokoknya Ahok harus dibui, terserah mau pakai mekanisme hukum atau tidak. Anies, meski tidak langsung, memuji kegiatan itu.

Kemudian Anies membahas soal peran orang Arab dalam kemerdekaan. Biarlah, karena saya tak hendak membahas itu. Itu soal yang dalam sejarah memang diakui adanya. Demikian pula klarifikasi Anies soal siapa dia, yang bukan liberalis, bukan Syiah, dan bukan pula Wahabi.

Di akhir pidato, Anies bicara soal kebijakan Ahok. Soal penggunaan lapangan Monas untuk pengajian. “Ini program, ya. Kalau menang nanti, kita tasyakuran di Monas.” Ahok dianggap memusuhi umat Islam, karena tidak lagi mengizinkan pengajian di Monas. Padahal itu berlaku untuk semua acara.

Lalu Anies juga mengritik larangan takbir keliling, sebuah larangan yang sebenarnya sudah diterbitkan sejak zaman Sutiyoso. Daerah lain seperti Jawa Barat dan Jawa Timur juga menerapkan larangan yang sama. Tapi Anies tahu betul bahwa ini adalah salah satu keluhan FPI terhadap Ahok. Maka Anies memainkan isunya. Demikian pula halnya dengan pengaturan penyembelihan kurban.

Inikah program Anies untuk membangun Jakarta? Dengan menjungkir balikkan kebijakan yang sudah ada, agar sesuai dengan selera Rizieq? Boleh jadi itu cuma strategi untuk mendapatkan simpati pemilih. Tapi bagi saya itu tetap tidak sehat dalam demokrasi. Sederhananya, Anies sedang melakukan provokasi.

Bagaimana selanjutnya? Entahlah. Saya hanya merekamnya sebagai fakta bahwa Anies sudah berubah. Dulu ia pernah mengritik keras Prabowo, yang dekat dengan FPI. Bagi Anies, FPI itu ekstremis. Tapi kini, Anies berada di kubu Prabowo, dan mendekat kepada FPI.

Atau, saya yang salah. Bahwa Anies memang begitu sejak dulu. Anies yang rela berubah menjadi apa saja, untuk mencapai tujuannya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *