Macet Libur Panjang

tol

 

 

 

 

 

 

 

Kejadian berulang setiap libur akhir pekan panjang, jalan macet ke arah luar kota Jakarta. Imbasnya tentu sampai ke dalam kota. Tapi apa sebabnya? Itu masih misteri.
 
Sejak awal pekan saya sudah merencanakan untuk liburan ke Cirebon. Saya sudah antisipasi untuk berangkat lebih cepat, karena kalau petang pasti macet parah. Jam 11.20 lewat saya sudah keluar dari kantor menuju arah Cikarang. Sekitar jam 12 di Bekasi Barat sudah macet, meski tidak parah. Walhasil, jarang dari kantor ke rumah yang dalam kondisi lancar bisa ditempuh 1 jam, molor menjadi 1,5 jam. Saya langsung menjemput anak-anak ke sekolah.
 
Sekitar jam 1 siang dari pantauan Google Map sudah terlihat kemacetan di suatu titik menjelang simpang susun Karawang Timur. Saya buru-buru bersiap, dan jam 3 keluar dari rumah. Begitu masuk tol di simpang susun Cikarang Timur langsung berhadapan dengan kemacetan parah. Jalan merambat, 1 jam berlalu, belum juga tiba di Karawang Barat. Ketika akhirnya lolos dari kemacetan, waktu sudah menunjukkan pukul 5 petang. Jadi jarak tempuh kurang dari 20 km harus ditempuh dalam waktu 2 jam.
 
Ada apa di titik sumber kemacetan? Tidak ada apa-apa. Di situ hanya ada tempat istirahat kecil yang terlihat padat. Orang parkir sampai luber ke jalan. Tapi apa yang menyebabkan kemacetan? Tidak ada yang khusus.
 
Ada beberapa titik kemacetan sepanjang jalan tol ke arah timur dari Jakarta. Pertama di Bekasi Barat, setelah simpang susun Cikunir. Ada tikungan di situ, mirip dengan tikungan di Halim. Di situ selalu jadi titik pangkal kemacetan yang imbasnya akan sampai ke simpang susun Halim, terus merambat sampai ke Semanggi dan Tomang. Kemacetan di simpang susun Halim akan berimbas juga ke jalan tol dalam kota, hingga ke Kelapa Gading, Priok, Pluit, dan Bandara. Kalau sudah macet di Bekasi Barat, maka seluruh jalan utama Jakarta akan macet parah.
 
Titik kedua adalah gerbang tol Cikarang Utama. Ini kemacetan karena orang harus berhenti sejenak untuk mengambil kartu tol. Mesin pengeluar kartu lambat reaksinya, sehingga jadi biang kemacetan.
 
Titik ketiga, tempat istirahat sebelum Karawang Timur tadi.
 
Kondisi terparah dicapai ketika ekor kemacetan Karawang Timur sampai menyentuh Cikarang Utama, ekor Cikarang Utama menyentuh Bekasi Barat, dan imbas macet Bekasi Barat sampai ke Tomang di satu sisi, Kelapa Gading sampai bandara, di sisi lain.
 
Apa yang dilakukan polisi? Nyaris tidak ada. Biasanya mereka hanya memberi sedikit perhatian di Cikarang Utama. Di titik macet Karawang Timur tak terlihat polisi yang mengatur.
 
Kemacetan berulang ini terjadi karena kondisi jalan, seperti tikungan Bekasi Barat, dan gerbang tol Cikarang Utama. Tapi juga disebabkan oleh perilaku pengemudi. Parkir seenaknya di bahu jalan tol adalah sebab utama kemacetan. Saat macet, 2 jalur jalan dipenuhi truk yang akselerasinya rendah, sehingga memperparah kemacetan. Lalu kebiasan lain, “melihat kiri kanan”. Tanpa sadar orang membuat kemacetan dengan cara ini. Sangat sering terjadi kecelakaan di suatu arah jalan tol juga menyebabkan kemacetan di arah sebaliknya. Kenapa? Karena pengendara di arah sebaliknya meski tidak terhambat cenderung memperlambat kendaraan untuk melihat apa yang terjadi.
 
Periku lain adalah zigzag dan saling serobot. Kemarin selama jarak tempuh Cikarang-Karawang ada beberapa kali mobil bersirine memaksa lewat bahu jalan sebelah kanan, diikuti beberapa mobil yang berlagak seolah bagian dari rombongan.
 
Jadi, kenapa macet parah? Kita yang membuatnya. Perilaku kita dalam mengemudi membuat kita susah sendiri. Ditambah ketidakpedulian aparat. Titik-titik kemacetan seakan tidak pernah dianalisa dan dicarikan solusinya. Kita seperti terbiasa menganggap sesuatu sebagai bencana “langganan” tanpa tahu apa penyebabnya, dan bagaimana menyelesaikannya.
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *