Masak, Makan, dan Komunikasi

masak

Sudah dua kali saya membangun rumah. Ya, membangun, bukan membeli. Prinsip saya tentang rumah adalah bahwa rumah harus dibangun sesuai kebutuhan penghuninya. Bukan sebaliknya, penghuni harus menyesuaikan diri dengan bangunan rumah. Karena itu saya memutuskan untuk membangun rumah, dengan desain sesuai kebutuhan saya, bukan membeli rumah yang sudah jadi.

Kedua rumah itu saya bangun dengan konsep yang sama. Saya minta arsitek untuk mewujudkan konsep itu ke dalam design teknis. Konsepnya adalah sebuah ruang keluarga, menyatu dengan ruang makan, dan berhubungan langsung dengan dapur, sebagai pusat rumah. Di situlah pusat kegiatan seluruh anggota keluarga. Selebihnya, ruang tamu yang kecil dan terisolasi dari ruangan lain, dan kamar tidur untuk suami istri, dan untuk anak-anak. Rumah saya yang sekarang memiliki sedikit ruang untuk taman kecil di belakang dan samping rumah. Jadilah ruang utama di rumah kami dilengkapi dengan akses ke udara luar yang memadai.

Dapur saya buat agak lengkap dan rapi. Lemari dan rak yang memadai untuk menyimpan seluruh peralatan dan bahan yang diperlukan di dapur. Dengan ini dapur terasa lapang dan nyaman. Dapur saya berhubungan langsung dengan ruang makan. Hanya dipisahkan oleh sebuah konter, dari ruang keluarga/ruang makan, bisa langsung memandang ke arah dapur.

Pusat kegiatan kami di ruang keluarga tadi. Sore/malam hari saat pulang kerja saya berkumpul dengan anak istri. Makan malam, lalu main bersama anak di ruang keluarga. Kadang diselingi dengan kudapan ringan yang kami buat di dapur. Pagi hari saya biasanya membuatkan sarapan untuk anak-anak. Saya tanyai satu persatu, apa yang mereka inginkan, dan saya buatkan. Mereka menunggu di meja makan, atau ikut membantu di dapur. Minimal mereka menyiapkan piring, sendok, gelas ke atas meja.

Di hari libur saya lebih sering masak. Di samping karena saya memang suka masak, dan tentu saja suka makan, saya menjadikan kegiatan memasak sebagai media komunikasi dengan keluarga, khususnya anak-anak. Dengan memasak kami bersama menyiapkan bahan, engolah, menghidangkan, dan menikmatinya.

Ada suatu masa di mana kami sering keluar rumah di akhir pekan. Main di luar, lalu makan di tempat-tempat yang kami inginkan. Itu suatu kegiatan yang menyenangkan. Tapi jujur saja, itu melelahkan. Juga melelahkan dari sisi finansial. Waktu itu kami memang belum menempati rumah sendiri, masih di rumah kontrakan, yang desainnnya tidak senyaman sekarang. Kini di rumah sendiri saya lebih suka menanyai anak istri, mereka mau makan apa. Dan saya masakkan untuk mereka.

Seperti sering saya tulis, anak-anak sebenarnya membutuhkan kehadiran orang tua bersama mereka. Setidaknya sebelum mereka menjadi remaja. Jadi, tak penting benar apakah mereka dibawa berlibur ke tempat wisata, mal, atau ke manapun. Yang penting mereka bisa menikmati kebersamaan.

Dapur dan ruang makan bagi keluarga kami adalah tempat untuk membangun kebersamaan itu. Anak-anak juga menikmati aktivitas itu. Bahkan Kenji sejak baru 2,5 tahun  selalu ribut ingin ikut terlibat kegiatan masak di dapur. Masing-masing anak saya punya menu favorit. Kenji, meski angin-anginan, suka bubur havermut. Ghifari suka omelet keju untuk sarapan, dan ikan atau ayam goreng untuk makan siang dan malam. Sarah punya lebih banyak makanan favorit. Mulai dari gulai kambing, ikan asam pedas, soto, dan lain-lain. Istri saya biasanya suka minta dibuatkan nasi goreng, steak, atau sate.

Setelah anak-anak tumbuh besar, mereka tak sekedar punya menu favorit untuk dimakan, tapi untuk dimasak. Ghifari suka makan dan masak ayam goreng dan martabak manis. Sarah kini sudah bisa berbagai jenis masakan. Kenji suka masakan yang memakai tepung. Mengaduk-aduk tepung sepertinya kenikmatan utama bagi dia.

Dapur juga menjadi tempat eksplorasi, mencoba hal-hal baru. Kami sering meniru masakan yang kami rasakan di restoran. Kalau berhasil mendapatkan rasa yang sama atau lebih enak, itu sungguh menggembirakan. Sesekali kami juga mencoba memasak makanan yang kami lihat di acara masak di TV.

Mungkin Anda mau mencoba cara saya? Jangan khawatir atau menyerah dengan alasan: saya tidak bisa masak. Kalau Anda bisa bikin anak, Anda pasti bisa masak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *