Logika 3 in 1

grey

Peraturan yang menetapkan jumlah penumpang mobil minimal 3 orang di beberapa kawasan di Jakarta pada waktu tertentu yang kita kenal dengan istilah “3 in 1” akan dihapuskan. Uji coba penghapusannya sudah dimulai kemarin.

 
Banyak orang termasuk saya pernah mengakali aturan ini dengan memakai jasa joki. Kita tambahkan 1 atau 2 orang di mobil kita, maka kita boleh masuk ke kawasan tadi. Secara substansi kita tidak memenuhi syarat untuk masuk ke kawasan itu, tapi kita membuat diri kita memenuhi syarat. Kita sebenarnya tidak sesuai dengan peraturan, tapi kita menyesuaikan diri dengan peraturan. Salahkah? Secara legal formal tidak. Polisi tidak dapat menindak kita. Tapi secara substansi bisa salah.
 
Inilah yang disebut wilayah abu-abu. Di dunia ini ada begitu banyak wilayah perbatasan antara hitam dan putih, yang berwarna abu-abu. Kita biasa bermain di wilayah ini, sampai mepet dengan wilayah hitam, tapi kita jaga agar kaki kita tidak masuk ke wilayah hitam. Tak jarang pula kita bekali diri kita dengan perlengkapan tertentu, sehingga kita masih bisa mengklaim berada di wilayah abu-abu atau bahkan putih, saat kaki kita sudah masuk ke wilayah hitam.
 
Di mailing list Jurnalisme, tempat diskusi para wartawan, pernah ada diskusi panjang tentang wartawan yang “bertugas” meliput perjalanan haji dengan biaya APBN. Banyak aspek etika yang diperdebatkan di situ. Patutkah wartawan memakai uang rakyat untuk penugasan seperti itu? Bukankah seharusnya ia memakai dana dari perusahaannya sendiri? Akankah mereka tetap independen dalam memberitakan?
 
Karena ini wilayah abu-abu, perdebatan menjadi panjang. Ada yang menganggapnya tidak patut, karena bertentangan dengan peruntukan uang negara dan mengganggu independensi. Tapi ada pula yang tidak keberatan. Malah ada wartawan senior yang dengan polos menyatakan bahwa fasilitas itu adalah salah satu jalan yang disediakan Allah bagi hambaNya untuk mendatangi rumahNya.
 
Berbekal logika “tidak menyalahi prosedur”, tidak sedikit wartawan yang berburu kesempatan untuk meliput. Niatnya pergi naik haji gratis. Tapi kamuflasenya adalah meliput. Secara prosedur sudah benar. Tapi sekali lagi, niat yang paling inti bukan untuk meliput.
 
Niat? Persoalan ini menjadi wacana diskusi sekarang, bukan? Ada kasus yang prosedurnya sesuai. Lebih tepatnya disesuaikan. Tapi nyata bahwa ada niat untuk melanggar. Sebaliknya, ada kasus di mana prosedur tidak sesuai benar, tapi bisa jadi memang tidak ada niat untuk menyeleweng.
 
Pada Pemilu 2009 ada kawan saya yang jadi anggota KPU. Dalam diskusi di mailing list banyak orang mempertanyakan tindakannya. Para anggota KPU waktu itu rajin benar bepergian ke luar negeri dengan alasan melakukan sosialisasi kepada PPLN, sementara di dalam negeri banyak sekali masalah yang terbengkalai. Kawan ini berargumentasi panjang lebar untuk membenarkan tindakannya, sambil membawa-bawa nama Allah. Tapi ada beberapa hal kecil yang menunjukkan apa niat dia sebenarnya dengan kunjungan-kunjungan itu. Di akun Facebook miliknya ia memajang foto-foto saat bersafari, dengan keterangan:”Bersafari bersama rekan-rekan PPLN”.
 
Perjalanan dinas adalah suatu hal yang sering menjadi wilayah abu-abu. Bolehkah saya membawa istri/keluarga? Kan biaya dia tidak pakai uang kantor. Kan tidak ada tambahan biaya. Kan tidak melanggar prosedur. Ada begitu banyak “kan” yang kita sampaikan, untuk membuat diri kita lupa bahwa kita akan melakukan perjalanan kerja, bukan berlibur.
 
Bukankah sering kita dengar cerita itu? Sering kita saksikan pejabat negara atau anggota DPR membawa rombongan keluarga dalam perjalanan dinas. Mereka mengungkapkan begitu banyak alasan untuk membenarkannya. Sekali lagi tindakan itu tidak sesuai dengan peraturan, tapi mereka menyesuaikan diri, agar sesuai dengan peraturan. Mereka merasa tidak salah, tapi publik tetap saja melihatnya tak pantas.
 
Karena ini wilayah abu-abu, ada ribuan cara yang bisa dipakai untuk membenarkannya. Pada saat itu kita perlu bertanya langsung pada diri kita dan menjawabnya dengan sangat jujur: “Benarkah yang saya lakukan ini?” Jawaban sebenarnya akan keluar meski kita berusaha membantahnya.
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *