Lelaki Dayus

11 January 2017 0 Comments

Dayus artinya hina budi pekertinya. Di kampung saya kata ini lebih sering dilekatkan pada laki-laki. Laki-laki pengecut, tidak punya tanggung jawab dan kehormatan. Macam apa itu?

Salah satu bentuknya adalah yang tidak menafkahi istri dan anak-anak. Tidak bekerja, tidak bertanggung jawab, tidak punya malu.

Dalam berbagai interaksi saya berkenalan dengan banyak orang. Sebagian darinya adalah janda-janda yang akhirnya memilih hidup menjanda karena suaminya tidak bertanggung jawab. Istrinya kerja, lakinya tak jelas apa kegiatannya. Ada yang mengaku berbisnis, tapi tak jelas wujudnya. Alih-alih menambah penghasilan, ia jadi penggerogot nafkah yang dikumpulkan istrinya.

Laki-laki semacam ini memang sepantasnya ditinggalkan. Tapi perempuan sering tak mudah membuat keputusan itu. Salah satu sebab utamanya adalah status janda yang serinh dipandang rendah itu. Ada banyak perempuan yang harus menahan derita bertahun-tahun, tak berani memutuskan untuk bercerai.

Kenapa ada orang seperti itu? Pertama, tidak punya malu, atau sudah bebal. Tadinya malu, tapi sekarang cuek saja. Atau, dia punya malu, tapi tidak cukup kuat untuk mendorongnya menjadi lebih bertanggung jawab.

Kedua, soal manajemen diri. Ada orang yang memang bahkan tidak bisa bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Ia tak punya keahlian maupun keterampilan, karena tak pernah membangunnya. Ia mau yang serba instan. Mimpi dalam angannya, ia harap bisa menjadi nyata dengan mudah, oleh berbagai kebetulan.

Ketiga, rendah diri. Istrinya bekerja, lebih dari dia. Alih-alih itu memberinya semangat untuk berkembang lagi, ia malah terpuruk jadi rendah diri, dan salah tingkah. Ia terjebak mencari jalan-jalan instant, agar segera bisa menyalip istrinya.

Adakah solusinya? Sulit. Orang seperti ini harus diinstall ulang. Perlu cuci otsk, kemudian dibimbing dalam bentuk coaching. Tapi sejak awal dia harus punya komitmen dulu.

Yang mungkin diperbaiki adalah orang dayus pada stadium awal. Istri harus lapang dada, mengulurkan tangan, mengalah, untuk membantu mengangkat dia.

Dalam banyak kasus yang saya lihat, jarang ada yang mau berubah. Kebanyakan istrinya mengalah dengan kesabaran tingkat super, atau akhirnya bercerai.

Akan lebih baik kalau para wanita tajam dalam menyeleksi calon suami. Jangan cari yang ganteng atau romantis saja. Kritislah dalam menilai tanggung jawabnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *