Melihat Agama dengan Bird’s Eye View

img_1628

 

 

 

 

 

 

 

Bird’s eye view adalah pemandangan yang tampak dari suatu ketinggian. Istilah lain yang juga biasa dipakai adalah aerial view. Secara awam kita bisa pahami seperti pemandangan ke bawah yang kita lihat saat kita berada dalam pesawat yang hendak mendarat.

Bird eye view adalah pandangan dari sudut yang luas. Dalam sudut pandang ini suatu objek bisa kita lihat secara menyeluruh, berikut lingkungan sekitarnya.

Saya sering mengajak orang untuk melihat agama dengan cara ini. Lihat dari berbagai sudut pandang, sejarah, budaya, bahasa, ekonomi, politik, dan sebagainya. Lalu, perlakukan semua objek dengan cara yang sama, dengan melepaskan diri kita dari keterikatan.

Keterikatan sering membuat kita tidak objektif. Kita menjadi tidak adil dalam melihat. Maka cobalah melihat agama kita dengan melepaskan diri dari keterikatan itu. Sesekali kita harus jadi burung yang keluar dari sarangnya, melihat dunia dari suatu ketinggian.

Kita sering melihat orang yang sangat yakin soal kebenaran agamanya. Di luar agama dia, salah. Ia yakin pada kebenaran setiap kata dalam kitab sucinya. Maka, kalau ada narasi lain yang berbeda, itu adalah narasi yang salah.

Cobalah seorang penganut agama A, membaca kitab suci agama B. Apa yang dia rasakan? Kesalahan. Bahkan kekonyolan. Ia akan merasakan betapa salah, betapa konyolnya agama lain itu. Ia makin yakin bahwa agamanya benar.

Agama A dan B dalam contoh di atas bisa agama apa saja. Artinya itu berlaku umum. Kalau dibalik, penganut agama B membaca kitab suci agama A, ia akan merasakan hal yang sama. Kenapa begitu? Karena setiap agama memang mengandung kesalahan dan kekonyolan. Apa yang membuatnya menjadi benar dan tidak konyol? Keterikatan tadi. Keterikatan iman. Begitu Anda beriman, maka kekonyolan itu sirna.

Iman berfungsi memutus circular logic yang ada di setiap agama. Sesuatu yang sebenarnya circular logic, jadi logis, karena iman. Premis iman menegasi atau mengeliminasi bagian yang tak logis pada agama atau kitab suci.

Mengapa sebuah kitab suci benar? Karena dalam kitab suci itu tertulis bahwa ia benar. Apa bukti bahwa sebuah kitab suci itu berasal dari Tuhan? Buktinya adalah Tuhan sendiri menyatakan bahwa kitab suci itu berasal dariNya, sebagaimana tertulis dalam kitab itu. Apa buktinya seseorang itu nabi? Ia punya mukjizat. Apa mukjizatnya? Cerita tentang mukjizatnya tertulis di kotab suci.

Saya sering menemukan, misalnya, orang Islam yang menertawakan ajaran politeisme. Tuhan kok banyak, kata mereka. Bisakah mereka objektif terhadap Tuhan mereka sendiri? Umat lain bisa mengejek dengan cara serupa. Tuhan katanya maha kuasa, kok perlu malaikat untuk melaksanakan berbagai tugas.

Kalau kita lihat sejarah, akan lebih jelas lagi bahwa agama-agama itu penuh dengan klaim-klaim yang tak bisa dinalar, tak bisa dibuktikan. Satu-satunya hal yang membenarkannya adalah iman. Iman itu bukan nalar. Saya percaya, saya beriman, begitulah adanya. Sudah.

Saya sering membuka mitos-mitos agama. Pengamutnya jengkel pada saya. Saya dituduh menghina agama. Bukan. Yang saya buka itu fakta. Saya sajikan, untuk menunjukkan, ini agamamu. Lihatlah agamamu dengan jujur, dari berbagai perspektif. Maka akan kau temukan bahwa agama itu sama saja semuanya. Yang membuat satu agama berbeda dari agama lain adalah iman.

Fanatisme berawal dari keyakinan eksklusif bahwa iman saya paling benar, yang lain salah. Yang salah harus dibenarkan. Tidak ada alasan untuk membiarkan sesuatu yang salah tetap wujud, bukan? Maka, saya dan orang-orang yang seiman dengan saya harus menyebarkan kebenaran, mengeliminasi kesalahan. Mereka harus ditaklukkan, agar bisa diluruskan. Cara pandang seperti itulah yang menjadi energi penaklukan oleh kerajaan-kerajaan berbasis agama di masa lalu. Penaklukan dengan perang. Ketika kedua pihak punya kekuatan seimbang, perang jadi berkepanjangan, berlangsung selama berabad-abad.

Cara berpikir seperti itu pulalah yang memicu berbagai ketegangan antar umat beragama di negeri ini. Bercampur dengan berbagai kepentinan ekonomi dan politik, agama akhirnya tidak menjadi unsur pendamai, justru menjadi bahan bakar kekisruhan.

Maka saya sering mengajak para penganut agama, untuk melihat diri mereka sendiri dari sudut pandang yang lebih luas. Saksikanlah betapa kalian itu sama konyolnya.

 

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*