Mas Nur, Kristen yang Santun

10 March 2016 2 Comments

Saya mengenal Mas Nur tahun 1989, waktu saya kuliah tingkat 2. Waktu itu di fakultas, oleh panitia Maulid saya diminta jadi ketua panitia. Acaranya waktu itu adalah seminar dakwah Islam menghadapi era informasi. Waktu itu sedang hangat-hangatnya orang membahas ramalan Alvin Toffler tentang revolusi informasi. Nah, siapa yang akan diundang? Pembicara utamanya adalah Alwi Dahlan, pakar komunikasi. Siapa dia? Saya pun tak tahu betul. Tapi ada yang membisiki, beliau ini teman dekat Pak Koesnadi, Rektor UGM. Jadi kalau mau mengundang lebih baik lewat Pak Koes.

Berkah pertama yang saya rasakan dengan menjadi ketua panitia adalah berkenalan dengan Pak Koes. Kalau mengenang beliau selalu saya tak bisa menahan air mata. Tentang Pak Koes nanti akan saya bahas dalam tulisan tersendiri. Singkat kata, saya berkunjung ke rumah dinas rektor untuk bertemu Pak Koes. Memakai sarung, berbaju koko, dan berpeci, Pak Koes menemui saya. “Kami mau mengundang Pak Alwi, Pak,” kata saya, lalu saya jelaskan proposal seminar. Pak Koes kemudian meraih pesawat telepon, langsung menelepon Pak Alwi. Ampuh! Pak Alwi langsung setuju untuk hadir. Saat berpamitan Pak Koes berpesan,”Untuk komunikasi selanjutnya silakan berhubungan dengan Mbak Tri, sekretaris saya.”

Mbak Tri sekretaris Pak Koes itu sungguh orang yang sangat ramah dan baik. Dia tidak sendiri. Ada Mbak Cuk dan Mas Nur. Ketiganya sungguh orang yang sangat baik hati. Saya kira tidak hanya saya yang akan bersaksi demikian. Seluruh mahasiswa yang aktif di senat maupun UKM UGM dan berurusan dengan kantor rektor pada zaman itu akan bersaksi sama soal mereka.

Salah satu fasilitas yang saya dapat waktu itu adalah memakai telepon untuk menelepon Pak Alwi. Zaman itu belum ada HP. Kalau menelepon interlokal ke Jakarta, pada siang hari, cukup untuk membuat stress. Bicara beberapa menit saja sudah puluhan ribu habis, padahal anggaran panitia tidak seberapa. Nah, adanya izin memakai telepon di kantor rektor itu sungguh berkah yang luar biasa. Beberapa kali saya datang, meminjam telepon, dan selalu diizinkan Mbak Tri dengan senyum ramah. Sejak itu hubungan dengan trio staf rektor itu menjadi sangat akrab. Hubungan terus berlanjut sampai rektor berganti dari Pak Koes ke Pak Adnan.

Pada masa itu kampus UGM belum punya mesjid. Ada mesjid Mardhiyah di dekat RS Sarjito, tapi itu masjid milik masyarakat, tidak di bawah organisasi UGM. Kami menyelenggarakan salat jumat dan tarawih di Gelanggang Mahasiswa. Meski bukan mesjid, dulu tempat ini favorit bagi anak-anak muda Yogya. Jamaah tarawih kami setiap Ramadan selalu memenuhi aula, bahkan tumpah ruah ke boulevard di pintu masuk kampus. Meski Gelanggang boleh dipakai, tetap saja ada keinginan untuk membangun mesjid.

Panitia pembangunan mesjid dibentuk. Pak Koes jadi ketua. Kami dari Jamaah Shalahuddin, unit kerohanian Islam UGM waktu itu diminta membantu. Saya ikut serta jadi panitia, walau tak jelas juga apa kerja yang dibebankan. Rencana pengumpulan dana disusun. Calon lokasi pembangunan mesjid adalah bagian barat kampus yang saat itu masih berupa kuburan Cina. Waktu itu kabarnya Sultan sudah menyetujui untuk memindah makan itu dan menghibahkan tanahnya untuk UGM.

Suatu hari berhembus kabar burung, katanya pihak Kristen juga ingin mendapat jatah tanah di kampus, untuk mendirikan gereja. Sebagai aktivis muslim saya dan teman-teman tak rela. Masak mesjid kita mesti berdampingan dengan gereja. Waktu itu sebenarnya hati kecil saya sempat berbisik, emang apa salahnya? Tapi semangat kawan-kawan untuk menolak gereja itu membuat saya mengabaikan bisikan kecil itu.

Kami segera meminta waktu rektor untuk menanyakan masalah ini. Pada hari yang dijanjikan kami pergi. Sambil menunggu giliran, kami berbincang akrab dengan Mas Nur. Kami bahaslah soal rencana pembangunan gereja ini. “Ini akan mengganggu syiar dan dakwah Islam di kampus. Nanti kampus akan jadi ajang Kristenisasi,” kata kami bersemangat. Mas Nur tampak manggut-manggut mendengar penjelasan kami. Mbak Tri mendengarkan dari jauh.

Tak lama setelah itu Mas Nur pamit keluar ruangan, ke toilet, Mbak Tri mendatangi kami. “Mas-mas iki piye to? Mas Nur itu Kristeeeeen…..” katanya. Gubraaaak, Eh, zaman itu kalau jatuh bunyinya masih gedebuuuuuk, belum gubrak. Muka kami langsung merah padam. Tidak ada yang menyangka Mas Nur itu Kristen. Lha namannya Nur. Santun dan lembutnya, masya Allah. Kalau kami sapa dengan salam dia menjawab dengan sopan. Matik aku.

Tak lama kemudian Mas Nur kembali, tetap mengajak kami berbincang dengan ramah. Tapi kami semua sudah salah tingkah. Kemudian kami diundang masuk ke ruang rektor. Rektor menegaskan bahwa kabar tadi tidak benar. Kami berpamitan, lega. Di luar Mas Nur tetap melepas kami pergi dari kantor rektor dengan senyum yang ramah. Setelah itu pun sikap dia tak pernah berubah.

Kini saya mencoba merenung, apa yang ada di benak Mas Nur melihat kami waktu itu? Mungkin ia menahan marah. Ia sadar sebagai minoritas ia harus bersabar menghadapi bigot seperti kami. Atau, dengan kasih yang diajarkan Tuhannya, ia justru mendoakan agar kami diberi petunjuk ke jalan terang.

 

 

2 thoughts on “Mas Nur, Kristen yang Santun”

  1. Kanh Hasan, sungguh luar biasa. Saya salut dengan Anda kang. Terima kasih sudah banyak berbagi melalui blog ini. Tuhan berkati ya Kang. Amin.

  2. Menurut saya, mas Nur ini sudah terbiasa menghadapi hal2 seperti itu.
    Salut buat bang Abdurakhman juga yang mau terbuka dan berusaha mengkritik dari dalam.
    Orang indonesia susah sekali dikritik dari luar.
    Dan anda memulainya dari dalam.
    Tuhan memberkati ya bang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *