Melampaui Persaudaraan Islam

“I am really angry with you,” kata teman saya pada suatau hari. Ketika itu saya adalah visiting scientist di Kumamoto University, Jepang. Teman saya itu masih berstatus mahasiswa S3. Kebetulan kami satu fakultas, dan gedung yang kami tempati berdekatan, sehingga di waktu-waktu luang kami sering saling mengunjungi. Dia orang Tunisia. Badannya tinggi besar, dan wajahnya dihiasi jenggot dan cambang. Ketika dia mengatakan hal itu tadi wajahnya memang tampak seram. Tapi saya masih bisa santai dan nyengir, karena saya fikir dia sedang bercanda. Tapi dia bilang sekali lagi dengan tegas, “I am serious, brother. I am angry with you,”katanya.
 
Lalu saya mulai menanggapi dia dengan serius. Ini terjadi tahun 2002. Ketika itu saya baru saja selesai kuliah S3. Selesai belajar saya tidak langsung kembali ke Indonesia, karena ada tawaran untuk bekerja sebagai visiting scientist selama 2 tahun. Saya terima tawaran itu. Karena selama belajar di program S3 saya tidak pulang, saya gunakan sedikit waktu yang ada untuk pulang ke Indonesia. Sekedar berlibur, juga mengurus beberapa dokumen perizinan karena waktu itu saya masih berstatus PNS.
 
Tapi yang terpenting adalah memperkenalkan putri pertama saya ke keluarga di Indonesia. Sarah, putri pertama saya, lahir saat saya sedang menulis disertasi, di musim dingin tahun 2002. Saat saya selesai belajar dia sudah berumur 7 bulan. Seusia itu, hanya kakek dan nenek dari pihak istri saya yang pernah melihat Sarah. Mereka datang berkunjung menjelang Sarah lahir. Anggota keluarga yang lain belum pernah melihat. Maka kami putuskan untuk membawa dia pulang kampung.
 
Menjelang pulang, kami pindah apartemen. Karena sibuk, kami benar-benar hanya memindahkan barang-barang ke apartemen baru. Tidak ada waktu untuk mengeluarkanya dari kardus. Apalagi menatanya. Begitulah. Setelah selama kurang lebih sebulan berkumpul dengan handai tolan, kami pun kembali ke Kumamoto dengan penerbangan malam hari pada rute rute Jakarta-Kuala Lumpur-Fukuoka selama kurang lebih 8 jam, disambung dengan perjalanan darat selama 2 jam dari Fukuoka ke Kumamoto. Sampai di rumah dalam lelah kami harus mulai menata barang-barang pindahan, sambil tentu saja mengasuh bayi.
 
Saat berniat memindahkan sebuah kotak, istri saya merasakan sakit pada pinggangnya, hingga dia tidak bisa bergerak. Sedikit gerakan saja akan membuat dia menjerit kesakitan. Akhirnya dia hanya bisa terbaring tak berdaya. Saya duga ini akibat kelelahan. Sepanjang penerbangan dia harus tidur bersandar di sandaran kursi, sambil memeluk bayi. Ini mungkin memberi beban yang berlebih pada otot-otot punggungnya. Dan kelelahan itu mencapai puncak ketika dia mencoba mengangkat beban berat. Setelah 1-2 jam mencoba meringankan rasa sakit istri saya tanpa hasil akhirnya saya telepon layanan gawat darurat untuk meminta bantuan ambulans. Lima menit kemudian ambulans datang. (Ya, layanan ambulans dan pemadam kebakaran di Jepang diset sedemikian rupa sehingga penelpon bisa mendapat layanan paling lambat 5 menit setelah ia menelpon).
 
Istri saya dibawa ke rumah sakit terdekat. Saya mendampinginya di ambulans sambil menggendong bayi yang baru berumur 9 bulan. Di rumah sakit dokter memutuskan bahwa istri saya harus menjalani rawat inap. Ini adalah masalah. Soal pekerjaan, karena status saya peneliti, saya bisa agak fleksibel dalam soal jadwal. Membolos beberapa hari masih bisa diizinkan, yang penting target pekerjaan nantinya bisa dikejar. Masalahnya adalah bayi saya. Dia harus mendapat air susu dari ibunya beberapa kali sehari. Padahal jarak dari rumah sakit ke apartemen saya cukup jauh, dan saya tidak punya kendaraan (mobil). Yang saya punya hanyalah sepeda. Tidak mungkin jarak itu bisa saya tempuh berkali-kali sehari dengan sepeda. Pun anak saya tidak bisa ikut menginap bersama ibunya.
 
Untunglah “dewa penolong” datang pada saat yang tepat. Sebenarnya lebih cocok saya sebut dengan “dewi-dewi penolong”. Mereka adalah dua orang nenek, orang Jepang. Mereka ini tadinya adalah “murid” saya. Ceritanya saat jadi mahasiswa saya bekerja paruh waktu, mengajar bahasa Inggris. Pesertanya adalah orang-orang tua pensiunan yang ingin mengisi waktu luang, dan ibu-ibu rumah tangga. Bagi saya ini lebih cocok disebut kelompok minum teh karena mereka sebenarnya tidak pernah benar-benar belajar. Yang saya ajarkan minggu ini seringkali tidak pernah benar-benar mereka ingat pada pertemuan berikutnya. Karenanya saya lebih sering mengisi forum ini dengan obrolan tentang berbagai hal, termasuk memperkenalkan budaya Indonesia. Tentu saja dalam bahasa Jepang, bukan bahasa Inggris.
 
Selayaknya klub ibu-ibu, acara di forum ini senantiasa dibumbui dengan pertukaran kue, bumbu dapur, teh, sayuran, buah, atau acar (tsuke mono) hasil karya ibu-ibu itu dalam rangka mengisi waktu luang mereka. Sebagai yang bukan ibu-ibu, apalagi dengan status saya sebagai sensei (guru), saya lebih sering jadi penerima ketimbang penukar. Dan terkadang pemberian itu dalam porsi yang agak berlebihan. Suatu ketika, saat saya menunjukkan minat pada beras organik, dua orang nenek tadi menganugerahi saya dengan sekarung beras. Tepat menjelang saya pulang ke tanah air, mereka menjanjikan akan membawakan lagi sekarung. Karena saya tidak di rumah, saya minta mereka untuk menundanya.
 
Nah, saat berniat mengantarkan beras itulah mereka menemukan saya sedang merana: mengasuh bayi di rumah berantakan, sementara istri saya terbaring di rumah sakit. Mereka, secara otomatis mengambil inisiatif membantu membereskan rumah. Lebih tepat disebut merekalah yang membereskan rumah saya, karena saya lebih banyak mengurus bayi. Duh, saya sampai bingung. Mereka membelikan makanan, juga beberapa perabot kecil yang mereka anggap saya butuhkan. Pada saat diperlukan salah satu dari mereka menyupiri saya ke rumah sakit, agar anak saya bisa menyusu. Setelah 4 hari menjalani rawat inap istri saya diperbolehkan pulang. Karena merasa lega saya mengirim e-mail ke komunitas muslim di Kumamoto, memberitakan bahwa istri saya sakit, tapi sudah sembuh.
 
Inilah yang membuat teman saya tadi marah. Dia menganggap saya lebih memilih orang Jepang, yang non-muslim, sebagai tempat berbagi, ketimbang saudara saya sesama muslim. Saya tidak ingin mendebat teman saya itu, karena saya tahu itu hal yang percuma. Tentu saja saya sadar soal persaudaraan sesama muslim. Saya sering menikmati hal yang indah melalui hal itu. Tapi pada saat yang sama, hal itu tidak pernah membuat saya membatasi pergaulan. Selain itu, soal bantuan tadi cuma soal kebetulan. Kebetulan dua nenek tadilah yang pertama menemukan kami, sebelum saya sempat minta tolong kepada pihak lain. Kebetulan pula mereka ini adalah orang kaya, dalam arti berlebih dalam soal harta, juga soal waktu, karena mereka pensiunan. Bantuan-bantuan yang mereka berikan kepada saya kecil nilainya untuk ukuran finansial mereka. Itu tentu jumlah yang besar bagi anggota komunitas muslim kota kami yang sebagian besar adalah mahasiswa itu. Lalu, dua orang nenek ini punya waktu luang hampir sehari penuh, yang tentu saja tidak dimiliki oleh seorang mahasiswa asing di Jepang. Jadi saya sedikit merasa nyaman kalau saya “hanya” merepotkan dua orang nenek ini, tanpa perlu merepotkan rekan saya yang lain. Toh bantuan dari mereka sudah lebih dari cukup. Makanya saya memilih untuk tidak mengabarkan situasi keluarga saya sampai istri saya sembuh.
 
Kembali ke soal persaudaraan muslim. Saya sering menikmati hal ini. Banyak teman saya sesama pelajar asing di Jepang dari berbagai bangsa yang tanpa pamrih membantu saya dalam berbagai hal. Ini bagi saya luar biasa indah, mengingat kami tidak punya hubungan kekerabatan. Bertemu saja karena kebetulan, sama-sama berada di negeri asing. Tapi setelah saya fikir lagi, tidak hanya agama yang bisa mengikat demikian kuat. Ada teman saya sejak sama-sama masih belajar bahasa Jepang di Kuala Lumpur, orang Filipina, katolik, yang juga sangat dekat hubungannya dengan saya. Dia malah merasa saya lebih dekat daripada teman dia sesama orang Filipina.
 
Ada pula seorang nenek Jepang yang lain. Anak perempuannya sempat belajar bahasa Indonesia pada istri saya. Namun hubungan kami melampaui hal itu. Dia rutin mengunjungi kami. Saat saya harus ke luar kota untuk urusan kuliah, dia sampai menginap di apartemen saya, menemani istri dan bayi saya. Ini terjadi beberapa kali.Dan masih banyak yang lain. Tidak bisa saya sebut satu-satu. Intinya, kami berteman, saling membantu, tanpa perlu ada ikatan khusus yang mempertautkan, kecuali, tentu saja, bahwa kami sama-sama manusia.
 
Persaudaraan Islam, bagi saya sangat indah. Tapi ini masih membutuhkan sebuah syarat: bahwa kita seagama. Persaudaraan antar sesama manusia adalah persaudaraan tanpa syarat. Persaudaraan Islam, kadang saya rasakan berat syaratnya. Karena ada semacam keharusan untuk meninggalkan atau setidaknya mengurangi persaudaraan dalam bentuk lain, dengan umat lain, seperti yang diekspresikan oleh teman saya tadi. Ini kadang terasa sebagai beban. Dan saya memilih untuk melampauinya.

3 thoughts on “Melampaui Persaudaraan Islam”

  1. Anda masih keliru dalam mengartikan persaudaraan Islam. Lebih banyak lagi belajar dari beberapa ustadz dan ulama. Persaudaraan Islam lebih dari persaudaraan antar agama kalau betul-betul didasarkan pada aturan Islam, bukan pada logika berpikir manusia apalagi hawa nafsu.

    1. Anda bilang bahwa itu salah tapi tidak menunjukan yang seharusnya bagaimana, bagi saya anda cuman men-judge penulis bahwa ilmu agamanya kurang. It’s pathetic.
      Bagi saya tindakan baik, dan sikap yang baik bisa diterima dan ditujukan dari dan oleh siapapun. Dalam kasus penulis dia tidak ingin merepotkan kawan muslimnya, dan kebetulan yang bersedia untuk membantu adalah kedua nenek tersebut. Lantas menurut saya memang tidak selayaknya pria Tunisia itu marah.
      Wallahu a’lam..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *